Let Me Still Love You

Let Me Still Love You
Rencana Kia



Pagi ini Rey tidak bekerja, karena semalam Rey sudah berjanji akan mengantarkan Bella ke makam mama nya. Mereka telah rapi dengan pakaian bewarna Hitam yang menempel di tubuh mereka.


"Ayo kita berangkat!" ajak Rey dan Bella pun mengangguk.


"Bi, kami berangkat dulu ya!" pamit Bella sambil menyalami tangan Bi Ira.


"Hati-hati ya, Nak!" ucap Bi Ira sembari mengelus puncak kepala Bella. Bella merasa sangat senang di perlakukan seperti itu oleh Bi Ira.


Rey pun ikut menyalami tangan Bi Ira. Setelah itu mereka langsung berjalan menuju mobil. Rey melajukan mobil nya menuju pemakaman.


***


Setelah hampir 3 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di pemakaman, tempat dimana mama Bella di makamkan.


Rey dan Bella turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam pemakaman tersebut.


Sampai lah mereka di depan sebuah makam. Bella berlutut di depan makam tersebut dan memegang nisan yang bertuliskan "Cindy Naomi Pamela" dan terdapat sebuah foto di sana.


"Mama ... hari ini Bella datang bersama suami Bella, Ma. Laki-laki yang sangat Bella cintai, lelaki yang selama ini selalu Bella ceritakan pada mama lewat mimpi. Bella berharap mama bisa bahagia karena melihat Bella sudah bahagia disini, Ma. Bella sayang mama, dan Bella sangat merindukan, Mama." Ucap Bella dalam hati.


Rey pun ikut berlutut di samping Bella.


"Tante ... saya Rey, menantu Tante. Rey janji akan membuat Bella bahagia Tante, Rey janji akan menyayangi Bella. Tante yang tenang disana, ya. Tenang saja, Bella disini ada Rey yang akan menjaga nya." Tutur Rey dalam hati sambil memandang wajah mama Bella dari foto yang tertempel disana. Rey sedikit terkejut melihat nama belakang dari mama Bella, karena setau Rey, Bella tidak pernah memakai nama belakang nya.


"Sudah sayang. Ayo kita pulang!" ajak Rey dan Bella pun mengiyakan nya.


***


Di dalam mobil, mereka hanya diam. Bella nampak masih bersedih karena harus meninggalkan makam mama nya.


"Sayang," Bella langsung menoleh ke arah Rey.


"Apa nama belakang mu itu, Pamela?" tanya Rey yang dari tadi sudah penasaran. Bella pun mengangguk.


"Bukan nya Pamela itu nama perusahaan terbesar yang berada di kota A?" Bella pun kembali mengangguk.


"Jadi, kau–"


"Iya, Rey. Karena perusahaan itu juga, papa meninggalkan kami," Bella memotong kata-kata Rey. Terlihat air mata yang dari tadi ia bendung, kini sudah mengalir membasahi pipi nya.


Melihat Bella menangis seperti itu, Rey langsung meminggirkan mobil nya dan berhenti.


Di pegang nya dagu Bella dan di arahkan nya wajah wanita itu menghadap ke arah nya. Rey menatap lekat mata Bella dengan tatapan lembut.


"Bella ... dengarkan aku! aku akan terus ada di samping mu, aku akan slalu menjagamu. Jadi, jangan pernah lagi pikirkan orang-orang yang sudah membuat mu terluka." Rey mengarahkan tangan nya untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi Bella. Di kecup nya kedua mata istri nya itu secara bergantian, lalu Rey menarik Bella ke dalam pelukan nya. ia menciumi puncak kepala Bella berkali-kali, untuk menenangkan tangisan wanita itu.


Ia tidak mau menanyakan perihal papa nya Bella saat ini, karena ia tidak mau membuat istrinya itu semakin terluka.


***


2 hari telah berlalu, malam itu Bella menerima telepon dari Kia.


"Bella ... aku telah merencanakan sesuatu untuk mencelakakan Rey. Aku telah menyabotase mobil milik nya yang akan membuat nya celaka. Kau akan tau akibat nya jika berani bermain-main dengan ku Bella." Panggilan telepon tersebut langsung terputus, bahkan Bella belum sempat mengatakan apa pun. Bella masih diam memikirkan kata-kata Kia.


Rey baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung berjalan menghampiri Bella yang masih terdiam di tempatnya.


"Rey," ucap Bella lirih.


"Iya sayang, ada apa denganmu?" Rey memutar tubuh Bella menjadi menghadap ke arah nya. Bella hanya menunduk.


"Rey, apa kau besok pergi bekerja?" Rey pun mengangguk.


"Rey, apa aku boleh meminjam mobil mu besok?" Rey mengerutkan kening nya.


"Kau mau kemana sayang?"


"Aa ... ehmm ... aku, aku mau mengunjungi ibu, Rey." Ucap Bella gugup. Rey sedikit bingung melihat Bella yang seperti itu.


"Ya sudah, besok sebelum berangkat ke kantor, aku akan mengantarmu terlebih dulu."


"Tidak, Rey! " bantah Bella. Rey semakin bingung melihat reaksi Bella.


"Kenapa?"


"Ehmm itu, maksud ku Rey, kantor mu dan rumah ibukan berlawanan arah,"


"Sudah lah jangan khawatir! bagiku, kau dan ibu adalah prioritas ku saat ini." Bella begitu terharu mendengar ucapan Rey, namun ia juga takut dengan apa yang di katakan oleh Kia.


***


Pagi itu, Rey dan Bella sudah bersiap-siap. Sebelum berangkat ke kantor, Rey mengantarkan Bella terlebih dahulu ke rumah ibu nya.


Rey melajukan mobil nya meninggalkan pekarangan rumah mereka.


"Rey," Rey pun memutar lehernya untuk melihat Bella.


"Rey, jangan terlalu terburu-buru membawa mobil nya, santai saja, Rey!" ujar Bella. Lagi-lagi Rey bingung melihat sikap Bella yang seperti itu.


"Kenapa, apa kau takut?" Bella pun mengangguk. Rey menggenggam erat tangan Bella lalu di cium nya tangan tersebut, tangan nya yang sebelah lagi masih ia pakai untuk memegang kemudi mobil nya.


"Tenang lah! selama aku ada disini, tidak ada yang perlu kau takutkan." Bella merasa senang dengan ucapan Rey. Tapi, kali ini yang seharusnya di khawatirkan itu Rey, bukan dirinya.


Saat hendak menghentikan mobil nya, rem mobil itu tiba-tiba saja tidak berfungsi. Rey tetap tenang, ia takut kalau Bella tau, Bella akan menjadi semakin takut.


"Apa Bella memang sudah mempunyai firasat, kalau hal ini akan terjadi?" batin Rey.


Dengan perlahan, Rey mengurangi kecepatan mobil nya, untung saja tadi Bella sudah memperingatkan nya untuk tidak terburu-buru. Akhirnya Rey dan Bella sampai dengan selamat di rumah Bu Shinta.


Bella turun dari mobil tersebut dan menutup kembali pintu mobil itu.


"Sayang, aku tidak mengantarkan mu ke dalam, ya. Titip salam untuk ibu!" Bella pun mengangguk.


"Rey, berhati-hati lah!" ucap Bella memperingati, Rey pun tersenyum. Rey memutar mobil nya meninggalkan Bella yang masih menatap nya dengan tatapan nanar.


"Ya Tuhan, tolong lindungi Rey. Aku tidak mau sesuatu terjadi lagi pada nya, sudah cukup dia merasakan sakit." Batin Bella sambil terus berdo'a supaya Rey selamat sampai di kantornya.


"Apa yang terjadi dengan mobil ini, bukan nya Minggu lalu aku baru menyervis nya di bengkel, dan tidak ada masalah sama sekali. Untung saja Bella memperingatkan ku. Kalau tidak, aku tidak tau apa yang akan terjadi pada kami tadi." Ucap Rey sambil masih fokus mengendarai mobil nya.


Rey menghentikan mobil nya, ia mengeluarkan ponsel yang terselip di saku celana nya. Rey mencari nomor montir yang tersimpan di daftar kontak nya, lalu menelpon montir tersebut supaya datang dan memperbaiki rem mobil nya.