
Kia masih menangis di dalam dekapan Rey. Rey mengusap-usap pelan pundak Kia untuk menenangkan wanita itu. Tiba-tiba ada suara ketukan dari depan pintu kamar hotel Rey. Rey hendak beranjak menuju pintu, namun belum lagi ia berdiri, pintu kamar tersebut telah terbuka.
"Rey, apa kau tau..." Ronald membelalak kan kedua mata nya ketika melihat Rey sedang memeluk seorang wanita. Ia tidak jadi melanjutkan perkataan nya, dan malah menatap Rey.
"Rey ... siapa itu?" tanya Ronald sambil mengernyitkan dahi nya. Wanita yang sedang di peluk Rey itu seketika langsung menoleh ke arah Ronald.
"Kau!" Ronald mengepalkan tangan nya, ketika mengetahui bahwa wanita itu adalah Kia.
"Rey, apa kau tau?" belum sempat Ronald menyelesaikan kata-kata nya, Rey telah memotong pembicaraan lelaki itu.
"Tidak!" cetus Rey sambil menatap tajam ke arah Ronald.
"Rey, ada apa dengan mu? kenapa kau bisa bersama wanita jahat ini?" ujar Ronald sambil menunjuk Kia menggunakan jari telunjuk nya.
"Jaga bicaramu! siapa yang wanita jahat, seharusnya kau lebih tau?" ucap Rey geram. Terlihat rahang nya sudah mulai mengeras.
"Rey, kau ini kenapa? wanita ini yang sudah mencoba untuk membu–" kata-kata Ronald kembali di potong oleh Rey.
"Pergi dari sini!" ucap nya dingin. Ronald menatap tajam ke arah Kia. Ia tau jelas, bahwa Kita lah yang telah membuat Rey menjadi seperti itu.
"Rey, wanita ini sudah mencoba untuk membunuh kita. Kenapa kau malah membelanya seperti ini?" ucapan Ronald membuat Kia membelalakkan kedua mata nya.
"Astaga ... berarti Ronald sudah mengetahui masalah tentang ledakan pesawat itu, matilah aku!" batin Kia yang mulai ketakutan.
"Apa kau pikir aku percaya dengan apa yang kau ucapkan? pergi dari sini! dan jangan pernah berkata buruk lagi tentang Kia! aku sudah tau semua kebusukan kalian," ucap Rey dengan suara lantang.
Ronald terperangah mendengar jawaban Rey.
"Hey wanita gila! apa yang sudah kau katakan pada Rey, sampai-sampai dia seperti ini?" Ronald pun tak kalah geram nya melihat Kia.
"Hey, berani sekali kau berteriak seperti itu kepada kekasihku! Sudah aku katakan, pergilah!" Kali ini Rey terlihat semakin marah, ia berteriak pada Ronald. Mata nya menatap tajam ke arah sahabat nya itu.
"Baiklah, Rey. Ternyata kau lebih mempercayai seseorang yang seharusnya kau hindari," Ronald membalikkan tubuh nya dan menggapai handle pintu kamar itu.
"Jangan pernah menyesali keputusan yang telah kau ambil saat ini!" Ronald beranjak dari kamar tersebut meninggalkan dua orang yang sedang menatap nya dengan wajah marah bercampur kesal.
"Bagus sekali, Rey. Kau sudah semakin masuk ke dalam perangkap ku. Tolong bantu aku menjalankan rencana ku," batin Kia. Senyum menyeringai terpatri di wajah nya.
"Rey ... aku sama sekali tidak seperti yang di tuduhkan oleh Ronald. Ronald pasti telah diminta oleh Bella untuk mengatakan hal itu kepadamu. Mereka membalikkan fakta dari apa yang terjadi sebenar nya, Rey," Kia menatap Rey dengan air mata yang masih mengalir.
"Tenanglah! aku tidak percaya pada mereka," ujar Rey sambil menatap lekat mata Kia.
"Terima kasih Rey, karena kau sudah mau mempercayaiku." Rey mengangguk lalu mengeratkan pelukan nya terhadap wanita itu.
***
Ronald berjalan menuju kamar yang telah ia tempati 3 hari selama disini. Jarak kamar nya dengan kamar Rey hanya penghalang dinding saja. Ronald masuk ke kamar nya dengan perasaan kesal. Padahal niat nya pergi ke kamar Rey untuk memberitahukan bahwa Kia adalah dalang dari ledakan pesawat tersebut.
Ronald mengetahui nya dari Chelsea, istri nya. Walaupun Chelsea sudah di peringatkan oleh Bella untuk tidak memberitahukan hal tersebut, namun Chelsea tetap tidak tenang. Ia tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi. Jadi, Chelsea memberitahukan hal tersebut kepada suami nya, supaya Ronald dan Rey bisa berhati-hati lagi ke depan nya.
Tapi ternyata ia terlambat. Padahal jika Ronald datang lebih cepat sedikit saja, mungkin hal ini tidak akan terjadi.
***
2 hari telah berlalu, hari ini adalah hari kepulangan Rey dan Ronald. Selama 2 hari itu juga, Rey tidak pernah lagi mengabari Bella. Bahkan untuk sekedar mengirim pesan saja tidak.
Rey dan Ronald telah sampai di bandara. Terlihat para wanita yang sedang menunggu kepulangan mereka. Chelsea dan Bella memang berniat untuk menjemput suami mereka, ketika pulang dari kota A.
"Rey!!" Teriak Bella sambil berlari menghampiri Rey dan memeluk pria itu. Rey membalas pelukan Bella.
"Wanita bodoh, aku akan membuatmu semakin mencintaiku. Aku akan tetap berpura-pura mencintaimu, aku akan bersandiwara di depan mu. Sampai akhirnya, kau akan merasakan bagaimana sakit nya kembali di khianati, oleh orang yang sangat kau cintai," batin Rey.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Bella. Rey hanya mengangguk.
"Aku sangat merindukanmu, Rey. Kenapa selama dua hari ini kau tidak pernah menghubungi ku lagi?" tanya Bella sambil mendongakkan kepala nya, menatap wajah suami nya itu.
"Maaf ... pekerjaan ku sangat banyak, jadi aku tidak sempat untuk mengabarimu,"
"Ya sudah lah, lupakan saja! yang penting sekarang aku senang bisa melihatmu," Bella kembali memeluk Rey dengan erat. Menumpahkan kerinduan nya pada laki-laki itu. Sekaligus rasa senang nya karena melihat suami nya pulang dengan keadaan sehat.
"Ada apa dengan ku? rasanya aku ingin sekali mencium wanita ini. Kenapa jantungku berdetak kencang ketika dia memelukku? aku merasa nyaman saat di peluk nya, tapi kenapa saat di peluk oleh Kia tidak seperti ini. Aku juga sangat merindukanmu. Hey Rey, apa yang kau pikirkan? jangan lupa kalau wanita ini yang telah membuatmu berpisah dengan orang yang kau cintai!" batin Rey yang sedikit bingung dengan perasaan nya.
Sedangkan di samping mereka, Ronald tengah sibuk memegangi perut sang istri tercinta.
"Halo anak ayah! maaf ya karena ayah terlambat mengetahui keberadaan kamu, Nak." Ucap Ronald sambil mengelus perut datar istrinya.
"Iya ayah, yang terpenting ayah sehat-sehat saja," jawab Chelsea menirukan suara anak kecil.
"Bahagia sekali ya mereka, Rey," ujar Bella sambil menatap ke arah sahabat nya dan sahabat suami nya yang sedang mengobrol dengan calon bayi mereka.
Rey merasa sedikit sakit mendengar kata-kata yang terucap dari mulut Bella. Kata-kata wanita itu seperti menyiratkan bahwa ia juga memiliki keinginan yang sama seperti mereka. Namun seketika wajah Kita kembali terlintas di dalam pikiran nya.
"Kau ingin seperti mereka? jangan berharap kau bisa mendapatkan anak dari ku, karena itu sangat tidak mungkin. Kau pergi saja mencari pria lain, kau kan wanita penggoda," ucap Rey dalam hati, walaupun hati nya terasa sakit saat mengatakan hal itu.
Perasaan Rey telah tertutupi oleh keegoisan nya. Ia tidak menyadari bahwa sebenarnya dia telah jatuh cinta pada istrinya. Seluruh kebenaran telah tertutupi oleh kebohongan Kia. Namun, Rey masih tetap mempercayai nya. Mempercayai seseorang yang seharusnya tidak boleh dia percayai. Dan malah memilih untuk menyakiti seseorang yang seharusnya mendapatkan cinta nya.