
“Bella, aku tidak menyangka kalau Rey akan sebaik itu padamu. Aku masih ingat bahwa dulu Rey sangat membencimu,” ujar Lily yang langsung mendapat tatapan tajam dari Chelsea.
“Kenapa mulut mu itu tidak bisa kau jaga sama sekali!” Chelsea merasa kesal melihat Lily yang selalu saja terus terang dengan apa yang sebenar nya terjadi.
Lily langsung membungkam mulut nya dengan kedua tangan nya. ”Maaf,” Ucap nya lirih.
“Sudah lah, Chels. Aku juga tidak menyangka ini semua akan terjadi,” Kia hanya memandang Bella dengan tatapan tidak suka.
“Aku akan membuat Rey kembali membencimu Bella,” batin Kia sambil tersenyum licik.
“Apa kalian akan pergi lagi ke Jerman? “ tanya Bella pada kedua teman nya.
“Tidak, Bella! Kami akan menetap disini.” Ucapan Chelsea seketika membuat Bella langsung melebarkan senyum nya.
“Benarkah?“ tanya Bella memastikan. Kedua sahabat nya itu mengangguk yakin.
“Terima kasih.” Bella kembali memeluk kedua sahabat nya itu.
“Kalian ini suka sekali berpelukan,” cibir Kia. Bella langsung melepaskan pelukan nya dari Chelsea dan Lily, lalu berjalan ke arah Kia dan memeluk wanita itu. Tidak ada dendam sedikit pun di dalam hati Bella, walau bagaimanapun perlakuan Kita terhadap nya. Begitu juga dengan Chelsea dan Lily yang ikut memeluk Kia.
***
Saat ini mereka berempat sedang berada di dapur, mereka tengah memasak untuk makan malam. Terlihat Rey sedang menuruni satu persatu anak tangga.
“Bella, apa kau sungguh tidak mau memiliki anak dari Rey?” ujar Kia dengan suara yang cukup keras.
“Apa yang sedang kau bicarakan Kia? Aku tidak mengerti apa maksudmu? “ Bella berjalan menghampiri Kia, begitu juga dengan kedua teman nya.
“Kalau kau benar-benar ingin mempunyai anak dari Rey, untuk apa kau membeli obat kontrasepsi ini,” Kia menunjukkan obat yang tengah ia pegang di tangan nya. Mata Bella begitu terperangah melihat obat tersebut, pasal nya Bella tidak pernah membeli obat apapun. Chelsea dan Lily pun ikut terkejut melihat obat yang sedang di pegang oleh Kia.
Mendengar ada nya perdebatan dari dapur, Rey langsung berjalan menghampiri mereka.
“Rey,” Ucap Bella lirih ketika melihat Rey datang menghampiri mereka. Ia takut kalau Rey akan salah paham terhadap nya.
“Ya tuhan ... bagaimana ini? apalagi yang di rencanakan oleh Kia. Baru saja aku mendapatkan perhatian dari Rey, kenapa harus secepat ini harus berakhir,“ batin Bella sambil menahan air mata nya yang akan jatuh.
Rey berjalan mendekati Bella, ia langsung memegang wajah istrinya itu menggunakan kedua tangan nya, Rey menatap lekat kedua mata istrinya.
“Sayang … aku percaya padamu.” Ucap Rey lembut sambil menarik Bella ke dalam pelukan nya. Bella tak menyangka mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Rey, seketika tangis nya langsung pecah di dalam pelukan lelaki itu, yang membuat kaos yang sedang di pakai oleh Rey menjadi basah.
“Begini kah rasanya dipercayai oleh orang yang kita sayang? Terima kasih Rey, kau sudah mau mempercayai ku.” Batin Bella.
Kia seolah tidak percaya dengan sikap Rey yang berubah secepat itu pada Bella, bahkan hanya dalam hitungan hari saja.
“Rey, jelas-jelas obat ini ada disini,” ucap Kia sambil menyodorkan obat tersebut kepada Rey.
“Bagaimana bisa Bella membeli obat seperti itu, sedangkan ia tidak pernah keluar rumah jika tidak dengan ku,” Kata- kata Rey itu membuat Bella langsung melepaskan pelukan Rey dan menatap mata lelaki itu. Bella sangat senang melihat Rey membelanya.
“Mungkin dia memesan nya dari orang lain,” seru Kia lagi, ia tidak mau mengalah.
“Letakkan obat itu di atas meja, dan jangan ada lagi yang menyentuh nya! Aku akan membawa nya untuk memeriksa sidik jari pada obat tersebut,” Kata- kata Rey membuat Kia bungkam, ia tidak berani untuk menjawab perkataan Rey lagi. Kia memilih untuk pergi meninggalkan rumah tersebut.
“Kalau tadi Ronald tidak menceritakan yang sebenarnya padaku, mungkin sekarang aku sudah percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kia,” batin Rey.
Bella hendak berlari mengejar Kia, namun tangan Rey terlebih dulu menarik nya.
“Kau mau pergi ke mana?”
“Biarkan saja dia! Untuk apa dikejar?”
“Tidak, Rey. Bagaimana pun juga, Kia tetap sahabat ku. Ini sudah hampir larut Rey, sangat tidak baik jika wanita berada di luar saat jam segini,”
“Kau masih mau menganggap nya sebagai sahabatmu, setelah dia melakukan hal ini kepadamu?“ Rey heran melihat sikap Bella yang terlalu baik menurut nya.
“Bella, kau disini saja. Biar kami yang menyusulnya,” ujar Chelsea, dan Lily pun mengiyakan perkataan Chelsea.
“Kami sekalian pamit pulang ya. Kalau ada waktu, kami akan main kesini lagi.” Chelsea dan Lily langsung pergi meninggalkan Rey dan Bella.
“Rey … terima kasih karena kau sudah mempercayaiku.” Ucap Bella sambil menunduk.
“Sudah seharusnya kita saling percaya satu sama lain,” Rey langsung menarik Bella ke dalam pelukan nya.
“Maafkan sikapku selama ini yang selalu saja menyakitimu Bella,” ucap Rey lirih sambil mengecup puncak kepala istrinya. Mendengar kata-kata Rey tersebut, Bella langsung menangis di dalam pelukan suami nya itu.
***
Pagi itu Rey dan Bella tengah sarapan di meja makan. Tiba-tiba bel rumah berbunyi. “Siapa yang berkunjung pagi-pagi seperti ini?” ucap Rey kesal.
“Biar aku saja yang membukakan pintu nya!” Bella langsung melangkahkan kaki nya menuju pintu rumah. Ketika di buka nya pintu rumah tersebut, terlihat lah seorang wanita paruh baya tengah membawa dua buah tas.
“Maaf bu, saya mau tanya. Apa benar ini rumah Pak Rey?“ ucap wanita itu dan Bella mengangguk.
“Siapa, Sayang?” tanya Rey sambil berjalan menghampiri Bella.
“Saya teman nya Mbak Siti yang bekerja di rumah Bu Shanti, Pak Rey. Saya datang kesini karena kata Mbak Siti, bapak membutuhkan asisten untuk mengurus rumah,” jelas wanita paruh baya itu.
“Berarti Bibi yang akan bekerja disini?” tanya Rey, dan wanita itu pun mengiyakan nya.
“Ayo masuk, Bi! Sini biar Bella bantuin bawa tas nya, Bi!” pinta Bella sambil mengulurkan tangan nya untuk membantu wanita itu membawa kedua tas nya yang cukup besar.
“Jangan, Bu. Biar saya saja yang bawa,” ucap wanita itu
“Panggil Bella saja, Bi. Tidak enak seperti nya, kalau Bibi manggil Bella dengan sebutan Ibu,” ucap Bella,
“Tapi, Bu-“
“Bi,” Wanita itu pun akhirnya mengangguk mengiyakan permintaan Bella.
“Nama Bibi siapa?”
“Nama saya Ira,” jawab Bi Ira sambil tersenyum.
“Ooh Bi Ira. Ya sudah kalau gitu, sini Bi Ira tas nya, biar Bella bantuin bawa masuk ke dalam!” Bi Ira kembali menolak, akhirnya Rey pun ikut turun tangan.
“Sudah, Bi! biar Rey saja yang membawakan tas nya ke dalam,” Rey langsung mengambil tas tersebut dan membawa nya masuk ke dalam.
***
Setelah mengantarkan Bi Ira menuju kamar nya. Rey berpamitan kepada Bella untuk pergi bekerja. Sepeti biasanya, Bella mencium tangan Rey dan Rey mencium kening Bella.
“Kenapa dia baik sekali ya? hanya dengan asisten saja dia bisa sebaik itu,” gumam Rey yang sudah berada di dalam mobil sambil memperhatikan Bella melalui jendela mobil nya. Lalu Rey melambaikan tangan nya kepada Bella, dan melajukan mobil nya menuju ke perusahaan nya. Bella hanya diam memperhatikan mobil suaminya sampai sudah tidak terlihat lagi oleh nya, barulah Bella masuk ke dalam rumah.