
Setelah keluar dari ruangan dimana Bella di rawat, Rey bertemu dengan dokter yang memeriksa sumsum tulang belakang nya kemarin.
“Pak Rey,” panggil dokter yang ber nametag Rudi tersebut.
“Iya, Dok.” Jawab Rey sambil menoleh ke arah dokter Rudi.
“Pak Rey sedang apa malam-malam seperti ini masih disini?” tanya dokter Rudi, karna memang waktu sudah menunjukkan pukul 01 lewat 27 menit.
“Saya baru saja melihat istri saya, Dok.” Ujar Rey. Dokter Rudi pun mengangguk.
“Oiya pak Rey, saya ingin memberitahukan bahwa hasil tes sumsum tulang belakang milik pak Rey dan istri bapak sudah keluar,” ucap dokter Rudi.
“Bagaimana hasil nya, Dok? Apakah cocok?” tanya Rey antusias.
“Maaf, Pak Rey. Sumsum tulang belakang milik anda tidak cocok dengan yang dimiliki oleh istri anda.” Dokter Rudi mengatakan nya dengan ragu, karena melihat Rey yang begitu antusias.
Rey menghela nafas dalam. “Jadi, saya harus bagaimana, Dok?” terlihat jelas kekecewaan di wajah nya, yang membuat dokter Rudi semakin merasa bersalah.
“Tolong carikan sumsum tulang belakang yang cocok dengan milik istri saya, Dok! Saya akan membayar berapapun biayanya, yang terpenting istri saya bisa sembuh.” Pinta Rey dengan wajah memelas nya, sambil memegangi tangan dokter Rudi. Dokter Rudi semakin merasa bersalah di buat nya. Melihat wajah tak berdaya dari seorang CEO yang biasanya memiliki wajah dingin itu. Siapa yang menyangka bahwa, ada hari dimana dia memohon seperti ini.
“Saya akan usahakan, Pak Rey. Tapi, sepertinya saya tau ada seseorang yang sumsum tulang belakangnya cocok dengan milik istri bapak,” seru dokter Rudi.
“Siapa, Dok?”
“Ayah dari istri nya pak Rey.” Ujarnya yang membuat Rey langsung membelalakkan kedua bola mata nya.
“Terimakasih, Dok. Tapi tolong carikan orang lain juga, karena saya tidak yakin bisa menemukan papa nya istri saya!” ujar Rey.
“Ya sudah, saya permisi dulu pak Rey. Selamat malam.” Ucap dokter Rudi sambil berlalu pergi dari sana. Rey hanya mengangguk.
“Kemana aku harus mencari papa nya Bella? Sayang, aku akan melakukan yang terbaik untuk membuatmu pulih kembali. Sekali lagi maafkan aku.” Gumam Rey dalam hatinya.
Rey mengambil ponsel yang terselip dari dalam saku nya. Rey mencari nomor seseorang, setelah dapat ia langsung menghubungi nomor tersebut.
“Selamat malam tuan, ada yang bisa saya bantu?” ucap seseorang dari sebrang sana dengan suara khas bangun tidur nya.
“Maaf kalau aku mengganggu tidurmu!” ucap Rey.
“Tidak masalah tuan. Tuan ada perlu apa?” lelaki itu bingung dengan pernyataan maaf Rey.
“Tolong cari tau tentang keberadaan tuan Edi Pamela!”
“Pemilik perusahaan Pamela Grup, Tuan?”
“Ya, benar. Sekalian cari tau tentang kecelakaan pesawat yang terjadi 2 minggu yang lalu! Saya akan meminta hasil nya besok malam.”
“Baiklah, Tuan!”
“Yasudah, saya matikan dulu telfon nya. Sekali lagi maaf, karena sudah mengganggu tidurmu!” Lagi-lagi ia merasa heran dengan sikap Rey hari ini. Dia berulang kali mengucapkan kata maaf hanya untuk itu. Biasanya, mau kesalahan sebesar apapun, ia pasti tetap cuek dan tidak perduli.
Biasanya jika ada masalah seperti ini, Rey akan meminta tolong kepada Ronald. Namun, kali ini ia takut kalau harus meminta tolong kepada sahabat nya itu. Karena kesalahan nya yang tidak mempercayai orang-orang yang menyayangi nya.
Malam ini dia sudah mendapatkan ucapan selamat malam dari dua orang, yang membuat nya menjadi rindu dengan ucapan selamat malam dari sang istri.
“Aku ingat sekali saat aku menyuruhnya untuk tidur di gudang. Bukan nya marah, dia malah tersenyum dan mengucapkan selamat malam untuk ku. Sungguh aku merindukan senyuman mu itu, Sayang. Kau yang dulu selalu saja tersenyum walau bagaimana pun sikap ku terhadapmu. Tapi sekarang, aku jadi sering melihat sisi lemah mu, saat ini kau menjadi sering menangis karena ku, maafkan aku, Sayang. Aku tau, pasti kau sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit itu sendiri, kan? Maaf … maafkan aku, Sayang. Aku tau kata maaf saja tidak cukup untuk menebus kesalahanku, tapi hanya itulah yang saat ini bisa ku lakukan.” Gumam Rey dalam hati.
***
Di dalam sebuah rumah mewah nan cantik itu, seorang wanita berjalan dengan langkah gontai. Menaiki satu persatu anak tangga dan memasuki salah satu kamar yang berada di atas sana, yaitu kamar milik kekasih nya.
Wanita itu adalah Kia, Kia membuka pintu kamar itu dan langsung masuk ke dalam nya.
Plak
“Dasar wanita bodoh!” Sebuah tamparan mendarat dengan mulus di pipi Kia, yang membuat sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah. Siapakah yang menamparnya? Tentu saja yang menamparnya itu Steve, kekasih nya. Kia sedikit terkejut dengan tamparan mendadak yang membuat nya jatuh tersungkur ke lantai.
“Sayang, kenapa kau menamparku?” tanya Kia sambil masih memegangi pipi nya yang terasa sakit akibat tamparan dari pria yang tengah berdiri di hadapan nya.
“Berhenti memanggilku dengan sebutan sayang!” teriak Steve. Terlihat rahang nya sudah mulai mengeras.
“Tapi kenapa?”
“Kau masih berani bertanya kenapa! Ckk … benar-benar wanita bodoh,” Steve berdecak kesal.
“Steve, ada apa denganmu?” Kia mulai takut melihat wajah kekasihnya yang terlihat sangat kesal itu.
Steve berlutut di depan Kia yang sudah terduduk dari tadi. Pria itu memegang dagu Kia lalu mengarahkan wajah wanita itu menghadap ke arah nya. Steve mencengkram kuat dagu Kia, sampai membuat wanita itu meringis kesakitan.
“Kenapa kau sangat bodoh, Kia? Tinggal sedikit lagi saja kita bisa menghancurkan Rey, dan sekarang kau mengacaukan semuanya, hanya karena sebuah ancaman,” ucap Steve sambil menatap tajam mata Kia.
“Maaf Steve, aku hanya takut masuk penjara.”
“Apa kau tidak percaya padaku? Apa aku akan membiarkanmu masuk penjara? Apa kau pikir setelah kau masuk penjara, kau tidak akan membawaku, seperti itu?” pertanyaan bertubi-tubi terlontar dari mulut Steve.
“Jangan bodoh Kia! Mereka hanya ingin mengancam mu saja, dengan menceritakan sesuatu yang membuatmu menjadi seperti ini,” lanjutnya lagi.
“Sekarang aku memberimu dua pilihan. Pertama, kau akan tetap melanjutkan rencana kita. Dan yang kedua, aku akan memasukkan mu ke dalam penjara,” Kia semakin takut melihat wajah Steve yang seperti ini. Tubuhnya bergetar karna ketakutan yang amat dalam.
“Hey, cepat jawab! Kenapa kau malah terdiam?” teriak Steve yang membuat Kia sontak terkejut.
“A-aku pi-lih pilihan pertama.” Ucap Kia terbata-bata. Buliran bening sudah mengalir membasahi pipi wanita itu.
“Pilihan yang bagus. Maaf, aku hanya tidak ingin kau masuk ke dalam perangkapmu sendiri,” Steve langsung menarik Kia ke dalam pelukan nya, membiarkan wanita itu menangis membasahi baju nya. Kia masih terisak, menahan sakit akibat tamparan, cengkraman, dan kata-kata kasar yang di lontarkan lelaki yang sangat ia cintai itu.
Kia tidak pernah menyangka bahwa Steve akan seperti ini terhadap nya. Steve yang ia kenal adalah sosok yang lembut, yang tidak pernah sekalipun berbicara kasar kepadanya, kini malah menamparnya. Steve bukan hanya menyakiti fisik nya, namun juga hati nya. Setelah bertahun-tahun lama nya, baru kali ini Kia merasakan sakit karna orang yang dicintai nya. Kali ini, Kia benar-benar mendapatkan karma.