Let Me Still Love You

Let Me Still Love You
Mine



“KAU!!” ucap Bella, Chelsea, dan Lily secara bersamaan, ketika melihat seseorang yang datang tersebut.


“Hai sahabat-sahabatku. Kenapa kalian tidak mengajakku?” pertanyaan yang dilontarkan oleh Kia membuat mereka mengepalkan tangan nya, karena terlalu geram melihat wajah polos wanita itu.


“Siapa yang kau panggil sahabat? Kami bukan sahabatmu!” cetus Lily sambil menatap tajam mata Kia.


“Untuk apa kami mengajak pembunuh sepertimu? Supaya kami bisa menjadi mangsa mu yang selanjutnya, seperti itu, ya? Sejak kau mencoba membunuh orang yang kami sayang, kau bukan sahabat kami lagi!” timpal Chelsea dengan deru nafas yang memburu, menandakan bahwa kemarahan nya sudah tidak bisa ia tahan lagi.


“Chelsea, Lily, sudahlah, jangan pedulikan dia! Kita datang kesini untuk menenangkan pikiran, bukan malah menambahnya,” ujar Bella yang masih saja menikmati pijatan itu. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali menampar wanita yang hampir saja membuat nya kehilangan orang yang sangat ia sayangi.


“Ya, benar apa katamu, Bella. Lebih baik tidak usah memperdulikan nya,” cetus Lily.


“Aku minta maaf pada kalian … aku tau aku salah, hatiku telah di gelapkan oleh keegoisan ku. Tidak seharusnya aku melakukan hal itu terhadap kalian. Kalian itu sahabatku, aku sangat menyayangi kalian. Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi,” Kia duduk berlutut di depan ketiga teman nya itu, sambil mengeluarkan air mata nya. Sontak keenam wanita itu langsung menatap ke arah nya.


“Hey Kia, apa kau pikir kami akan memaafkan mu?” ucap Chelsea dengan menatap tajam ke arah Kia yang sedang berlutut sambil masih menangis.


“Mbak, kalian bisa pergi dulu!” perintah Bella pada ketiga orang tersebut. Bella tidak mau, kalau ada yang mengetahui masalah mereka, dan Bella juga tidak mau mempermalukan Kia. Mereka pun mengangguk, sambil berlalu dari ruangan tersebut, meninggalkan mereka berempat.


“Aku benar-benar minta maaf. Aku tau kesalahanku ini sangat sulit untuk di maafkan. Tapi ku mohon ... tidak bisakah kita seperti dulu lagi. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama,” Kia kembali memohon, menatap satu persatu wajah ketiga wanita itu secara bergantian, dengan tatapan sendu dan menyedihkan.


“Apa kau pikir, kalau suamiku benar-benar meninggal pada saat itu, aku akan memaafkan mu?” Chelsea kembali menjawab nya.


“Maafkan aku, Chelsea. Maaf ….” Ucapnya lirih sambil masih mengeluarkan air mata nya.


“Kia, apa kau sungguh–sungguh dengan ucapan mu?” tanya Bella yang merasa kasihan dengan Kia. Kia pun mengangguk.


“Berdirilah! Aku sudah memaafkan mu. Tapi, jika sekali lagi kau membuat kesalahan fatal seperti ini. Aku sendiri yang akan memasukkan mu ke dalam penjara,” ujar Bella sambil membantu Kia untuk berdiri.


“Bella, hatimu itu terbuat dari apa? Bagaimana bisa kau masih memaafkan nya, setelah beribu kali dia menyakiti hatimu, dan membuatmu hampir kehilangan orang yang kau sayangi,” Chelsea semakin murka.


“Chelsea, tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak memiliki kesalahan. Setidak nya, berilah dia kesempatan untuk menebus kesalahan nya,” tutur Bella. Lily dan Chelsea pun hanya diam menanggapi nya.


Bella memeluk Kia dengan erat. ”Sampai kapanpun, kau tetap sahabatku.” Ujar Bella sambil menepuk–nepuk pelan pundak Kia. Kia tersenyum dalam pelukan Bella.


“Karena aku tau kau adalah orang yang pemaaf Bella, dan itulah kesempatanku untuk menghancurkan mu. Kalau bukan karena untuk berjalan nya rencana ku, apa kalian pikir aku bersedia berlutut dan menangis seperti tadi di hadapan kalian? Untuk menghancurkan mu Bella, mempermalukan diri sendiri pun aku sanggup,” batin Kia. Bella melepaskan pelukan nya kepada Kia, lalu menyuruh wanita itu untuk duduk di sebelah nya.


Bella mengambil ponsel dari dalam tas jinjing nya. Lalu mengetik pesan untuk dikirim ke kedua sahabat nya.


“Aku menerimanya lagi karena ingin tau apa rencana dia selanjut nya. Apa kalian pikir aku bisa memaafkan nya dengan begitu mudah nya? Kita ikuti saja permainan nya, okey. ~ Bella.”


“Kau ini, kenapa tidak bilang dari tadi? Membuat ku naik darah saja. ~ Chelsea.”


“Wah, belajar jahat darimana kau, Bella? Biasanya, kaulah yang paling berhati mulia di antara kami,~ Lily.”


“Sudahlah, nanti lagi saja kita bicarakan! Jangan sampai membuatnya curiga! ~ Bella.”


Mereka kembali memasukkan ponsel masing-masing ke dalam tas mereka.


***


“Rey,” panggil Bella sambil melihat ke arah Rey. Rey menoleh ke arah Bella.


“Rey, aku dan Kia sudah baikan.”


“Lalu?”


“Kau jangan terlalu membencinya, ya! Bagaimana pun juga, Kia kan tetap sahabatku,” ucap Bella. Rey pun mengangguk.


“Apa benar apa yang di katakan Kia tentang Bella? Kenapa aku jadi tidak percaya seperti ini pada Kia?“ gumam Rey sambil memasukkan makanan ke dalam mulut nya.


“Maaf, Rey. Aku hanya ingin memastikan keselamatanmu lewat Kia. Kalau aku dekat dengan nya, cepat atau lambat aku akan mengetahui rencana nya,” batin Bella.


Mereka pun kembali melanjutkan makan, tidak ada lagi yang berbicara, sampai makanan mereka habis dari piring masing-masing.


***


Di dalam kamar, Bella tengah berbaring di atas ranjang menunggu Rey. Sedangkan Rey masih di dalam kamar mandi. Tiba-tiba ponsel Rey berdering, Bella pun berniat untuk mengangkat nya. Tapi diurungkan nya niat itu, ketika melihat nama yang tertera di sana “Mine”. Bella sangat mengenali nomor itu, nomor itu milik Kia. Bella mengetahui nya karena mereka berempat membeli nomor yang sama, hanya ujung nya saja yang berbeda.


Hati Bella terasa perih melihat nya, tanpa aba-aba air mata nya memaksa untuk keluar dari tempat nya.


“Bukan nya ini ponsel baru Rey, kenapa bisa ada nomor Kia? Sedangkan aku lihat di ponsel lama nya, nomor Kia telah di blokir oleh Rey. Tapi kenapa sekarang nomor Kia bertulis kan Mine (milikku). Rey ... ada apa ini?” gumam Bella sambil menghapus air mata nya.


“Sayang, kau sedang apa?” tanya Rey yang baru keluar dari kamar mandi.


“Maaf Rey, ini ada yang menelpon,” Bella memberikan ponsel tersebut kepada Rey, dan langsung berlari menuju kamar mandi. Bella tidak mau jika Rey melihat nya sedang menangis.


Rey memperhatikan punggung Bella yang hampir masuk ke dalam kamar mandi, ia mengernyitkan dahi nya.


“Ada apa dengan wanita itu?” tanya nya dalam hati. Rey mengalihkan pandangan nya ke arah ponsel nya yang masih berdering. Di lihat nya siapa penelpon itu.


“Ternyata karena ini dia berlari kesana. Kenapa hatiku terasa sakit melihatnya bersedih seperti itu?” batin Rey lalu mengangkat telfon itu.


“Halo, Sayang,” panggil Kia.


“Jangan sembarangan menelpon! Apa kau mau Bella mengetahui hubungan kita lagi?” tanya Rey.


“Tidak, Rey!”


“Ya sudah, aku matikan dulu!” Rey langsung mematikan sambungan telfon tersebut dan melempar ponsel nya ke atas ranjang. Rey berjalan menuju ranjang dan membaringkan tubuh nya di atas sana.


Rey masih memikirkan tentang Bella yang menangis. Dia mengusap kasar wajah nya.


“Ada apa denganku?” batin nya.