
Pagi ini Bella terbangun dari tidurnya, ia merasakan bahwa kaki nya terasa berat untuk di angkat, ternyata kaki Rey lah penyebab nya. Tangan Rey masih melingkar di pinggang nya. Bella bisa merasakan tubuh polos nya bersentuhan langsung dengan kulit tubuh Rey, karena tidak ada nya jarak di antara kedua nya.
Bella teringat akan kejadian tadi malam. Bagaimana kasarnya Rey memperlakukan nya? Kehormatan yang selama ini ia jaga, akhirnya terlepas juga. Namun Bella masih merasakan sakit, karena suami nya itu menganggap diri nya sebagai wanita lain. Tapi setidak nya, ia telah menyerahkan kehormatannya kepada suami nya sendiri.
Bella mengangkat pelan kaki Rey, walau kaki itu sedikit berat, Bella tetap berusaha untuk mengangkat kaki tersebut dengan perlahan, supaya tidak membangunkan Rey. Begitu juga dengan tangan Rey yang masih melingkar di pinggang nya. Saat hendak turun dari ranjang, Bella merasakan perih di sekitar paha nya. Ia meringis merasakan sakit itu. Bella berjalan dengan perlahan turun dari ranjang; mengutip baju-baju yang berserakan di atas lantai akibat ulah Rey tadi malam. Bella langsung berlari ke dalam kamar mandi dengan tubuh polos nya, sembari membawa pakaian nya.
Di dalam kamar mandi, Bella menatap dirinya dari pantulan cermin. Banyak sekali kiss mark yang di tinggalkan oleh Rey di tubuh nya. Bella membasuh muka nya, lalu memakai pakaian nya kembali. Setelah itu, Bella keluar dari kamar mandi.
Ketika Bella baru keluar dari kamar mandi, tiba-tiba ada yang membekap mulut nya menggunakan sebuah handuk kecil, dan seperti nya handuk tersebut sudah di beri obat bius, yang membuat Bella langsung tidak sadarkan diri.
“Baiklah! Sekarang kau bawa dia pergi! Nanti akan ku kabari lagi,” ucap seorang wanita kepada lelaki yang tadi membekap Bella. Ya, wanita itu adalah Kia. Kia tengah mencoba menjalankan rencana nya.
“Siap, Nona!” lelaki berpakaian serba hitam tersebut langsung menggendong Bella dan membawa nya pergi.
Kia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membasahi rambut nya menggunakan air.
****
Rey terbangun dari tidur nya, mata nya mengerjap saat melihat matahari sudah berada di tempat nya. Rey meraba ranjang di samping nya, namun ia tidak mendapati siapa pun.
Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan seorang wanita yang tengah memakai kimono di tubuh nya. Dan handuk kecil yang melilit di kepala nya, supaya rambut nya yang basah tidak mengotori lantai. Rey sontak melihat ke arah Kia, pandangan nya langsung teralihkan ke arah tempat tidur. Dan benar, ada bercak darah di sana.
“Tunggu! Berarti tadi malam aku benar-benar melakukan nya dengan Kia!” gumam Rey. Ia mengacak kasar rambut nya.
Kia berjalan mendekati Rey, mendudukkan tubuh nya di tepi ranjang, tepat di sebelah Rey. Kedua nya terlihat canggung. Rey melirik sekilas ke arah Kia.
“Maaf Kia… aku akan bertanggung jawab.” Ucap Rey sambil melihat Kia.
“Terimakasih, Rey.” Kia tersenyum kepada Rey.
“Sekarang bersihkan tubuh mu, setelah itu kita turun untuk sarapan!” ujar Kia. Rey hanya mengangguk dan langsung beranjak dari duduk nya. Rey melangkahkan kaki nya menuju kamar mandi.
“Ya tuhan, aku kembali menyakiti Bella. Apa dia masih mau menerima ku nanti nya?” gumam Rey saat sudah sampai di kamar mandi.
***
Saat ini Rey dan Kia tengah duduk di meja makan. Makanan yang kemarin di masak oleh Bella dan kedua sahabat nya, di panaskan kembali oleh Kia. Rey bingung kenapa rumah nya terlihat sangat sepi. Bella dan bi Ira tidak terlihat sama sekali dari tadi. Kemana perginya mereka? begitulah yang ada di dalam fikiran nya.
“Tolong! Buka pintu nya!” Terdengar suara teriakan dari belakang sana.
“Nak Rey, nak Bella, tolong bibi! bibi terkunci di dalam,” Mendengar suara teriakan tersebut, Rey langsung berlari mencari dimana bi Ira.
“Astaga, aku lupa membukakan pintu nya,” batin Kia merutuki kebodohan nya. Kia beranjak dari duduk nya dan langsung mengejar Rey.
Rey membuka kamar bi Ira yang terkunci dari luar.
“Bi, bi Ira nggak papa?” tanya Rey yang sudah khawatir.
“Kenapa bibi bisa terkunci di dalam? Siapa yang mengunci bibi?” Baru saja bi Ira ingin menjawab, namun Kia sudah melemparkan tatapan tajam ke arah nya.
“Bi-bi ti-dak tau, Nak!” ujar bi Ira terbata-bata, Bi Ira terpaksa berbohong. Rey pun hanya mengangguk mengiyakan, sedangkan Kia sudah tersenyum licik.
Ternyata tadi malam bi Ira juga sudah di beri obat bius oleh Kia, sebelum ia pergi meninggalkan Rey dalam keadaan mabuk.
***
Kini mereka bertiga tengah menikmati sarapan pagi di meja makan. Sebenarnya bisa di katakan bukan menikmati, karena hanya Kia saja yang terlihat bahagia di sana.
“Bi, apa bibi tau Bella ada dimana?” Belum sempat bi Ira menjawab, tiba-tiba ada pesan masuk ke ponsel Rey. Rey langsung membuka pesan tersebut. Ternyata nomor yang sama yang mengirimkan foto-foto Bella dengan seorang pria 2 hari yang lalu. Kali ini ia mengirimkan foto-foto Bella saat hampir di lecehkan di bar tadi malam. Seketika itu raut wajah Rey langsung berubah menjadi marah.
Brakk
Rey menggebrak meja dengan cukup keras, yang membuat bi Ira dan Kia sontak terkejut.
“Rey, ada apa denganmu?” tanya Kia pura-pura tidak tau dengan apa yang terjadi, padahal dia lah yang menyuruh orang untuk mengirimkan foto-foto itu.
Tiba-tiba ada mobil yang memasuki pekarangan rumah tersebut. Rey, Kia, dan bi Ira melihat dari jendela, kalau Bella turun dari mobil tersebut. Terlihat seorang pria membukakan pintu mobil tersebut untuk Bella. Wajah Bella terlihat tidak bahagia.
Bella langsung berjalan menuju rumah, meninggalkan lelaki yang tengah tersenyum kepada nya.
***
Bella masuk ke dalam rumah dan disambut dengan pemandangan yang cukup membuat nya sakit hati.
"Bella, kau darimana saja? kenapa kau tidak pulang kemarin?" tanya Kia masih dengan wajah polos nya. Bella mendengus kesal.
"Bukan nya kau sendiri tau aku pergi kemana!" cetus Bella.
Rey berjalan menghampiri Bella. Ketika sudah dekat, Rey melihat banyak tanda kemerahan di sekitar leher jenjang wanita itu. Rey semakin murka melihat nya.
"Bella, tidur dengan siapa kau tadi malam?" bentak Rey dengan suara lantang. Bella sontak terkejut mendengar nya.
"Apa kau benar-benar lupa, Rey?" Bella malah balik bertanya.
"Lupa apa, lupa kalau kau pergi ke bar dan bersenang-senang dengan pria-pria tua itu, benar seperti itu?" Rey semakin tidak tahan dengan amarah nya.
"Apa maksudmu, Rey?"
Plak
"Cih ... kau benar-benar wanita penggoda!" Tangan Rey mendarat tepat di pipi mulus Bella. Bella memegangi pipi nya yang terasa sakit akibat tamparan itu.
"Mulai saat ini juga, kita resmi bercerai!"