Let Me Still Love You

Let Me Still Love You
Kebenaran yang sebenar-benarnya



Steve langsung berlari menghampiri Kia. Tapi sayang nya, Kia sudah lebih dulu menjatuhkan diri nya.


"KIA!" Steve hanya bisa menatap ironis ke arah Kia yang sudah terjatuh ke bawah.


Pengawal-pengawal yang menjaga rumah Steve, yang sedang berada di bawah dan melihat hal tersebut pun, langsung membawa Kia menuju rumah sakit terdekat. Sedangkan Steve bingung harus melakukan apa.


Steve masuk kembali ke dalam kamar nya; mengambil ponsel nya dan mencari nomor seseorang di dalam sana.


"Halo, Steve. Ada apa kau menelfon ku?" tanya seseorang dari sebrang sana, ketika telfon tersebut telah tersambung.


"Mike, bagaimana ini?" Steve berbicara dengan suara lemah.


"Bagaimana apa nya? bicaralah dengan benar, Steve!"


"Kia, Mike ... Kia bunuh diri. Dia menjatuhkan dirinya dari atas balkon kamarku," jelas Steve dengan ragu.


"Apa yang kau lakukan pada nya? apa kau sudah mengatakan semua nya?"


"Benar, Mike. Jadi, sekarang aku harus bagaimana?"


"Pergilah temui bunda Kia! bawa ayah dan bunda nya ke rumah sakit! sekarang juga aku akan kembali ke Indonesia,"


"Baiklah! terimakasih, Mike." Steve langsung mematikan sambungan telfon tersebut.


Mike adalah teman Steve selama di Jepang, mereka adalah teman sekampus. Dan bisa dibilang, mereka berteman cukup dekat. Sampai-sampai semua masalah Steve, Mike ketahui.


***


Brakk


Tiba-tiba seseorang membuka pintu kantor Rey dengan cukup keras. Saat Rey sedang mencoba menenangkan fikiran nya kembali, karena ia habis memikirkan Bella.


"Rey ...." Panggil lelaki itu yang tak lain adalah Ronald. Ronald berbicara dengan nafas yang sedikit tersengal, karena ia habis berlari.


"Apa kau tidak bisa membuka pintu dengan baik?" Rey nampak kesal melihat sahabat nya itu.


"Rey ... Kia ter-ja-tuh," Rey nampak tidak perduli dengan apa yang di katakan oleh Ronald.


"Rey ... Kia terjatuh dari lantai atas rumah, dan sekarang dia sedang membutuhkan banyak darah,"


Mendengar penuturan Ronald, Rey langsung bergegas keluar sambil menarik tangan sahabat nya itu.


Sebelum nya, Ronald mendapatkan panggilan dari bunda Kia yang mengatakan bahwa Kia tengah berada di rumah sakit. Kia membutuhkan banyak darah, karena ia habis terjatuh dari lantai atas rumah. Entah rumah siapa, Ronald juga tidak tau.


***


Saat ini Rey dan Ronald baru tiba di rumah sakit. Mereka langsung bergegas masuk ke dalam rumah sakit tersebut, dan menuju ruang UGD.


Terlihat disana ayah dan bunda Kia tengah duduk bersebelahan. Bunda Kia tengah memeluk ayah Kia sambil menangis.


Terlihat juga seorang pemuda yang tengah menundukkan kepala nya, pemuda tersebut duduk di depan ayah dan bunda Kia.


Rey dan Ronald langsung berjalan menghampiri mereka.


"Om, Tante," panggil Rey dan Ronald.


"Rey, Ronald," sontak mereka bertiga langsung melihat ke arah Rey dan Ronald.


"Tante, bagaimana keadaan Kia? apa dia baik-baik saja?" tanya Rey.


"Tidak, Rey. Kia kehilangan banyak darah. Darah Tante tidak cocok dengan nya, sedangkan om sudah tidak memungkinkan lagi untuk donor darah. Kami sudah tua Rey, jadi kami harus bagaimana untuk menyelamatkan Kia?" bunda Kia nampak sudah menangis sambil menatap Rey.


"Rey ... tolong Tante! Tante ingin Kia pulih kembali, Rey. Tolong Carikan pendonor darah untuk Kia," Rey dibuat terkejut ketika bunda Kia tiba-tiba berlutut di hadapan nya. Rey langsung ikut berlutut dan membantu bunda Kia untuk bangun.


"Tenang saja, Tante. Rey yang akan mendonorkan darah Rey untuk Kia," ucap Rey sambil menenangkan bunda Kia.


"Tidak bisa!" tiba-tiba ada suara seorang wanita dari belakang sana.


"Ibu ...." Rey terkejut ketika melihat yang datang adalah ibu nya.


"Kau tidak bisa mendonorkan darah mu untuk Kia!" ucap Shinta lagi.


"Kenapa, Bu? apa ibu lupa kalau Kia pernah menyelamatkan ku, dengan mendonorkan darah nya?"


"Tidak Rey, ibu tidak lupa. Karena yang mendonorkan darah untukmu itu Bella, bukan Kia," Rey langsung membelalak kan kedua mata nya. Seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh ibu nya.


"A-apa mak-sud ibu?" tanya Rey terbata-bata.


"Darimana Tante tau?" kini pandangan Rey beralih menatap ke arah bunda Kia.


"Kami semua tau, Rey. Hanya kau saja yang tidak tau," Ronald ikut menyambung pembicaraan.


"Sekarang lebih baik kau carikan terlebih dahulu pendonor darah untuk Kia! Setelah itu, kami akan menjelaskan semua nya kepadamu, tanpa tersisa sedikit pun," pinta Shinta pada anak nya. Rey pun hanya menganggukkan kepala nya, dan langsung menghubungi nomor seseorang, untuk mencarikan pendonor darah secepat mungkin untuk Kia.


Sebenarnya Shinta tidak mau memperdulikan Kia. Karena bagaimana pun juga, Kia pernah hampir membunuh anak nya. Namun, Shinta bukanlah orang yang egois seperti itu, dengan mempermainkan nyawa seseorang.


***


Kini mereka sedang menunggu Kia sadarkan diri. Pendonor darah yang di cari sudah di dapatkan. Dan akhirnya Kia berhasil melewati masa kritis nya.


"Kau Steve, kan?" tanya Shinta ketika melihat seorang pemuda yang sedari tadi mengikuti mereka, namun pemuda itu tidak membuka suara sama sekali. Rey dan Ronald juga bertanya-tanya akan ada nya lelaki itu. Tapi mereka sama sekali tidak ada niatan untuk bertanya secara langsung.


"Benar, Bu. Ibu masih mengenaliku?" tanya pemuda itu yang tak lain adalah Steve.


"Tentu saja ibu mengenalimu, Nak. Sini sayang, peluk ibu!" pinta Bu Shinta sambil merentangkan tangan nya. Seketika itu Steve langsung berjalan menghampiri bu Shinta dan memeluk wanita itu.


"Sudah lama sekali ibu tidak bertemu dengan mu, Nak. Ternyata kau sudah sebesar ini sekarang," Steve mendongakkan kepala nya menatap wajah Bu Shinta.


"Iya, Bu." Steve mengulas senyuman di bibir nya.


Rey hanya bisa diam sambil menatap ibu nya yang terlihat sangat bahagia, ketika melihat Steve. Pasalnya Rey tidak pernah bertemu dengan lelaki itu sebelum nya.


Ceklek


Tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka. Menampilkan sepasang pria dan wanita paruh baya, yang sedang berjalan masuk ke dalam.


"Edi, Mika," ucap bu Shinta ketika melihat siapa yang datang.


"Shinta, Reni," seru wanita yang di yakini bernama Mika tersebut.


"Papa, Mama," Steve pun ikut di kejutkan dengan kedatangan mama dan papa tirinya.


"Shinta ... Reni ... maafkan kesalahan anakku!" Mika berucap sambil berlutut di hadapan semua orang yang berada di ruangan itu.


"Mama ...." Steve langsung melepaskan pelukan nya dari Bu Shinta, dan berlari menghampiri mama nya. Steve membantu mama nya itu untuk berdiri.


"Aku tidak menyangka kalau Steve akan melakukan hal seperti ini untuk balas dendam. Kalau dari awal aku mengatakan yang sebenarnya, mungkin hal ini tidak akan terjadi," lanjut nya lagi.


"Aku minta maaf ...." Mika mulai menangis.


"Ma, mama tidak perlu minta maaf. Steve melakukan ini, agar papa bisa tenang disana!" ucap Steve sambil menatap mama nya.


"Kau tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, Steve. Biar ibu jelaskan semua nya,"


"Waktu itu, papa mu di vonis terkena penyakit jantung. Jadi, waktu kecelakaan yang hampir menimpa Lala dan Aldi, papa mu memang mendorong Aldi, sampai ia terbentur dinding dan kehilangan ingatan nya. Tapi, pada saat itu, papamu hanya tertimpa sedikit saja di bagian kaki nya. Dokter bilang, kalau bukan karena sakit jantung nya, mungkin papa masih bisa di selamatkan, Sayang. Itu semua bukan salah Aldi; Aldi tidak bersalah sama sekali. Mama saja sudah bisa mengikhlaskan papa, kenapa kau belum juga bisa?" Steve tertegun mendengar penjelasan mama nya.


"Apa yang mama katakan itu benar?" tanya Steve yang masih sedikit ragu.


"Untuk apa mama berbohong, Sayang." Mika memeluk tubuh Steve dan mengecup puncak kepala anak nya itu berulang kali. Tentu saja Steve sedikit menunduk, agar bisa lebih rendah dari mama nya. Steve merasa sangat bersalah.


"Tunggu, kenapa aku seperti familiar dengan kejadian itu?" Rey tiba-tiba mengacaukan momen haru itu.


"Al, aku minta maaf. Aku tidak tau kalau kejadian yang sebenarnya seperti itu. Maafkan aku yang selalu mencelakakan mu. Aku hanya ingin membalaskan dendam untuk papa ku saja," Rey semakin bingung ketika orang-orang memanggil nya dengan sebutan Aldi.


"Ada apa ini sebenarnya? kenapa aku jadi pusing seperti ini? tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi!"


Kini Rey beralih menatap ibu nya.


"Ibu ... tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi!" pinta Rey memohon kepada ibu nya.


"Duduklah disini!" pinta bu Shinta sambil menepuk kursi di sebelah nya. Rey pun menuruti perintah ibu nya, dan langsung mendudukkan tubuh nya di sebelah sang ibu.


"Apa kau belum mengingat kejadian masa kecilmu? termasuk kecelakaan itu?" tanya Bu Shinta kepada anak nya.


"Rey sering bermimpi seperti itu, Bu. Dan Rey sering bermimpi dua anak kecil bernama Lala dan Aldi. Sebenarnya siapa mereka itu, Bu?"


"Aldi itu kau, Nak. Lala itu, Bella mantan istrimu. Dan ini Steve. Dari kecil kalian sudah berteman dengan baik. Sampai pada kejadian kecelakaan yang membuatmu hilang ingatan, dan papa Steve meninggal. Ibu langsung membawamu pindah, supaya kau tidak harus merasa tersakiti, ketika harus mengingat kejadian-kejadian itu," ucap Shinta.


"Tunggu! Lala itu Bella istri Aldi, yang selama ini selalu ingin di hancurkan oleh Kia?" tanya Steve. Steve merasa bingung dengan kenyataan-kenyataan yang baru saja ia dapati. Begitu juga dengan Rey.


"Bun-da ...."