
"Hati-hati, La!" teriak seorang anak laki-laki saat melihat sebuah bangunan runtuh, yang akan menimpah anak perempuan yang sedang di kejar nya.
"Aldi, awas nak!" ucap seorang pria paruh baya dari belakang sana, yang langsung mendorong anak laki-laki yang bernama Aldi tersebut, sehingga kepala Aldi terbentur tembok dengan cukup keras.
Akibat menyelamatkan Aldi, pria paruh baya itu terkena runtuhan bangunan tersebut, yang membuat nya langsung tidak sadarkan diri, begitu juga dengan Aldi.
Mendengar suara yang cukup keras dari belakang nya. Anak perempuan yang di ketahui memiliki nama Lala tersebut sontak melihat ke belakang. Betapa terkejutnya ia saat melihat ada seorang pria yang tengah terbaring dan berlumuran darah.
Lala melihat ke sekeliling tempat, lalu ia mendapati seorang anak laki-laki tengah tergeletak di bawah sana. Terlihat kepala nya mengeluarkan sedikit darah, akibat benturan keras tadi.
"Tolong ... tolong!" Teriakan Lala berhasil membuat orang-orang berdatangan ke sana. Orang-orang tersebut langsung menolong pria paruh baya itu dan Aldi. Mereka langsung melarikan kedua nya menuju rumah sakit.
"Tolong ... tolong!" Bella yang mendengar suara teriakan seseorang yang tengah meminta tolong itu pun langsung terbangun dari tidur nya.
Bella membuka mata nya sedikit lebih lebar, walaupun rasa kantuknya masih belum benar-benar hilang. Bella bersusah payah untuk mengubah posisi nya, dari tertidur menjadi duduk.
Bella mengedarkan pandangan nya, mencari asal suara tersebut. Di dapati nya seseorang yang sedang tertidur di atas sofa panjang, masih dengan berteriak meminta tolong. Bella sangat mengenali suara tersebut, dengan postur tubuh yang sangat di kenali nya.
"Rey, bangunlah!" Teriak Bella. Namun Rey masih tetap saja berteriak.
"Rey, ada apa dengan mu? cepat bangunlah!" Bella semakin khawatir.
Bella mencoba untuk berdiri dari ranjang rumah sakit itu, tapi tubuh nya sama sekali tidak kuat menahan berat badan nya pada saat ini. Bella berulang kali mencoba untuk berdiri. Namun, lagi-lagi usaha nya gagal.
Bella bingung harus melakukan apa untuk membangunkan Rey, ia berusaha sekuat mungkin untuk berteriak, tapi rasanya ia sudah tidak sanggup lagi, tubuh nya sangat lemah. Bella melihat ada beberapa buah di atas nakas. Bella mengambil beberapa butir buah dan mencoba untuk melemparkan nya ke arah Rey.
Lemparan pertama menggunakan jeruk meleset. Bella mencoba untuk melempar sekali lagi menggunakan Jeruk, namun lagi-lagi tidak dapat mengenai sasaran. Lemparan ketiga, Bella sudah tidak kuat untuk melemparkan buah tersebut. Jangankan untuk melempar, bahkan untuk mengangkat nya saja ia sudah tidak sanggup.
Tapi, karena Rey terus menerus berteriak meminta tolong, Bella menjadi semakin khawatir. Akhirnya Bella melemparkan buah ketiga, yang tepat mengenai wajah Rey, atau lebih tepat nya lagi, kening laki-laki itu.
Karena merasakan sakit di keningnya, Rey langsung terbangun dan tersadar dari mimpi buruk itu.
"Kenapa rasa sakit nya seperti nyata?" batin Rey sambil memegangi kening nya.
Ia langsung mencari benda yang sudah membuat kepala nya menjadi sakit. Rey menemukan Apel di sebelah nya. Ya, Bella melemparnya dengan Apel, karena jeruk sudah tidak ada. Kalaupun masih ada Jeruk, mungkin Bella memang akan melemparnya menggunakan Apel, supaya laki-laki itu cepat sadar.
"Rey kau sudah sadar? apa kau baik-baik saja? apa kau bermimpi buruk? kau terus menerus meminta tolong, Rey. Kau membuatku khawatir," ucapan Bella membuat Rey menatap ke arah wanita itu, dan langsung tersenyum.
"Hey, ada apa dengan mu, Rey? kenapa kau tertawa? apa kau mendadak gila karena kepalamu ku lempar menggunakan Apel itu?" ucap Bella yang semakin khawatir. Rey hanya menggeleng yang membuat Bella semakin bingung.
"Rey, kau jangan membuatku khawatir! ada apa dengan mu?" Bella tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Rey. Rey beranjak dari duduk nya dan langsung berjalan menghampiri Bella yang sedang menatap nya.
Rey mendekatkan wajah nya ke arah wanita itu. Bella masih diam tak bergeming. Rey semakin mendekatkan wajah nya ke wajah istrinya.
"Rey, apa-apaan kau ini, siapa juga yang mengkhawatirkan mu? aku hanya takut kalau kau mati, aku yang akan masuk penjara, karena hanya ada kau dan aku di dalam ruangan ini," Bella berucap sambil memalingkan wajah nya. Ia tidak mau menatap Rey, karena saat ini jantung nya sedang ber maraton, tanpa memikirkan sang pemilik yang tengah berusaha menutupi suara dari jantung tersebut.
"Benarkah?" Rey mengulas senyuman ke arah Bella, dan menaikkan sebelah alis nya.
"Sudah, pergilah, Rey! aku ingin lanjut istirahat. Kau sudah mengganggu waktu istirahatku!" ucap Bella dan kembali membaringkan tubuh nya. Rey hanya bisa melihat Bella yang kini sudah terbaring dengan posisi membelakangi tubuh nya.
Sebelum pergi, Rey hendak mencium kening wanita itu, namun Bella telah mendorong nya terlebih dulu.
"Jangan sembarangan menciumku!" cetus Bella.
"Kenapa? kau kan istriku, jadi aku bebas melakukan apapun terhadapmu," tukas Rey.
"Termasuk menyakitiku, mangkhianatiku, dan menyelingkuhi ku, iya Rey?"
"Bukan seperti itu maksudku, Bella. Aku benar-benar mencintaimu," Rey merasa bersalah, karna ia sudah salah bicara.
"Cukup, Rey! kau tidak bisa mencintai dua wanita sekaligus dalam satu hati, karena itu akan menyakiti salah satu dari keduanya. Kalau kau memang tidak benar-benar mencintaiku, aku relakan kau bersama Kia. Aku tau dari dulu sampai sekarang, perasaanmu terhadap nya tidak pernah berubah. Maka dari itu, aku akan mengikhlaskan mu bersama nya," Bella berucap sambil menatap mata Rey.
"Kau tenang saja, aku akan membantumu untuk bersandiwara di depan ibu dalam beberapa waktu ini. Sampai ibu pulih kembali, aku akan meminta mu untuk menceraikan ku. Jadi, kau tidak perlu khawatir kalau ibu akan memarahi mu," lanjutnya lagi.
"Berbahagia lah dengan Kia, Rey! Wanita yang selama ini kau cintai. Aku berdo'a, semoga pilihan mu adalah yang terbaik." Sambung nya lagi. Kali ini Bella berbicara dengan menundukkan kepala nya. Mata nya sudah mulai berkaca-kaca. Air mata yang menggenang di pelupuk mata nya, sudah siap meluncur dari tempat nya. Tapi, Bella berusaha menahan air mata itu.
Bella tersenyum sebelum akhirnya ia kembali menutup mata nya dan tertidur. Walaupun ia sama sekali tidak bisa tidur.
"Maaf Rey, tapi aku masih akan tetap mencintaimu. Aku akan memastikan kalau kau bahagia, walaupun bahagiamu bukan bersama ku," batin Bella. Kini air mata nya sudah mulai meluruh membasahi pipi nya.
Ingin sekali Rey membalas perkataan Bella, namun lidah nya terasa keluh. Ia sangat bingung harus menjawab apa, karena yang ada di pikiran nya saat ini adalah keegoisan nya yang membuat orang yang sebenarnya ia cintai, merasakan sakit untuk kesekian kali nya.
"Bella, beri aku satu kesempatan lagi!" pinta Rey.
"Bella, ku mohon ... satu kesempatan lagi saja!" Rey kembali memohon, namun Bella sama sekali tidak memperdulikan nya.
"Bell-" kata-kata Rey terputus karena Bella lebih dulu menjawab nya.
"Rey, kalau kau memang tidak tulus mencintaiku, setidaknya jangan buat aku membencimu." Ujar Bella datar.
"Pergilah! sebelum aku benar-benar berkata kasar padamu!" lanjut nya lagi masih dengan nada datar, dan terasa sedikit menakutkan.
"Maafkan keegoisan ku, Bella. Aku akan berjuang untuk mendapatkan kembali cintamu. Dan sampai kau mau memberiku satu kesempatan lagi untukku." Batin Rey sambil berlalu pergi meninggalkan Bella dan keluar dari ruangan itu.