Let Me Still Love You

Let Me Still Love You
Mengikhlaskan



“Bella,” Terdengar suara seseorang memanggil nama nya. Bella mengarahkan kepala nya menuju asal suara. Terlihat sosok yang saat ini sangat ia rindukan, seseorang yang membuat nya khawatir, pria yang membuat nya menangis histeris beberapa saat lalu. Bella masih diam tak bergeming di tempat nya, pria itu tersenyum ke arah nya.


“Rey,” ucap nya lirih. Tak terasa air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata nya, kini sudah mengalir membasahi pipi mulus nya itu.


“Rey, benarkah itu kau?” tanya nya tak percaya. Pria itu menyunggingkan senyum nya. Rasanya Bella ingin sekali berdiri dan memeluk lelaki yang ada di hadapan nya saat ini. Namun, karena ia sangat bahagia, kaki nya serasa tidak bisa di gerakan, Bella hanya bisa melihat lelaki itu.


“Rey … jangan tinggalkan aku sendiri, ya!” Bella berucap masih dengan air mata yang terus mengalir deras.


“Maaf, aku kembali meninggalkan mu.” Pria itu membalikkan tubuh nya membelakangi Bella. Bella berusaha untuk berdiri dan memeluk pria itu. Namun, semakin dia mencoba untuk berdiri, sosok itu malah semakin menjauh. Semakin kuat dia mencobanya, sosok itu pun mulai hilang bersama kegelapan yang mulai datang.


“Rey, jangan pergi! Aku mohon Rey … aku sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku untuk kedua kali nya Rey!” Bella berteriak sekuat nya bersamaan dengan air mata nya yang semakin deras.


“REY … REY … REY!” Suara bella semakin melemah.


“Bella … Bella, bangun Nak!” Samar-samar Bella mendengar nama nya di panggil oleh seseorang. Bella membuka mata nya dengan perlahan. Terlihat disana sosok yang sangat di kenali nya, yaitu ibu dari suami nya.


“Nak, kamu kenapa, sayang? Kenapa kamu memanggil nama Rey secara terus-menerus?” tanya bu Shinta khawatir, ketika melihat menantu nya itu telah membuka kedua mata nya.


Ketika mendengar kabar bahwa Rey menjadi korban atas ledakan pesawat, Bella tak kuasa


mendengar nya. Setelah menangis begitu lama, akhir nya Bella pun tak sadarkan diri. Bu Shinta, bi Ira dan bi Siti pun panik melihat nya.


“Duduk dulu, Sayang! Minumlah dulu!” Bu Shinta membantu Bella untuk duduk, sedangkan bi Ira memberikan air minum di dalam gelas yang sedang di pegang nya kepada bella.


“Kamu baik-baik saja kan, Sayang?” tanya bu Shinta.


“Rey, Bu … ini semua salah Bella bu, Bella yang sudah membuat Rey menjadi seperti ini, Bu.” Bella kembali menangis, bu Shinta pun menarik menantu nya itu ke dalam pelukan nya.


“Iya nak, ibu mengerti perasaan kamu. Sebagai seorang ibu, kehilangan anak adalah hal terberat, ibu juga tidak sanggup kalau harus kehilangan Rey, Nak. Tapi, kita juga tidak bisa menyalahkan diri sendiri, ini sudah takdir, Nak. Kamu harus belajar mengikhlaskan Rey, kalau memang dia telah tiada. Tapi, kamu juga harus tetap berdo'a, semoga Rey masih hidup, Sayang. Kalau kamu sedih seperti ini dan menyalahkan diri kamu sendiri, Rey pasti juga sedih melihat nya. Kamu harus ikhlas, Sayang.” Bu shinta menasehati Bella, walaupun diri nya sendiri juga belum tentu bisa mengikhlaskan anak semata wayang nya itu begitu saja. Namun ntah kenapa, Bu Shinta punya firasat baik kalau putra nya itu masih hidup.


Ibu mana yang tak merasa kehilangan, di tinggal oleh anak nya untuk selama nya. Namun, bu Shinta harus tetap terlihat tegar di hadapan menantu nya, karena ia juga mengerti apa yang di rasakan menantu nya saat ini. Kehilangan suami yang sangat ia cintai, pasti nya membuat ia sangat tersakiti. Karena ia juga pernah merasakan itu sebelum nya.


“Rey, lebih baik kau menyakiti ku dengan berselingkuh bersama Kia, daripada harus kehilangan mu selama nya. Aku tidak sanggup, Rey. Bagaimana bisa kau meninggalkan ku di saat kita baru memulai semua nya dari awal, dan di saat aku baru merasakan kasih sayang mu, Rey.” Batin Bella sambil mengeratkan pelukan nya kepada ibu dari suami nya itu.


“Nak, lebih baik sekarang kita pergi ke tempat kejadian, supaya kita bisa memastikan kalau Rey termasuk atau tidak ke dalam ledakan pesawat itu,” ujar bu Shinta. Bella pun mengangguk.


***


Kini mereka telah sampai di tempat kejadian, Bi Ira dan Bi Siti pun ikut menemani mereka.


Plakk


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Bella, yang membuat nya jatuh tersungkur. Hanya dengan satu tamparan saja berhasil membuat Bella terjatuh. Bella tidak bisa menyeimbangkan tubuh nya karena terlalu lama menangis. Bu Shinta membantu menantu nya tersebut untuk berdiri.


“Chelsea,” Bella terperanjat ketika melihat seseorang yang ada di hadapan nya saat ini adalah sahabat nya. Dan yang lebih membuat nya bingung adalah, yang menampar nya tadi adalah orang yang sama.


“Ini semua karena kau, Bella. Aku baru saja menikah, dan saat ini aku sedang mengandung. Tapi, kenapa aku harus kehilangan suamiku. Kasihan anak ku Bella, dia akan lahir tanpa ayah. Ini semua kesalahan mu Bella, Aku benci kau Bella, sangat-sangat benci,” Chelsea menahan isak tangis nya, Chelsea kembali ingin menampar Bella, namun Lily lebih dulu menahan nya.


“Tenang Chels, ini tidak baik untuk kandunganmu. Tenangkan dirimu, kalau kau tidak mau anak mu terluka!” ucapan Lily berhasil membuat Chelsea sontak diam. Bella tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Chelsea.


“Maaf, Chels … aku juga tidak tau kalau ini akan terjadi. Maaf, Chels,” Uuap Bella lirih.


“Ada apa ini, Lily? “ tanya Bu Shinta kepada sahabat dari menantu nya itu.


“Begini tante ... tadi kami bertanya kepada petugas yang sedang mencari jasad korban kecelakaan. Tapi, mereka tidak menemukan jasad Rey maupun Ronald. Besar kemungkinan kalau jasad mereka telah hancur akibat ledakan tersebut. Karena, jasad yang di temukan tidak ada yang utuh tante, pasti selalu ada saja yang hancur. Dan mereka bilang, di kedua pesawat tersebut hanya ada pilot bersama rekan-rekan nya saja, tidak ada penumpang lain selain Rey dan Ronald,” jelas Lily yang membuat mereka kembali menangis.


“Chelsea, kau juga tidak bisa menyalahkan Bella secara sepihak. Kau tau sendiri kan, dari dulu Kia tidak menyukai Bella. Bella juga merasa kehilangan Chels, sama seperti mu. Kita ini kan sahabat, jadi jangan saling menyalahkan seperti ini ya.” Tutur Lily sambil memeluk kedua sahabat nya itu. Lily juga ikut merasakan kesedihan yang tengah di alami oleh kedua sahabat nya. Kehilangan orang yang paling di cintai, tidak lah mudah.


Bella dan Chelsea sedikit tersentuh dengan kata-kata Lily. Sejak kapan sahabat nya yang satu ini menjadi sebijak itu, begitulah batin mereka. Sebelum itu, Chelsea juga menerima telepon dari Kia. Maka dari itu, Chelsea menyalahkan Bella.


“Kalian harus mengikhlaskan mereka, supaya mereka bisa pergi dengan tenang. Percayalah! mereka juga tidak ingin berpisah dari kalian. Namun, tuhan lah yang memisahkan kalian dengan cara seperti ini, jadi kalian harus menerima takdir tuhan. Bersyukur lah kalian, karena sebelum kehilangan, kalian sempat merasakan indah nya di cintai,” Bella dan Chelsea pun kembali mengeratkan pelukan nya terhadap Lily. Entah kenapa, rasanya hari ini sahabat nya itu bukan seperti diri nya yang biasa. Ternyata Lily bisa jadi se dewasa itu, ketika saat keadaan genting sepeti ini.


“Rey, apa benar aku harus mengikhlaskan mu? Jika memang seperti itu, baiklah Rey, pergilah dengan tenang! Ingat lah, aku akan terus mencintaimu, perasaan ku pada mu tidak akan pernah berubah, Rey. Terima kasih karena kau sudah mau belajar untuk mencintai ku. Walaupun aku belum pernah mendengar, kau mengatakan kalau kau sudah mencintaiku, tanpa paksaan dari orang lain. Maaf kalau aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk mu, Rey. Pergilah dengan tenang suami ku, aku sudah mengikhlaskan mu.” Bella berucap dalam hati sambil mengeluarkan tangis nya. Ia sudah tidak tahan lagi dengan semua ini, tapi dia juga harus bisa mengikhlaskan nya.