Let Me Still Love You

Let Me Still Love You
Kau takut merindukan ku?



Pagi ini Rey sudah rapi dengan pakaian yang melekat di tubuh nya dan dengan tas kerja yang di pegang nya. Bella mengantarkan suami nya tersebut sampai ke depan pintu rumah.


"Jangan pulang terlalu larut!" ujar Bella saat Rey sudah masuk ke dalam mobil nya.


"Kenapa? kau takut merindukan ku?" tanya Rey sambil menaikkan sebelah alis nya untuk menggoda istri nya itu.


"Rey, kau ini menyebalkan sekali!" cetus Bella sambil mengerucutkan bibir nya. Rey terkekeh geli.


"Tunggu aku pulang, Sayang!" Rey sengaja melembutkan kata sayang yang sedang di ucapkan nya, seraya mengedipkan sebelah mata nya ke arah istri nya.


"Rey ... berhenti menggodaku!" Bella langsung menutupi wajah nya yang saat ini sedang memerah. Rey hanya bisa tertawa melihat tingkah istri nya yang begitu menggemaskan menurut nya.


Rey hendak turun dari mobil dan mencium kedua pipi wanita itu dengan gemas. Namun diurungkan nya niat itu, karena melihat Bella sudah berlari masuk ke dalam rumah. Rey pun menatap nya sambil masih terkekeh geli.


***


Setelah Rey pergi, Bella duduk-duduk di sofa bersama Bi Ira. Mereka bercerita sambil sesekali tertawa karena pembahasan yang sedang mereka bahas terasa lucu.


Tiba-tiba bel rumah berbunyi, bi Ira langsung beranjak dari duduk nya menuju pintu rumah dan membuka kan pintu tersebut.


Terlihat lah dua wanita yang sedang berdiri di sana, dengan mengembangkan senyum nya menatap ke arah bi Ira. Bi Ira pun bertanya kepada mereka.


"Maaf, mau mencari siapa?" tanya bi Ira pada kedua wanita itu.


"Apa Bella ada, Bi?" tanya seorang wanita yang ternyata adalah Chelsea. Bi Ira pun mengangguk.


"Nak Bella ada di dalam, kalian teman nya nak Bella?" tanya bi Ira lagi, Chelsea dan lily pun mengangguk sambil menampilkan senyum mereka.


"Silahkan masuk!" bi Ira mempersilahkan mereka berdua untuk masuk. Chelsea dan Lily pun masuk kedalam setelah mengucapkan terima kasih kepada bi Ira.


Bi Ira menutup kembali pintu rumah tersebut, dan mengikuti Chelsea dan Lily dari belakang.


***


"BELLA!" Teriak Lily ketika melihat Bella yang tengah duduk di sofa. Lily langsung berhambur ke dalam pelukan sahabat nya itu, Bella pun menyambut nya dengan senang hati. Namun, perhatian Bella teralihkan ketika melihat sahabat nya yang baru saja menikah kemarin.


"Hey Chelsea, kenapa kau ikut kemari? seharusnya kan kau sedang berbulan madu saat ini," ujar Bella sambil melepaskan pelukan Lily, kata-kata Bella membuat Chelsea memajukan bibir nya kedepan.


"Jadi, kau tidak suka aku datang kesini? ya sudah, aku pulang saja!" kata Chelsea yang langsung membalikkan tubuh nya.


"Hey, kenapa kau jadi marah seperti ini? aku kan hanya berniat untuk memperingati mu. Kau kan baru saja menikah, lantas kenapa suami mu kau tinggalkan sendiri di rumah?" Chelsea langsung menghentikan langkah nya, ia membalikkan kembali tubuh nya menjadi menatap Bella.


"Kau tanya kan saja pada Lily!" ketus Chelsea seraya membuang wajah nya ke lain arah.


"Lily," Bella bergantian menatap Lily. Lily tersenyum kecut ke arah Bella.


"Hehe aku yang mengajak nya kesini," ujar Lily sambil tertawa receh.


"Kau ini, tidak berubah dari dulu," ujar Bella sambil mengacak-acak puncak kepala sahabat nya itu. Bella pun menyuruh Chelsea untuk duduk di sebelah nya.


"Kenapa kau sangat ingin datang ke sini?" tanya Bella kepada Lily.


"Really?" Chelsea pun mengangguk.


"Kemarin ada kakak kelas kita waktu di SMA dulu, dia datang ke pesta pernikahan ku dan melamar Lily di sana," jelas Chelsea. Lily hanya tertunduk malu.


"Kalian berdua benar-benar menarik perhatian di pesta pernikahan ku," ketus Chelsea.


"Pertama kau dan Kia. Kedua, Lily dan yang akan menjadi suami nya nanti." Ucap Chelsea sambil mengerucutkan bibir nya.


"Maaf Chelsea," ujar Bella dan Lily lirih.


"Hey, aku hanya bercanda. Mana mungkin aku berpikiran seperti itu pada kedua sahabat ku ini," Chelsea langsung memeluk kedua sahabat nya itu.


"Apa kau baik-baik saja? Aku tidak menyangka bahwa Kia akan melakukan hal itu pada mu, Bella. Kenapa Kia bisa sampai seperti itu?" ujar Chelsea sambil melepas pelukan nya.


"Sudah lah biarkan saja!" Bella menepiskan senyum nya.


"Nasib kita sama, ya," ucap Lily yang membuat kedua sahabat nya itu langsung menatap ke arah nya.


"Sama-sama menikahi orang yang tidak kita cintai. Beda nya, Bella menikahi orang yang dia cintai, tapi tidak mencintai nya. Dan syukur lah, sekarang Rey sudah bisa mencintai Bella," celetuk Lily yang membuat Chelsea langsung mencubit lengan sahabat nya itu. Lily meringis karena merasa cubitan Chelsea menyakiti nya.


"Apa kau tidak bisa menjaga kata-kata mu sedikit saja?" Chelsea menajamkan mata nya ke arah Lily. Bella hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabat nya itu.


***


2 Minggu telah berlalu, hubungan Rey dan Bella berjalan dengan baik, bahkan semakin baik dari sebelum-sebelumnya. Walaupun Rey belum bisa memastikan, kalau ia sudah jatuh cinta pada istri nya.


"Sayang," panggil Rey, namun Bella tidak menghiraukan nya.


"Sayang, ada apa dengan mu?" Bella masih saja diam dengan melipat kedua tangan nya di depan dada.


"Say-" Kata-kata Rey terputus karena Bella tiba-tiba menyambung nya.


"Apa kau jadi pergi?" tanya Bella dengan pandangan masih lurus ke depan, ia tidak mau menatap suami nya.


Rey menahan senyum nya. "Jadi, karena itu kau cemberut seperti ini. Menggemaskan sekali istri ku ini," ujar Rey sambil mencubit pelan kedua pipi istri nya.


"Rey ... aku serius," Rey pun menatap mata istrinya.


"Aku pergi hanya 5 hari saja, Sayang. Dan itu juga karena kepentingan perusahaan," ujar Rey menjelaskan. Bella pun hanya diam mendengarkan nya.


2 hari yang lalu, Rey meminta izin pada Bella, bahwa untuk beberapa hari ke depan, ia harus pergi ke luar kota untuk mengurus masalah perusahaan.


"Ya sudah, tapi hanya 5 hari saja ya, jangan lebih!" cetus Bella sambil memberi ancaman pada nada bicara nya.


Rey pun terkekeh geli. "Apa kau takut merindukan ku, Sayang?" Rey berbisik tepat di telinga Bella. Bella langsung menjauhkan Rey dan berlari menuju kamar mandi.


"Kau ini lucu sekali, Bella. Baru seperti itu saja sudah malu, menggemaskan sekali," batin Rey sambil menatap Bella yang hampir masuk ke dalam kamar mandi.


"Kenapa jantung ini selalu saja tidak bisa berhenti berdetak dengan kencang ketika berada di depan Rey? Wajah ini juga, kenapa harus memerah seperti ini. Dasar kau, membuat ku malu saja!" Bella berbicara pada dirinya sendiri dari pantulan cermin kamar mandi. Ia memegangi dada nya yang masih berdegup kencang mengingat Rey.