Let Me Still Love You

Let Me Still Love You
The call



Lily melepas pelukan nya dari kedua sahabat nya yang masih menangis itu, walaupun tangisan nya sudah mulai mereda, tidak sehisteris beberapa waktu lalu.


Lily menatap kedua sahabat nya itu secara bergantian.


“Apa kalian sudah mencoba untuk menelepon mereka?” pertanyaan Lily membuat Bella dan Chelsea saling pandang satu sama lain. Mereka berdua menatap Lily, lalu menggelengkan kepala.


“Kalian ini bagaimana? Seharusnya kalian pastikan terlebih dahulu, sebelum mempercayai omongan Kia,” kata Lily sambil memandang sahabat nya itu. Kedua sahabat nya pun hanya diam.


“Hey, kenapa diam? Cepat telepon!” perintah Lily, karena melihat kedua sahabat nya malah diam dan menundukkan kepala. Mendengar perintah Lily, Chelsea langsung mengambil handphone dari dalam tas yang sedang di bawa nya.


Chelsea langsung mencari nomor suami nya dan menelpon nomor tersebut.


Tersambung ….


“Bagaimana?” tanya Lily. Chelsea menggelengkan kepala nya.


“Tersambung, namun tidak ada yang menjawab nya,” ujar Chelsea sambil membuang nafas nya yang mulai memberat.


Drrt ... drtt ....


Terdengar suara deringan handphone dari saku Bella. Chelsea dan Lily langsung melihat ke arah nya, Bella mengambil ponsel yang terselip di saku nya tersebut. Seketika itu, Bella terperangah melihat nama yang tertera di layar ponsel nya, yaitu "My cold hubby". Ya benar, itu adalah nomor suami nya, suami yang saat ini sedang ia tangisi.


“Halo selamat siang, Apa benar ini dengan mbak Bella?” tanya seseorang dari sebrang sana, akan tetapi suara tersebut bukan lah suara dari sang pemilik ponsel. Awal yang bahagia karena menerima telepon dari nomor tersebut, menjadi akhir yang menyedihkan kerena mendengar suara itu.


Sudah bisa di pastikan, kalau itu adalah salah satu team pencari korban dari kecelakaan ledakan pesawat, yang menemukan ponsel Rey di tempat kejadian.


“Iya benar. Anda siapa? Kenapa ponsel suami saya ada pada anda?” tanya Bella sambil menghapus sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi nya.


“Maaf mbak, saya menemukan ponsel suami anda tengah tergeletak di ruang tunggu bandara. Saya mengambil nya dan memeriksa panggilan terakhir yang ada di dalam ponsel ini, dan panggilan terakhir tersebut adalah nomor mbak. Maka dari itu, saya langsung menelepon mbak,” jelas nya


“Jadi sekarang handphone suami saya ada pada anda?”


“Benar, Mbak. Saat ini saya sedang berada di bandara. Bandara yang beberapa waktu lalu, kedua pesawat nya yang sedang mengarah ke kota A telah mengalami kecelakaan,”


“Dan maaf mbak … saya telah memeriksa nomor dari ponsel ini, ternyata pemilik dari handphone ini adalah salah satu penumpang pesawat yang mengalami ledakan pesawat tersebut,” lanjut nya lagi.


“Dari mana anda tau?”


“Karena nomor ponsel ini telah di gunakan untuk membooking 2 tiket pesawat ke kota A,” jelas nya lagi.


Bella kembali meneteskan air mata nya. Untuk ketiga kali nya, ia mendapat fakta bahwa suami nya itu benar-benar telah tiada.


“Jadi, bagaimana dengan handphone ini, Mbak? Mau mbak jemput kesini atau bagaimana?”


“Baiklah, Pak. Sebentar lagi saya akan datang kesana, Terima kasih.” Ucap Bella sambil menahan isak tangis nya, lalu mengakhiri panggilan tersebut.


Chelsea dan Lily mengerutkan kening nya, karena melihat Bella kembali menangis.


“Hey, ada apa Bella? Siapa yang menelepon mu?” tanya Lily sambil merangkul pundak sahabat nya.


“Handphone Rey terjatuh di bandara, dan seseorang menemukan nya. Rey, dimana kau?” Bella kembali menangis. Lily langsung mengarahkan tangan nya untuk menghapus air mata yang tengah mengalir di pipi mulus sahabat nya itu. Sakit rasanya melihat sahabat nya menangis.


“Sudah lah Bella. Ayo kita pergi ke bandara untuk mengambil ponsel milik Rey!” ajak Lily, Bella pun mengangguk.


***


Mereka adalah Bella dan kedua sahabat nya. Bu Shinta, Bi Ira, dan juga Bi Siti. Dan yang terakhir adalah pak supir. Kini mereka tengah melakukan perjalanan menuju bandara, untuk mengambil handphone milik Rey yang terjatuh di sana.


Beberapa jam setelah itu, mereka pun sampai di bandara. Bella langsung menelepon ke ponsel Rey dan mendapati seorang pria paruh baya tengah menunggu di sana. Bella dan yang lain nya menghampiri lelaki itu.


“Apa benar anda yang bernama mbak Bella?” tanya nya sambil mengarahkan telunjuk nya ke arah Bella. Bella pun mengangguk.


“Benar, Pak. Bapak yang menemukan handphone suami saya?” tanya Bella.


“Benar, Mbak. Ini handphone suami mbak. Saya turut berduka ya, Mbak.” Ucap nya sambil memberikan ponsel tersebut kepada Bella. Bella mengambil ponsel tersebut dan tersenyum ke arah lelaki itu. Ia tidak berniat untuk menjawab perkataan lelaki tersebut.


“Baiklah, saya duluan, Mbak. Permisi!” ucap nya sambil beranjak pergi dari sana.


“Terima kasih, Pak.” Lelaki itu membalikkan tubuh nya, ia tersenyum dan mengangguk ke arah Bella, lalu kembali melanjutkan langkah nya.


“Ternyata ada yang sedang berkumpul disini. Apa yang sedang kalian lakukan?” ucap seorang wanita dari belakang sana, yang membuat mereka langsung membalikkan tubuh dan menoleh ke arah wanita itu.


“Kia,”


“Wah, nampak nya kalian terkejut ketika melihat ku. Ada apa memang nya?” tanya Kia mengangkat sebelah alis nya, seakan tidak mengerti apa yang sebenar nya terjadi.


“Kau, jangan berpura-pura bodoh!” ucap Chelsea kesal.


“Kau ini kenapa? Rey dan Ronald itu belum meninggal.” Ucap nya yang membuat mereka langsung menoleh ke arah nya.


“Benarkah, kalau Rey dan Ronald masih hidup?” tanya Bella sambil menatap lekat Kia.


“Ehmm … Tapi bohong, hahahaha … kalian ini sangat mudah untuk di bodohi!" ucap nya sambil mengeraskan tawa nya.


“KAU!!” Chelsea sudah geram melihat wanita itu, ia mengepalkan tangan nya. Rasanya, ingin sekali ia melayangkan satu atau bahkan seribu tamparan pada wanita itu. Meskipun itu masih tidak cukup untuk membalas semua perbuatan jahat nya.


“Apa? Kenapa? Kau ingin menamparku?” ucap Kia sambil tersenyum remeh.


“Chels tenanglah, Ingat anak mu!” tahan Lily. Chelsea pun hanya bisa menghela nafas.


“Kau Kia, bahkan iblis saja tidak mau berteman denganmu, karena kelakuan mu itu melebihi iblis. Dasar psikopat!” Ujar Lily yang membuat Kia langsung marah.


“Apa katamu?”


“Kenapa? Kau marah aku bilang seperti itu? Aku mengatakan yang sebenar nya Kia,”


“Pergilah dari sini, Kami sudah muak melihat mu!” perintah Lily sambil mendorong tubuh Kia.


“Kau … baiklah, aku akan pergi. Turut berduka cita sahabat ku.” Ucap nya sambil berlalu pergi dari sana.


“Siapa juga yang masih mau menganggap mu sebagai sahabat!” cetus Lily.


Lily melihat kedua sahabat nya yang masih berdiri mematung. Ia menarik kedua sahabat nya itu, lalu memeluk mereka.


“Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan kata-kata nya. Aku akan melaporkan nya nanti ke polisi, kalau aku sudah berhasil menemukan bukti-bukti yang akurat. Lebih baik, sekarang kita pulang saja ya!” Mereka pun mengangguk.


Mereka kembali ke dalam mobil untuk pulang kerumah.