Let Me Still Love You

Let Me Still Love You
Apa benar?



Chelsea mencoba menghubungi nomor wanita yang saat ini sudah membuat nya sangat terpukul. Ia tidak akan memaafkan wanita itu, kalau sampai terjadi sesuatu pada bayi yang berada di dalam kandungan nya.


“Ada apa? Kau ingin memarahiku lagi? Atau kau ingin balas dendam padaku?” ucap seseorang dari sebrang sana.


“Tidak, Kia. Aku hanya ingin memberitahukan berita buruk untukmu,” ujar Chelsea.


“Berita buruk apa? Bukan nya yang menerima berita buruk itu kau?”


“Ya, seperti nya kau salah perkiraan, Kia. Karena saat ini, suamiku dan Rey baik-baik saja. Mereka telah sampai di kota A, dan tidak menaiki pesawat yang meledak itu,”


“Tidak mungkin, sudah jelas mereka menaiki pesawat itu,”


“Tidak Kia, kau salah. Mereka pergi menggunakan helikopter pribadi, jadi mereka tidak terkena ledakan itu,”


“Dan satu hal lagi, Kia. Kau tidak berhasil membuat persahabatan kami hancur, karena kami bersahabat memang karena sayang, bukan untuk balas dendam. Dan kau tunggu saja, polisi akan segera bergerak ke tempat mu.” Chelsea langsung mematikan telfon tersebut, dan meletakkan ponsel nya ke dalam tas kecil milik nya.


“Chelsea, sebaiknya kita jangan mengganggu dia lagi. Aku takut dia akan melakukan sesuatu padamu atau anakmu. Kau tau sendiri kan, kalau Kia tidak takut apapun. Dia bisa melakukan sesuatu yang berbahaya hanya untuk membuat orang yang di benci nya terluka. Bahkan, tidak perduli dengan nyawa orang lain. Jadi, kita harus berjaga-jaga, jangan pernah mendekati nya lagi. Kau ingat ya!” tutur Bella sambil memeluk sahabat nya itu.


“Maaf Bella, karena aku sempat tak mempercayaimu, dan malah termakan oleh omongan wanita gila seperti nya,” ujar Chelsea lirih sambil membalas pelukan Bella.


“Sudahlah, kau juga tidak tau apa-apa.”


“Tunggu! Apa pipimu masih sakit karena ku tampar tadi?” Chelsea mendongakkan kepala nya menatap Bella.


“Tidak, Chel. Aku tidak merasakan sakit waktu kau tampar, karena lebih menyakitkan lagi ketika mendengar kabar Rey telah tiada,” ujar Bella.


“Ya, kau benar Bella.”


“Ini baru sahabat ku.” Lily memeluk kedua sahabat nya itu.


***


Di dalam sebuah kamar yang sangat besar, dengan warna peach menjadi cat dari dinding kamar tersebut. Seorang wanita tengah duduk di tepi ranjang berukuran king size milik kekasih nya. Setelah menerima telepon dari seseorang, senyuman yang awal nya memenuhi wajah cantik nya, kini berubah menjadi ekspresi marah sekaligus kesal. Di lemparkan ponsel nya tersebut ke lantai, sehingga menimbulkan suara nyaring yang memenuhi kamar tersebut.


Keluar seorang pria dari kamar mandi hanya menggunakan kimono saja. Ia melihat ada benda yang berserakan di lantai, dan ternyata itu adalah handphone milik kekasih nya. Ia berjalan ke arah ranjang, menghampiri wanita itu.


“Sayang, ada apa denganmu? Mengapa kau membanting ponsel mu?” tanya lelaki itu yang tak lain adalah Steve, sambil merangkul bahu sang kekasih.


“Rey … Rey masih hidup,” Kata-kata Chelsea berhasil membuat Steve membelalak kan kedua mata nya dengan sempurna.


“Bagaimana bisa? Dari mana kau mengetahui nya, Sayang?” tanya Steve sambil menatap lekat mata Kia.


“Chelsea yang memberitahuku. Mereka tidak menaiki salah satu dari pesawat itu, karena mereka menaiki helikopter pribadi,” ucap Kia sambil masih memasang wajah kesal nya. Steve pun terlihat semakin kesal, itu terlihat dari rahang nya yang mulai mengeras saat ini.


“Tenanglah sayang! Kita jalankan rencana selanjut nya!” ujar Steve lalu membawa tubuh Kia kedalam pelukan nya.


***


Saat ini, tempat dimana Rey berada sedang terjadi hujan deras. Rey dan Ronald menginap di satu hotel, namun dengan kamar yang berbeda.


Rey menatap hujan dari balik jendela kamar hotel itu. Ia kembali teringat dengan Bella yang tidak takut dengan hujan, bahkan ia juga mengatakan kalau sangat menyukai hujan. Terulas senyuman di bibir nya, mengingat wajah menggemaskan istri nya tersebut yang baru ia sadari beberapa bulan ini.


Saat sedang memandangi foto istri nya dari layar ponsel milik nya. Tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar nya. Rey beranjak untuk membuka pintu kamar tersebut.


"Rey ...." Terlihat seorang wanita dengan pakaian nya yang basah sehingga memperlihat kan lekuk tubuh nya, begitu juga dengan rambut nya, yang membuat ia terlihat sedikit sexi. Rey sedikit terkejut melihat wanita itu. Ia menelan saliva nya dengan kasar, ketika melihat rok pendek wanita itu tersingkap ke atas, sehingga memperlihat kan paha mulus nya.


"Rey?" panggil nya lagi, karena melihat Rey malah diam menatap nya.


"Kia, untuk apa kau kemari?" Rey memalingkan wajah nya ke arah lain. Ia tidak mau tergoda oleh wanita itu.


"Rey, apa kau tak melihat aku sedang kedinginan? apa kau tidak ada niatan untuk menyuruh ku masuk terlebih dahulu?" ujar Kia sedikit gemetaran karena menahan dingin. Rey tidak memperdulikan omongan Kia. Ia takut masuk ke dalam jebakan wanita itu.


"Tidak! kau kan bisa menyewa kamar untuk mu sendiri, kenapa harus datang ke kamar ku? dan bagaimana kau bisa tau kalau aku ada disini?" ketus Rey yang sedikit bingung, namun ia tidak mau memikirkan nya dan langsung masuk ke dalam kamar. Ketika hendak menutup pintu kamar nya, Kia kembali berteriak.


"Rey, tunggu! ada yang mau aku bicarakan padamu. Aku mohon Rey ... kali ini saja," Akhirnya Rey pun mengizinkan wanita itu untuk masuk.


"Ingat! jangan berani macam-macam dengan ku!" ancam nya dengan menatap tajam mata Kia.


***


Kini mereka berdua tengah duduk di atas sofa dengan meminum secangkir kopi panas.


"Cepatlah katakan apa yang ingin kau katakan! kau sudah terlalu lama di sini," ketus Rey.


"Baiklah, Rey,"


"Rey ... kau telah di bohongi oleh Bella. Bella berulang kali mencoba mencelakai mu, Rey. Tapi kenapa kau malah terus mempercayai nya?" Rey mengernyitkan dahi nya.


"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu tentang Bella?" Suara Rey mulai meninggi.


"Rey, aku tidak berbohong padamu. Apa kau ingat saat rem mobil mu tidak berfungsi?dan apa kau ingat ledakan pada kedua pesawat beberapa hari yang lalu? Bella seolah-olah mengetahui bahwa hal itu akan terjadi," Kata-kata Kia membuat Rey berpikir bahwa memang benar apa yang di katakan oleh wanita itu.


"Apa yang di katakan Bella saat rem mobil mu tidak berfungsi?" tanya Kia.


"Bella mengatakan bahwa ia ingin meminjam mobil ku untuk ke rumah ibu,"


"Dan waktu kau akan menaiki pesawat?"


"Bella menyuruh ku pulang hanya untuk membelikan ibu martabak," ujar Rey lagi sambil terlihat masih berfikir.


"Apa kau tidak curiga dengan itu semua? Bagaimana mungkin ibu mu menyuruh pulang hanya untuk hal sepele seperti itu?" Otak Rey berputar memikirkan apa yang di katakan oleh Kia.


"Rey, sudah ku katakan berulang kali padamu. Bella tidak benar-benar mencintaimu saat kau terakhir kali menolak nya. Bella hanya ingin balas dendam padamu, Rey. Dari dulu sampai saat ini, hanya aku yang mencintaimu. Kenapa kau malah tidak mempercayai ku, Rey?" Kini air mata Kia sudah mengalir membasahi kedua pipi nya. Rey pun menjadi tidak tega melihat nya.


"Apa benar apa yang di katakan Kia tentang Bella? ya Tuhan ... kepalaku seperti mau pecah memikirkan hal ini." Batin Rey sambil masih menatap nanar Kia yang tengah menangis.