
“Maksudmu?“
“Kia pernah mengambil foto Bella saat sedang menemani mama nya di rumah sakit jiwa, dan dia menempelkan nya di mading sekolah. Hal itu membuat Bella jadi bahan pembicaraan anak-anak satu sekolah,” ujar Ronald. Rey terkejut mendengar apa yang Ronald katakan.
"Apa? rumah sakit jiwa? kenapa mama nya Bella ada di rumah sakit jiwa?" tanya Rey yang begitu terkejut.
“Bahkan, bagaimana mertuamu saja kau tidak tau,” Ronald kesal melihat Rey yang sama sekali tidak tau apa-apa tentang kehidupan istrinya.
“Pada saat Bella akan masuk ke sekolah menengah pertama, orang tua nya bercerai. Dan karena perceraian orang tua nya itu, mama Bella shock dan mengakibatkan ia memiliki gangguan mental. Mulai saat itu, Bella harus belajar mandiri. Untung saja Bella anak yang pintar, kalau tidak, mungkin dia tidak akan melanjutkan sekolah nya. Maka dari itu, Bella bisa bersekolah di sekolah elite, karena dia selalu mendapatkan beasiswa.” Rey hanya terdiam mendengar cerita dari Ronald.
“Jadi, dimana keberadaan mama Bella saat ini?” Ronald benar-benar kesal melihat sahabat nya itu.
“Rey … bahkan kau juga tidak tau kalau mama nya Bella sudah meninggal. Kau ini menantu macam apa!” ketus Ronald yang memang sudah sangat kesal melihat Rey. Mendengar perkataan Ronald, Rey langsung teringat dengan Bella.
“Bella tidak pernah mendapat kebahagiaan dari dia kecil, Rey. Aku berharap, kau bisa membahagiakan nya,” tutur Ronald.
“Jadi itu yang membuat dia selalu mengucapkan kata-kata sedih seperti itu. Itu sebabnya Bella selalu bersedih bahkan menangis jika aku bertanya tentang mama nya, atau tentang kehidupan pribadi nya. Bella, aku janji akan memberikan kebahagiaan untuk mu.” Ucap Rey dalam hati.
“Oh iya, kenapa kalian berfikir kalau yang mengambil foto-foto itu Kia?”
“Karena saat kita di SMA, yang tau keadaan mama Bella yang sebenarnya itu hanya guru-guru, dan sahabat Bella, termasuk Kia.”
“Kenapa aku tidak tau ada kejadian seperti itu di sekolah kita dulu?” Rey memang benar-benar tidak pernah tau kalau ada kejadian seperti itu sebelum nya.
“Karena itu terjadi saat kau terjatuh dari atas gedung, itu sebabnya kau tidak tau kejadian itu,” seru Ronald.
“Sekarang kau sudah tau siapa yang seharusnya kau cintai dan kau benci? “ ucap Ronald.
“Selama ini kau mencintai orang yang salah dan membenci orang yang sangat mencintaimu, Rey.” Rey masih tak bergeming, ia hanya diam mendengar perkataan sahabat nya itu. Ronald ingin menceritakan semua kejadian yang sebenarnya kepada Rey, tapi ia teringat kembali perkataan Bella, bahwa mereka harus tetap menjaga rahasia itu dari Rey.
***
Bella sedang berbaring di sofa ruang tamu sambil mendengarkan musik. Tiba-tiba bel rumah nya berbunyi, ada yang berkunjung ke rumah nya. Bella segera menuju pintu dan menggapai handle pintu tersebut lalu membuka nya. Ketika Bella membuka pintu, betapa terkejut nya ia ketika melihat yang datang adalah sahabat-sahabat nya.
“Bella,” Chelsea dan Lily langsung berhambur ke pelukan Bella. Bella masih diam tak bergeming, ia masih tidak percaya dengan apa yang saat ini di lihat nya. Sahabat nya yang sudah 6 tahun ini tidak pernah di lihat nya, akhirnya datang berkunjung ke rumah nya.
“Bella, ada apa denganmu? Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak suka kami datang kesini? “ Chelsea menghujani pertanyaan pada Bella yang masih diam melihat sahabat nya.
Tidak terasa, pipi Bella yang awal nya mengering kini sudah basah akibat air mata nya yang mengalir di pipi.
“Bella, kenapa kau menangis? Apa kau tidak bahagia melihat kami?” Lily yang gantian bertanya karena melihat Bella hanya diam dan sekarang malah menangis.
Bella langsung memeluk kedua sahabat nya itu. “Apa kalian tau, aku sangat bahagia sekali bisa bertemu dengan kalian? Apa kalian tau ini adalah tangis kebahagiaan? Karena terlalu bahagia, aku jadi tidak bisa berkata apapun lagi. Yang ingin aku katakan saat ini adalah, aku sangat merindukan kalian,” Tangis Bella memecah, begitu pula dengan kedua sahabat nya itu. Mereka bertiga berpelukan sambil melepas kerinduan selama 6 tahun tidak bertemu. Sedangkan Kia hanya menatap mereka dari belakang dengan tatapan tidak suka.
Bella berhenti kuliah karena tidak mempunyai biaya, sedangkan Kia berhenti kuliah karena ia pergi dari rumah orang tua nya, untuk membalaskan dendam nya kepada Bella.
Bella menyuruh ketiga sahabat nya itu untuk masuk, lalu Bella menutup pintu rumah nya.
***
“Kapan kalian kembali dari Jerman?” tanya Bella ketika mereka sudah duduk di sofa ruang tamu.
“Bella, aku sedikit haus,” Bukan nya menjawab pertanyaan Bella, Lily malah tersenyum sambil mengatakan kalau ia ingin minum. Chelsea memukul pelan lengan Lily yang membuat wanita itu meringis.
“Kau ini, tidak berubah dari dulu ya!” ucap Bella sambil berlalu menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk sahabat nya. Bella kembali dari dapur membawa nampan yang berisi 4 gelas minuman dan makanan ringan.
“Kemarin.” Ucap Lily ketika selesai minum.
“Iya, Bella. Kami sangat merindukan mu, makanya kami langsung datang kemari dan mengajak Kia,” Chelsea ikut menimpali.
Mereka berbincang-bincang tentang bagaimana kehidupan Chelsea dan Lily selama di Jerman. Tidak terasa waktu sudah menjelang sore, tetapi mereka masih saja asik mengobrol, mungkin karena sudah lama tidak bertemu.
Sampai akhir nya terdengar suara seseorang yang sedang memencet bel. Bella langsung beranjak pergi untuk membukakan pintu.
Terlihat disana seorang lelaki tampan dengan tas kerja yang sedang di pegang nya di tangan sebelah kanan. Ya, itu adalah Rey, suami Bella.
Bella langsung mengambil tas kerja Rey dari tangan nya dan mencium tangan suaminya itu. Rey mendekatkan bibir nya ke kening Bella, lalu menciumnya sedikit lebih lama.
“Aku sudah pulang, Sayang.” Ujar Rey sambil melepas ciuman nya dari kening Bella dan memegang pipi wanita itu. Pemandangan itu tentunya tidak lepas dari penglihatan ketiga sahabat Bella.
“Aduh … romantis sekali kalian berdua, jadi iri deh,” ucap Lily sambil menatap pasutri yang tengah bermesraan di depan nya itu.
“Makanya kamu cepetan nikah, biar bisa ngerasain.” Celetuk Chelsea.
“Heh, sama-sama jomblo juga, ngapain debat sih!” Ujar Kia melihat kedua sahabat nya itu.
Bella masih terdiam di tempat nya, wajah nya sudah memerah karena malu. Ia tidak menyangka kalau Rey akan memperlakukan nya dengan baik di hadapan sahabat nya, apalagi di depan Kia. Kia memanas melihat pemandangan yang ada di depan nya saat ini.
“Rey, ayo ku antar ke atas. Akan ku siapkan air mandi untuk mu!” ajak Bella. Rey menggeleng.
“Tidak perlu, Sayang. Kau temani saja temanmu disini, ya. Aku bisa melakukan nya sendiri.” Ucap Rey sambil mengusap pipi Bella dengan sebelah tangan nya. Bella hanya menunduk karena malu. Rey mengambil kembali tas kerja nya dari tangan Bella, lalu berjalan ke atas menuju kamar.
Rey sama sekali tidak tau kalau teman-teman Bella akan datang ke rumah nya hari ini, apalagi Kia juga ikut. Dan Rey juga tidak ada niatan berbuat baik seperti itu pada Bella hanya karena untuk membuat Kia cemburu. Rey melakukan nya karena memang ia sudah mulai membuka hati nya untuk Bella.