
Rey memarkirkan mobil nya di pekarangan rumah nya. Ia mematikan mesin mobil tersebut dan langsung turun. Rey melangkahkan kaki nya menuju rumah.
Sebelum Rey membuka pintu rumah tersebut, tiba-tiba handle pintu itu bergerak. Pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan seorang wanita dengan senyum yang mengembang di wajah nya.
"Rey, kau sudah pulang? kenapa cepat sekali?" ucap Bella sembari mengambil tas kerja dari tangan suami nya.
"Apa kau tidak suka kalau aku pulang cepat? atau kau tidak suka melihat ku?" tanya Rey sambil menajamkan kedua mata nya.
"Mana mungkin aku tidak suka melihat mu, justru aku malah senang karena kau pulang lebih awal," ucap Bella sedikit gugup.
"Ya sudah, ayo masuk!" Rey langsung merangkul pinggang Bella dan mengajak wanita itu untuk masuk ke dalam. Tak lupa Rey menutup kembali pintu rumah nya.
***
Di dalam kamar, Rey tengah membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil meletakkan tangan nya di atas dahi nya. Bella masih memperhatikan suami nya itu.
"Rey, apa kau lelah?" Rey langsung membuka matanya dan melirik ke arah Bella.
"Apa mau ku buatkan kopi?" Rey hanya berdehem saja. Bella langsung melangkahkan kaki nya keluar dari kamar menuju dapur, untuk membuatkan kopi untuk suami nya.
***
"Nona sedang apa?" tanya bi Ira yang baru keluar dari kamar nya dan melihat Bella tengah melakukan sesuatu di dapur.
"Bi ... kan sudah Bella bilang, panggil Bella saja, Bi!" ucap Bella sambil melihat Bi Ira. Bi Ira teringat kembali dengan apa yang di katakan Bella tadi pagi kepada nya.
"Ehm iya Bella, bibi lupa!" Bi Ira tersenyum sambil menampakkan gigi nya, Bella pun membalas senyuman Bi Ira.
"Bella sedang membuat apa?"
"Membuatkan kopi untuk Rey, Bi."
"Biar bibi saja yang membuat nya, Bella balik saja ke kamar! nanti Bibi antar ke atas kopi nya," Bella menggelengkan kepala nya.
"Tidak, Bi! biar Bella saja ya. Lagian kan ini untuk suami Bella, jadi harus Bella sendiri yang membuat nya, kan," ucap Bella sembari menepiskan senyumnya.
"Ya sudah, terserah Bella saja. Tapi nanti kalau perlu bantuan, panggil Bibi saja, ya!"
"Siap, Bi." Bella tersenyum sambil memberi hormat pada Bi Ira. Bi Ira hanya tertawa melihat nya.
***
Bella telah selesai membuatkan kopi untuk Rey. Ia beranjak pergi menuju kamar nya. Akan tetapi tiba-tiba Bella merasa kepala terasa sangat berat.
Prang
Gelas berisi kopi yang sedang ia bawa terlepas begitu saja dari tangan nya. Bella langsung berpegangan pada tangga, ia hampir saja ikut terjatuh. Bi Ira yang mendengar suara tersebut pun langsung menghampiri ke arah asal suara.
"Bella," Bi Ira langsung berlari menaiki tangga dan memegang Bella. Wajah wanita itu terlihat sedikit pucat.
"Bella kenapa? apa kamu sakit?" tanya Bi Ira dengan nada khawatir. Bella menggelengkan kepala nya lalu menaikkan kedua sudut bibir nya membentuk senyuman, walaupun terlihat sangat jelas bahwa senyuman nya itu terpaksa ia perlihatkan agar orang tidak khawatir kepada nya.
Bella melepaskan tangan bi Ira yang sedang memegang tubuh nya. Bella mencoba untuk berdiri tanpa bantuan bi Ira dan tangga.
"Lihat, Bi! Bella nggak papa, kan. Bella baik-baik saja Bi," ucap Bella sambil merentangkan tangan nya.
"Udah bibi balik aja ke kamar, Bella bisa jalan sendiri kok," ucap nya sambil tersenyum.
"Tapi Bel-"
"Bella, hidung kamu kenapa, Nak?" bi Ira semakin khawatir dengan Bella. Bella masih tersenyum, dengan keadaan seperti itu Bella masih bisa tersenyum, sebenarnya apa yang ada di fikiran Bella.
Bella merasa nyaman di dalam pelukan bi Ira, apalagi ketika bi Ira memanggil nya dengan sebutan "Nak", sungguh Bella merasa ibu nya seperti berada di dekat nya saat ini.
"Bella, bangun nak!" ucap bi Ira sambil menepuk pelan pipi Bella.
"Bi, bawa Bella ke kamar bibi!" pinta Bella dengan suara lemah. Bi Ira mengernyitkan dahi nya.
"Kenapa tidak ke kamar Bella saja?"
"Bi," Suara Bella terdengar semakin melemah, Bi Ira tidak punya pilihan lain selain membawa Bella ke kamar nya.
***
Setelah meletakkan Bella ke atas tempat tidur, bi Ira berlalu ke dapur untuk mengambil tisu. Bi Ira kembali dengan membawa tisu dan segelas air minum.
Bi Ira membasahi tisu tersebut, lalu mengusapkan nya ke hidung Bella yang masih mengalir darah di sana. Setelah dirasa darah tersebut sudah tidak keluar lagi, Bi Ira memberikan minuman kepada Bella.
"Minum dulu, Nak!" Bi Ira membantu Bella untuk duduk bersandar pada dinding ranjang. Wanita itu menyodorkan gelas berisi air yang tadi ia bawa dari dapur. Bi Ira membantu Bella untuk minum.
"Terima kasih, Bi." Bella mulai tersadar, ia merasa sudah tidak terlalu pusing seperti tadi.
"Bella, kamu sakit apa?" tanya Bi Ira ketika melihat Bella sudah bisa membuka mata nya dengan sempurna.
"Bella cuma kecapean aja kok Bi, Bella nggak papa,"
"Beneran?"
"Iya Bi, beneran." Namun Bi Ira masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh Bella.
"Bi,"
"Iya,"
"Bi, jangan bilang ke Rey tentang apa yang baru saja terjadi ya, Bi. Aku takut kalau Rey tau, dia bisa khawatir, Bi," tutur Bella. Bi Ira pun mengiyakan nya.
Tok ... tok ... tok ....
Ada suara ketukan pintu dari luar kamar Bi Ira. Bi Ira langsung berlari dan membukakan pintu kamar itu.
"Tuan Rey," ucap Bi Ira ketika tau bahwa yang mengetuk pintu kamar nya adalah Rey.
"Bi, panggil nya Rey saja," ucap Rey dan bi Ira pun mengangguk.
"Apa Bella ada disini, Bi? soal nya tadi dia bilang mau membuatkan Rey kopi, tapi sampai sekarang dia belum kembali ke kamar, Bi. Sudah Rey cari keliling rumah, tapi tidak ada juga, Bi," Bi Ira hanya diam.
"Dan tadi Rey juga melihat ada pecahan gelas di tangga, dan ada noda hitam seperti kopi. Apa itu kopi yang di buatkan Bella untuk Rey?" Bi Ira masih diam tak bergeming, ia bingung harus menjawab apa.
"Rey," Tiba-tiba Bella keluar dari kamar Bi Ira.
"Bella, apa kau baik-baik saja?" ucap Rey sambil menarik tangan Bella.
"Auww," Bella meringis kesakitan. Ia tidak tau kalau tangan nya terluka. Mungkin tadi ketika kopi yang ia bawa terjatuh, kopi tersebut mengenai tangan nya.
"Kenapa tangan mu? Apa karena tersiram kopi yang kau buatkan untuk ku? jadi yang di tangga itu benar-benar kopi yang kau buat untuk ku?" tanya Rey sambil memegangi tangan Bella. Bella hanya mengangguk lalu menundukkan kepala nya.
"Kenapa kau tidak berhati-hati, bagaimana bisa tangan mu sampai terluka seperti ini? Apa ini sangat sakit?" Rey meniup tangan Bella lalu dicium nya tangan tersebut. Terlihat jelas kekhawatiran di wajah lelaki itu. Bella merasa rasa sakit nya seketika hilang karena melihat reaksi Rey yang seperti itu terhadap nya. Ia sangat senang karena Rey mengkhawatirkan nya.