
"Siapa yang mengatakan nya kepadamu?" tanya Chelsea. Akan tetapi, Ronald hanya diam tak bergeming.
"Ronald, aku bertanya padamu, siapa yang mengatakan itu?" ucap Chelsea setengah berteriak yang membuat Ronald langsung menatap nya.
"Rey yang mengatakan nya." Chelsea mengernyitkan dahi nya.
"Rey? apa yang kau maksud itu, Rey suami nya Bella?" Ronald pun mengangguk.
"Kau di bohongi nya!" ujar Chelsea yang membuat Ronald langsung menatap ke arah nya.
"Aku saja belum menikah, bagaimana bisa aku memiliki anak!" lanjut nya lagi, Ronald menatap Chelsea seakan tidak percaya.
"Apa kau serius?" tanya Ronald antusias dan Chelsea pun mengiyakan nya. Seketika itu, senyuman di bibir Ronald langsung mengembang dengan sempurna.
"Tapi, kenapa Rey mengatakan itu padaku?" tanya Ronald keheranan.
"Kalau aku tidak berbicara seperti itu, mungkin sampai saat ini kau belum mengungkapkan perasaan mu kepada Chelsea," Tiba-tiba terdengar suara bariton dari belakang sana, ternyata pemilik suara itu adalah Rey.
Ketika menyuruh Ronald pergi ke rumah Chelsea, Rey pun langsung mengambil mobil nya dan mengikuti Ronald dari belakang. Rey takut terjadi sesuatu pada sahabat nya itu, karena ia pergi dalam keadaan sedang patah hati.
Mendengar suara yang sangat familiar di telinga nya, Ronald langsung membalikkan tubuh nya menghadap ke arah Rey.
"Rey," ucap Ronald dan Rey hanya tersenyum tanpa merasa bersalah.
"Aku akan berurusan dengan mu nanti!" seru Ronald dengan nada sedikit mengancam. Rey tidak menanggapi nya.
"Chelsea ... kau sudah mendengar semua yang aku katakan tadi, kan. Aku sangat mencintaimu, Chelsea," Hari ini Chelsea sudah mendengar kata-kata itu berulang kali. Ia bingung harus menjawab apa.
"Chelsea ... aku takut kalau kau sudah menikah, jadi untuk siapa hati ku ini kalau ternyata kau sudah memilih orang lain," tutur Ronald dengan suara yang semakin memberat.
"Chelsea ... ayo menikah!" ucapan Ronald itu bukan nya membuat Chelsea terharu, malah sebalik nya, Chelsea langsung tertawa mendengar nya.
Chelsea memegang dagu Ronald dan mengangkat wajah lelaki itu sampai menghadap ke arah nya. Lalu di tatap nya dalam-dalam mata Ronald.
"Kau ini lucu sekali!" ucap Chelsea di selingi dengan tertawa. Ronald menyipitkan matanya.
"Mana ada orang mengajak menikah seperti ini. Kau ini seperti sedang mengajakku pergi bermain," ucap Chelsea lagi. Ronald langsung mendudukkan lututnya di hadapan Chelsea, di ambil nya sesuatu dari dalam salah satu saku celana nya.
Terlihat kotak kecil yang sedikit simple, di bukanya kotak tersebut dan nampak lah sebuah cincin yang sederhana tetapi terkesan mewah. Ronald mengambil cincin tersebut dan memegang tangan Chelsea.
"Will you marry me, Chelsea?" Ronald menatap lembut mata Chelsea. Mata tersebut menyiratkan akan keseriusan yang sangat dalam. Tidak ada sedikit pun keraguan disana yang membuat Chelsea terharu melihat nya.
"Dari sejak pertama aku bertemu denganmu, aku langsung membuka hatiku untukmu dan tidak pernah membuka nya lagi untuk orang lain. Sudah 9 tahun ku pendam perasaan ini. Aku ingin mengungkapkan perasaan ku padamu sejak lama, akan tetapi aku merasa belum pantas untuk bisa bersanding dengan mu,"
"Tapi sekarang, aku sudah tidak perduli lagi tentang itu. Hal yang aku takutkan saat ini hanya satu, aku takut kau menjadi milik orang lain, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya diriku jika itu benar-benar terjadi,"
"Jadi, sekali lagi ku katakan padamu. Will you marry me, Chelsea?" Chelsea langsung menitikkan air mata nya, ia begitu terharu dengan apa yang dilontarkan oleh lelaki yang saat ini ada di hadapan nya. Chelsea menutup mulutnya dengan kedua tangan nya, sebenarnya ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Apa benar saat ini aku sedang di lamar?" batin Chelsea seakan tak percaya.
Chelsea menatap dalam mata Ronald. "Yes, i Will." Ucapan Chelsea membuat Ronald langsung mendongak kearah wanita itu.
"Apa kau serius?" Chelsea pun mengangguk. Ronald langsung berdiri dan memeluk wanita yang saat ini ada di hadapan nya.
"Cincin itu dia beli ketika kita masih duduk di kelas 1 SMA, bahkan disana tertulis nama mu, Chelsea," ujar Rey. Chelsea langsung menatap Ronald.
"Apa kau sebegitu cinta nya padaku?"
"Sudah ku katakan bahwa aku sangat mencintaimu. Jangan kau ragukan lagi perasaan ku terhadap mu, Chelsea." Chelsea kembali menangis di dalam pelukan Ronald, ia sama sekali tidak menyangka kalau laki-laki di hadapan nya ini sudah menyimpan perasaan kepadanya sejak lama. Bahkan ia juga membeli cincin atas nama nya sejak dulu.
"Akhirnya tuhan mendengar doa-doa ku. akhirnya aku bisa mendapatkan orang yang selama ini aku cintai, aku sangat bersyukur sekali," batin Ronald sambil mengecup puncak kepala Chelsea berkali-kali.
Tiba-tiba dari dalam rumah Chelsea ada yang keluar. Terlihat wanita paruh baya tengah melihat dua orang yang kini sedang berpelukan sambil menangis haru.
"Chelsea," Ucap wanita itu yang ternyata adalah ibunya Chelsea. Chelsea langsung melepaskan pelukan nya dan menatap ke arah asal suara.
"Ibu ... ibu, Chelsea bisa jela–" Belum selesai Chelsea berbicara, ibu nya sudah memotong perkataan nya.
"Ibu merestui kalian berdua. Berbahagialah!" Chelsea tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar nya, begitu pula dengan Ronald.
"Ibu ... terima kasih." Chelsea langsung memeluk ibu nya.
"Terima kasih, Tante. Saya akan berusaha untuk membahagiakan Chelsea," ucap Ronald pada ibu nya Chelsea.
"Ibu percaya padamu, Nak." Ibu Chelsea langsung melebarkan kedua tangan nya dan menyambut Ronald ke dalam pelukan nya. Ibu Chelsea memeluk anak dan calon menantunya itu.
Ternyata dari tadi ibu Chelsea sudah melihat semuanya dari balik jendela rumah. Ia mendengar semua perkataan Ronald yang menurut nya begitu bersungguh-sungguh terhadap anak nya.
Rasanya hari ini kebahagiaan menghampiri Chelsea secara bertubi-tubi. Ia tidak menyangka kalau hari ini akan datang juga.
Rey hanya melihat dari kejauhan keharmonisan calon keluarga itu. Lalu ia beranjak pergi dari sana dan melajukan mobil nya menuju rumah.