
Keesokan pagi nya, Rey sudah siap dengan koper yang tengah di tarik nya. Sebelum berangkat ke bandara, Rey terlebih dulu mengantar Bella dan bi Ira ke rumah ibu nya.
Saat perjalanan, tidak ada yang berniat berbicara satu orang pun sampai mereka sampai di kediaman Bu Shinta.
"Bu, Rey titip istri Rey yang nyebelin ini ya, Bu!" ujar Rey sambil mengacak-acak puncak kepala Bella.
"Rey," Bella mengerucutkan bibir nya. Rey terkekeh geli melihat nya. Bu Shinta, bi Ira dan bi Siti hanya tertawa melihat tingkah pasutri yang satu ini.
"Bu, bi, Rey pamit, ya!" Rey menyalami tangan ibu nya, dan kedua asisten rumah yang sudah di anggap nya sebagai ibu nya sendiri.
"Sayang, aku pergi dulu, ya!" ucap Rey sambil mencium kening Bella. Bella pun mengangguk.
"Rey ayo cepat, kita hampir deadline!" teriak Ronald yang sudah berada di dalam taksi yang sedari tadi menunggu Rey.
Rey pun langsung bergegas menemui sahabat nya itu dan memasuki taksi tersebut. Rey melambaikan tangan nya ke arah ibu, bibi, dan juga istri nya.
***
30 menit setelah Rey pergi, Bella mendapat telepon dari Kia.
"Bella ... tempo hari kau bisa menyelamatkan Rey dari rem mobil nya yang tidak berfungsi. Tapi kali ini, kau tidak bisa menyelamatkan Rey dari kecelakaan pesawat. Aku sudah memasang bom di dalam pesawat yang akan di naiki oleh, Rey."
Sambungan telepon tersebut langsung terputus. Bella panik apa yang harus di lakukan nya saat ini. Setelah 30 menit, seharusnya Rey sudah sampai di bandara saat ini.
"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?"
Bella langsung pergi mencari Bu Shinta. Bella berbicara kepada Bu Shinta, bi Ira dan bi Siti, tentang apa yang akan di lakukan oleh Kia. Bu shinta menyuruh Bella untuk menelpon Rey, Bella pun langsung mengikuti perintah ibu mertuanya itu.
Tersambung
"Rey," panggil Bella ketika telepon tersebut telah di angkat oleh Rey.
"Iya sayang, ada apa?"
"Rey, apa kau sudah naik pesawat?"
"Belum, tapi sekarang kami akan naik,"
"Jangan, Rey!"
"Kenapa?"
"Aa ... ehmm ... ibu, ibu Rey?" Bella mulai gugup.
"Ada apa dengan ibu?" Rey nampak bingung sekaligus khawatir.
"Cepat lah pulang, Rey!" ucap Bella yang langsung mematikan sambungan telepon nya. Rey semakin bingung dengan apa yang baru saja Bella katakan tentang ibu nya.
Rey langsung memundurkan jadwal penerbangan nya, dan pulang ke rumah bersama Ronald menaiki taksi.
***
Setelah 30 menit, akhir nya mereka sampai di kediaman ibu nya Rey. Rey turun dari taksi dan langsung berlari ke dalam rumah. Di dalam rumah, Rey melihat ibu, istri dan kedua asisten rumah nya tersebut sedang duduk di sofa. Rey langsung berjalan menghampiri mereka.
"Bu, ibu kenapa?" Rey meraba-raba tubuh ibu nya untuk mengecek ada yang terluka atau tidak.
"Hey, ibu baik-baik saja." Ujar Bu Shinta yang membuat Rey mengerutkan kening nya.
"Jadi, untuk apa Bella menelepon Rey untuk pulang?" tanya Rey
"Ibu ingin di belikan martabak durian," ucapan Bu Shinta membuat Rey seketika membelalak kan kedua mata nya.
"Hanya martabak durian, Rey harus membatalkan penerbangan," Rey berucap sambil mengepalkan tangan nya.
"Diamlah!" Rey langsung menatap tajam ke arah sahabat nya itu. Seketika itu, Ronald langsung bungkam.
"Ibu, kan ibu bisa membeli nya sendiri, atau ibu juga bisa memesan nya," ujar Rey.
"Jadi, kamu tidak bersedia membelikan ibu martabak durian?" Rey pun menggeleng.
"Iya Bu, Rey belikan sekarang!" Rey langsung beranjak keluar rumah dan menaiki mobil nya dengan perasaan kesal.
***
Setelah 35 menit, akhirnya Rey sampai di rumah dengan membawa martabak di tangan nya.
"Ini Bu, martabak untuk ibu!" ujar Rey sambil memberikan martabak tersebut kepada ibu nya. Terlihat senyuman yang terulas di bibir ibu nya melihat martabak yang sedang di bawa nya.
"Terima kasih, Nak." Shinta mengambil martabak tersebut dari tangan anak nya.
"Bu, Rey pamit dulu ya!" pamit Rey yang kembali menyalami tangan ibu nya.
"Iya, Nak. Berhati-hati lah!" tutur Shinta sembari mengecup kening sang anak sedikit lebih lama.
"Iya, Bu." Rey menjauhkan tubuhnya dari ibu nya, dan mengembangkan senyum nya.
"Sayang, aku pamit ya!" Bella pun hanya mengangguk.
Rey dan Ronald kembali pergi ke bandara. Mereka memundurkan penerbangan 2 jam kedepan.
***
Di ruang keluarga rumah Bu Shinta, mereka sudah bisa bernafas lega karena Rey bisa selamat dari kecelakaan maut tersebut.
1 jam setelah keberangkatan pesawat Rey, tiba-tiba saluran televisi memberitakan bahwa ada 2 pesawat yang tiba-tiba saja meledak tanpa tau penyebab nya, pesawat tersebut bertujuan ke kota A. Itu adalah tujuan Rey, dan pesawat kedua adalah pesawat yang saat ini di naiki oleh Rey, pesawat yang pertama adalah pesawat yang gagal di naiki oleh Rey.
Seketika itu air mata bella langsung mengalir, begitu juga dengan Bu Shinta.
Di kabarkan bahwa tidak ada satu orang pun yang selamat dari ledakan itu, karena memang pesawat tersebut seperti sudah diatur oleh seseorang agar tidak ada yang menaiki nya. Bella dan bu Shinta langsung menangis histeris.
"Tidak, Bu! berita ini pasti palsu, iya kan, Bu?" Bella menangis sambil memeluk Bu Shinta.
"Nak ibu juga berharap seperti itu, Sayang." Ujar Shinta sambil mengeratkan pelukan nya terhadap menantu nya itu.
Drrtt ... drrtt ....
Tiba-tiba handphone Bella berbunyi, nama yang tertera di sana adalah Kia. Bella langsung mengangkat telepon tersebut.
"Kejutan Bella ... kau pasti sangat terkejut melihat berita yang ada di televisi saat ini, kan. Itu berita asli Bella, bukan settingan. Aku tau kau pasti akan memberitahukan Rey untuk menunda penerbangan nya, maka nya aku sengaja memasang 2 bom di dalam pesawat yang mengarah ke kota A." Ujar Kia di iringi dengan tawa puas nya.
"Kau lihat sendiri kan Bella, karena dirimu orang-orang yang kau sayangi jadi terluka, orang yang berada di dekat mu terluka, penumpang pesawat yang tidak berdosa pun juga ikut mati karena mu. Sudah ku katakan padamu, jangan pernah bermain-main dengan ku, karena kau akan tau sendiri akibat nya!" Lanjut nya lagi.
"Saat ini, aku hanya perlu mengambil orang-orang yang kau sayangi yang berada di sekitar mu, setelah aku puas melihat mu tersiksa, giliran mu akan datang Bella hahaha," Kia langsung mematikan sambungan telepon nya. Tangisan Bella semakin histeris mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Kia.
"Kia ... kenapa kau begitu tega kepadaku, Ki?"
"Ibu ... ini salah Bella Bu, ini salah Bella," Bella berteriak sambil memukul-mukul kepala nya dengan cukup keras.
"Tidak sayang, ini bukan salah kamu," ujar Bu Shinta sambil menarik Bella ke dalam pelukan nya, untuk menenangkan wanita itu.
"Rey Bu, Rey pasti masih hidup," ucap Bella dengan suara yang mulai melemah.
"Sayang, ini mungkin sudah takdir tuhan, kita tidak bisa menyangkal nya. Kita hanya bisa mendoakan Rey, semoga dia selamat dari kecelakaan maut itu." Ujar Bu Shinta menenangkan menantu nya, walaupun ia juga tidak kuat menerima kenyataan ini. Ibu mana yang tidak terluka ketika mendengar kabar anak nya kecelakaan.
Di ujung sana, Bu Siti dan bi Ira pun ikut menangis mendengar berita itu. Pasal nya mereka juga sudah menyayangi Rey seperti anak mereka sendiri.