Let Me Still Love You

Let Me Still Love You
Rumah Sakit



Plak


Satu tamparan Chelsea layangkan ke pipi Rey. Tangan nya sudah mengepal daritadi. Sungguh geram rasanya melihat dua orang yang sedang berpelukan di hadapan nya ini, sedangkan sahabat nya menahan rasa sakit hati nya.


"Brengsek kau Rey! tega sekali kau berbuat seperti ini kepada Bella. Kalau memang kau tidak bisa mencintainya, setidaknya jangan kau sakiti dia!" Chelsea sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak memarahi mereka berdua.


"Dan kau wanita jalang, apa masih kurang puas kau membuat Bella tersiksa? kurang baik apa lagi Bella terhadapmu. Bella selalu saja menutupi kebusukan mu. Tapi, apa yang kau perbuat kepada nya, kau malah mengambil orang yang sangat dia sayangi," cetus Chelsea sambil menunjuk ke arah Kia. Tidak terasa air mata Chelsea sudah jatuh membasahi pipi mulus nya. Lily memeluk sahabat nya itu, untuk menenangkan nya. Orang-orang di dalam rumah itu memperhatikan mereka yang tengah bertengkar.


Tiba-tiba pintu rumah terbuka, memperlihatkan seorang lelaki bertubuh tegap, memakai jas berwarna navy dengan dalaman kaus berwarna putih. Lelaki itu berjalan menghampiri kerumunan yang tengah bertengkar itu.


"Mike, kenapa kau kemari?" tanya Lily yang melihat Mike datang.


"Tentu saja untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bella, dan memberikan hadiah ini untuk nya," ujar Ronald tersenyum sambil menunjukkan kotak kecil yang sedang di pegang nya. Namun, mata Ronald tertuju ke arah Chelsea yang tengah menangis.


"Apa? Bella ulang tahun?" tanya Rey yang membuat mereka sontak melihat ke arah nya.


"Ck, suami macam apa kau ini, istri sendiri ulang tahun kau tidak tau. Malah merayakan ulang tahun selingkuhan nya," decak Lily sambil membuang wajah nya ke arah lain.


Ronald yang mendengar kata-kata Lily pun langsung melihat ke arah Rey yang masih menggenggam tangan Kia. Ronald tidak segan-segan melayangkan pukulan ke wajah Rey.


Bugh


"Bajingan kau, Rey! aku pikir ini acara ulang tahun Bella, ternyata aku salah." Mike terlihat murka melihat Rey. Rey masih memegangi wajah nya yang terasa sakit akibat pukulan Mike. Terlihat di sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah.


"Rey, apa kau ingat yang pernah aku katakan padamu? jika sekali lagi kau menyakiti Bella, aku yang akan membawa nya pergi dari hidupmu," ujar Mike dengan suara tegas. Rey masih diam tak bergeming. Ia ingin menjawab perkataan Mike, tapi kata-kata itu memang benar adanya.


"Sekarang Bella ada dimana?" tanya Mike kepada Chelsea dan Lily.


"Tadi Bella berlari ke atas, mungkin saja dia ke kamar," jawab Lily. Mike pun langsung berlari menaiki tangga, dan disusul oleh Chelsea dan Lily. Rey hanya menatap mereka.


"Rey, apa ini sakit?" tanya Kia sambil memegang sudut bibir Rey yang masih mengeluarkan darah.


"Tidak! ayo kita susul mereka!" ajak Rey sambil menarik tangan Kia untuk berjalan menyusul mereka dan menemui Bella.


***


"Nak, buka pintunya! bi Ira disini," panggil bi Ira sambil mengetuk–ngetuk pintu kamar tersebut.


"Bella, buka pintu nya! ini bibi, Sayang," panggil nya lagi, namun tidak ada balasan dari dalam sana.


"Bella sayang, Nak ...." Bi Ira pun masih terus memanggil-manggil Bella.


"Bi ...." Panggil Chelsea dan Lily yang baru datang ke atas bersama dengan Mike. Tidak lama setelah itu, terlihat Rey dan Kia menyusul di belakang.


"Bella tidak mau membuka pintu nya, Nak," ucap bi Ira menahan tangis nya.


"Apa jangan-jangan, Bella mencoba untuk bunuh diri?" ujar Kia.


"Hey, Bella itu wanita yang suka berpikir panjang, bukan sepertimu. Membunuh ribuan orang, seperti membunuh seekor semut, begitu mudahnya tanpa memikirkan dosa. Kalau bukan karena Bella melarang ku, kau sudah ku jebloskan ke dalam penjara. Dan saat ini, kau pasti sudah mendekam di dalam penjara," cetus Mike. Rey tampak berpikir dengan apa yang di katakan oleh Mike.


"Mike, kau tau tentang kejadian itu?" tanya Chelsea.


"Tentu saja aku tau!"


Di dalam kamar itu, terlihat Bella sudah tergeletak di bawah sana. Mike langsung berlari menghampiri Bella dan meletakkan kepala Bella di atas paha nya.


"Bella, bangun Bella! ada apa dengan mu?" Mike menepuk–nepuk pelan pipi Bella. Chelsea, Lily dan bi Ira ikut berlari ke dalam, begitu juga dengan Rey dan Kia.


"Ini pasti karena penyakit nya kambuh lagi," ujar Mike karena melihat darah yang mengalir dari hidung Bella.


Tanpa berfikir panjang, Mike mengusap darah tersebut menggunakan ujung baju yang sedang ia pakai. Lalu, ia menggendong Bella menuju mobil nya.


"Chelsea, Lily, kalian ikut aku! kita kerumah sakit, sekarang!" ajak Mike sambil menggendong Bella. Chelsea dan Lily pun hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Mike.


"Sebentar, apa bibi boleh ikut?" tanya bi Ira dengan wajah memelas.


"Tentu saja, Bi. Ayo, Bi!" ajak mereka. Mereka pun keluar dari kamar itu, meninggalkan Rey dan Kia.


Rey masih menatap kepergian mereka, ia bingung harus melakukan apa. Ketika melihat Bella terkapar tidak berdaya seperti itu, rasanya ingin sekali ia menolong nya, dan langsung memberikan pertolongan pertama kepada wanita itu. Tapi entah kenapa, ketika melihat Mike lebih khawatir, ia merasa tidak berguna.


Rey langsung berlari ke bawah tanpa memikirkan Kia. Ia meninggalkan Kia dan langsung masuk ke dalam mobil nya, membiarkan Kia yang berteriak memanggil nama nya, untuk menyusul mobil Mike yang membawa Bella ke rumah sakit.


Di dalam mobil, Rey masih saja memikirkan Bella, dan memikirkan kata-kata Mike tentang penyakit Bella yang kambuh. Karena selama ini, ia tidak tau kalau Bella memiliki penyakit.


***


Di depan ruang UGD, mereka tengah menunggu Bella yang sedang di tangani oleh dokter.


Tidak lama setelah itu, pintu ruangan terbuka dan menampakkan seorang dokter lelaki paruh baya, dokter tersebut menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan teman saya, Dok?" tanya Mike yang begitu mengkhawatirkan Bella.


"Dia adalah pasien tetap kami sejak dulu, tapi selama 4 tahun ini, dia sudah tidak pernah lagi datang kemari. Kami berpikir, kalau dia sudah tiada, ternyata tidak," ucap dokter itu.


"Kenapa dia tidak pernah datang lagi kesini, Dok?" tanya Mike yang semakin khawatir.


"Saya juga tidak tahu pasti alasan nya. Sekarang kalian bisa temui dia, tapi jangan mengganggu tidur nya. Saya pamit dulu!" Dokter tersebut berlalu pergi meninggalkan mereka.


"Tunggu! sebenarnya Bella sakit apa?" tanya Rey yang tiba-tiba muncul. Mereka langsung melihat ke arah nya.


"Apa kau mau mendengarkan, kalau kami ceritakan yang sebenarnya? percuma saja, kau pasti tidak akan percaya," Ronald yang entah datang darimana, tiba-tiba langsung ikut menyahuti kata-kata Rey.


"Tolong beritahu aku!" ucap Rey.


"Kalian masuklah terlebih dulu! nanti aku akan menyusul," pinta Ronald yang menyuruh sahabat nya, istri nya dan Bi Ira itu untuk masuk. Sedangkan dia sendiri, mengajak Rey untuk duduk.


***


"Duduklah, aku akan menceritakan tentang penyakit Bella!" pinta Ronald. Rey pun menuruti nya untuk di kursi itu.


"Bella sudah lama menderita penyakit le-"


"Tidak!" kata-kata Ronald terputus karena tiba-tiba ada seseorang yang berteriak dari belakang sana. Rey dan Ronald sontak melihat ke arah nya. Terlihat wajah Ronald begitu marah ketika melihat seseorang yang datang itu.