Let Me Still Love You

Let Me Still Love You
Telah tiada



Seketika mereka langsung menoleh ke arah asal suara. Terlihat Kia sedang berusaha untuk membuka mata nya.


"Sayang ... bunda disini, Nak." Reni memegang tangan anak nya.


"Bunda ...." Kia tersenyum ketika melihat bunda nya.


"Iya sayang, ini bunda."


Kia menggerakkan tubuh nya mencoba untuk turun. Tapi kaki nya tidak bisa ia gerakkan sama sekali.


"Bunda, kenapa kaki Kia tidak bisa di gerakkan?" tanya Kia pada bunda nya. Mendengar ucapan Kia, bukan hanya Reni, semua yang berada di sana pun ikut bingung.


"Sayang, coba kamu gerakkan lagi!" pinta Reni pada anak nya.


"Tetap tidak bisa, Bun." Tangan Kia bergerak menyentuh kaki nya. Di pegang kaki nya tersebut, namun ia tidak merasakan apa pun. Akhirnya Kia memukul-mukul kaki nya itu, namun tetap saja, ia tidak merasakan apapun.


"Bun, kaki Kia kenapa? kenapa Kia tidak bisa merasakan apa pun, Bun?" Kia mulai meneteskan air mata nya. Begitu juga dengan Reni yang semakin panik.


"Jangan di pukul-pukul kaki nya, Sayang! Panggilkan dokter, cepat!" pinta Reni pada orang-orang yang berada di sana.


Steve langsung berlari keluar mencarikan dokter. Selang beberapa menit, Steve pun kembali membawa seorang dokter.


"Dok, apa yang terjadi dengan kaki anak saya?" tanya Reni pada dokter tersebut.


"Maaf, Bu. Saat terjatuh, kaki anak ibu terlebih dahulu mencapai dasar. Itulah yang membuat syaraf pada kaki nya sudah tidak berfungsi lagi, dan menyebabkan kelumpuhan permanen pada kaki anak ibu." Semua tertegun mendengar penjelasan dari dokter.


"Tidak, Dok! dokter pasti berbohong, iya kan? Kia tidak mungkin lumpuh, Kia pasti masih bisa jalan, kan Dok? dokter harus menyembuhkan Kia ... harus dokter!!" Kia berteriak histeris ketika mendengar penuturan dokter.


"Dokter ... apa tidak ada cara untuk menyembuhkan anak saya?" tanya Reni.


"Maaf, Bu. Kami sudah melakukan yang terbaik untuk tetap mempertahankan kaki anak ibu dari tempat nya. Kemarin dokter-dokter sudah sepakat akan melakukan amputasi untuk memotong kaki anak ibu. Namun, setelah kami periksa lagi, untung saja kaki anak ibu masih bisa di pertahankan." Jelas dokter itu.


"Tidak! tidak, Bun! Kia tidak mau jadi lumpuh, Bun. Kia mau bisa jalan lagi. Bunda ... tolong, Kia?" Reni hanya bisa menangis sambil memeluk putri nya.


"Ibu minta maaf, karena tidak bisa melakukan apapun untuk kamu, Sayang...." Reni mengecup puncak kepala sang anak berulang kali. Begitu juga dengan ayah Kia yang ikut memeluk istri dan anak nya. Mereka bertiga menangis melihat keadaan Kia saat ini.


Tentu saja penglihatan itu tidak lepas dari pandangan orang-orang yang berada disana. Ada sedikit rasa haru melihat nya.


"Auww ... sakit, Bun." Adu Kia ketika wajahnya terkena air mata nya sendiri.


"Bun, kenapa wajah Kia terasa perih?" tanya nya.


"Maaf sayang ... wajah kamu terkena gesekan ketika terjatuh," Mendengar ucapan ibu nya, Kia langsung sibuk mencari-cari sesuatu.


"Kamu cari apa, Sayang?" tanya Reni pada anak nya.


"Cermin, Bun. Kia mau lihat wajah Kia," Tanpa disuruh, Steve langsung menyodorkan ponsel nya kepada Kia, dan membuka kamera nya.


"Aaahhh ... bunda, wajahku kenapa bisa seperti ini? Bunda ... aku takut melihat wajah ku sendiri. Bunda ... bagaimana ini?" Kia kembali menangis histeris. Tapi ia malah merasa semakin sakit, karena wajah nya terkena buliran air mata nya.


"Jangan terlalu banyak menangis, Sayang! Wajahmu sudah di beri obat oleh dokter. Kalau kamu banyak menangis, nanti bisa infeksi." Tutur Reni.


"Mau kamu seperti apa juga, kamu tetap anak bunda dan ayah. Kamu jangan takut Sayang!bunda dan ayah ada disini bersama kamu." Rasa nya Reni tidak tahan melihat kondisi anak nya sekarang ini.


"Pergi, Steve! aku tidak mau kau melihat wajahku yang jelek ini. Kau pasti sangat jijik melihatku, kan? pergi Steve!" Kia berteriak sambil menunjuk ke arah Steve.


"Kia ... tenanglah! kami sudah melihatmu dari tadi. Tidak ada lagi yang perlu kau khawatirkan." Rey ikut angkat bicara. Reni kembali menenangkan anak nya. Sampai Kia berhenti menangis.


***


Ketika suasana sudah mulai tenang. Rey dan Steve yang sedari tadi sudah sibuk ingin bertanya. Akhirnya bisa mempertanyakan apa yang ingin mereka tanyakan.


"Bu ... tadi maksud ibu apa? Lala itu, Bella istri Aldi?" tanya Steve pada ibu nya Rey, ia sudah tidak tahan lagi untuk bertanya.


Ya, lelaki itu adalah Mike. Setelah perjalanan hampir 7 jam. Akhirnya Mike sampai ke Indonesia.


"Mike!" Mereka semua langsung melihat ke arah lelaki yang baru datang itu.


"Halo, Semua. Apa kabar?" sapa Mike sambil mengulas senyuman di bibir nya, dan berjalan masuk ke dalam.


"Hey, jangan mengalihkan pembicaraan Mike! apa maksud ucapan mu tadi?" Steve nampak tidak sabar.


"Ya, itulah maksudku. Selama ini kau membantu Kia, untuk menghancurkan wanita yang kau cintai," ucap Mike.


"Lala adalah Bella. Bella itu panggilan masa kecil nya, sama seperti Rey. Aldi adalah nama sebelum Rey hilang ingatan." lanjut nya lagi.


"Tunggu! apa maksud nya ini? Steve mencintai Bella?" Kia memotong pembicaraan.


"Kau benar, Kia. Semua rahasia Steve, sudah dia ceritakan padaku, tanpa terlewat sedikit pun."


"Aku bingung dengan hubungan percintaan kalian. Bella mencintai Rey, Rey mencintai Kia, Kia mencintai Steve, dan Steve mencintai Bella. Haha ... cinta segitiga saja sudah rumit, apalagi ini segiempat," Mike menggeleng-gelengkan kepala nya.


"STOP! Tolong jelaskan semua nya dari awal pada ku!" pinta Rey. Rey merasa kepala nya sudah sangat sakit mendengar kan apa yang baru saja di katakan orang-orang tersebut.


"Al, aku berulang kali hampir membunuhmu. Pertama kali ketika kau terjatuh dari atas gedung, saat kita masih duduk di sekolah menengah. Saat itu Aku mengirimi mu sebuah pesan, supaya kau mau datang ke atas gedung menggunakan nama Kia. Sedangkan Kia menelfon Lala, dan mengatakan semua rencana kami. Akhirnya Lala pergi untuk menyelamatkan mu. Kau ingat kan waktu Lala hampir di lecehkan di atas gedung?" Rey mengangguk. Karena dari kejadian itu lah, Rey selalu memanggil Bella dengan sebutan "Wanita penggoda".


"Pada saat itu, Lala ingin menyelamatkan mu, namun itulah yang harus di lewati nya. Dia hampir saja kehilangan harta yang selama ini ia jaga, hanya untuk menyelamatkan mu, Rey. Ketika kau terjatuh dari atas gedung, kau hanya melihat Lala saja, kan? dan hal tersebut bisa menyelamatkan kami dari kasus pembunuhan mu. Sehingga kau bisa menuduh Lala lah yang membunuh mu," jelas Steve panjang.


"Setelah kau terjatuh, ibu sangat panik, Rey. pada saat itu kau kehilangan banyak sekali darah, sedangkan ibu tidak punya uang. Setelah itu Bella datang mendonorkan darah nya untuk mu, Nak. Kau tau sendiri kan Bella punya penyakit leukimia," sambung Shinta.


"Sebenarnya penderita leukimia tidak di perbolehkan untuk mendonorkan darah nya. Bukan karena takut menular, hanya saja penderita kanker darah rentan mengalami anemia dan infeksi. Sehingga mendonorkan darah bisa membahayakan dirinya sendiri," dokter yang berada di sana pun ikut berbicara.


"Kau dengar sendiri kan, Nak. Bella masih tetap mau mendonorkan darah nya untuk mu, walaupun dia tau konsekuensi yang akan dia dapatkan." Ucap Shinta.


"Setelah itu, aku datang menemuimu dengan berpura-pura menjadi pendonor untukmu, Rey." Kia pun ikut menimpali.


Rey mendengarkan penjelasan satu persatu dari orang-orang yang berada disana. Rasanya hatinya begitu sakit karena mendengar penjelasan itu. Wanita yang selama ini ia anggap telah membunuh nya, ternyata adalah wanita yang sudah mengorbankan nyawa nya untuk nya.


"Kedua kali, aku yang menyuruh orang-orang untuk menyabotase rem mobil mu. Dan yang terakhir, aku juga penyebab ledakan pesawat itu. Setiap kami ingin mencelakakan mu, kami selalu menghubungi Lala, agar kami bisa sewaktu-waktu membalikkan fakta yang ada." Tutur Steve.


Rey tidak bisa berkata apa-apa lagi. Rasanya ia sangat bingung Mendengarkan semua kebenaran nya. Kemana saja ia selama ini, sampai tidak mengetahui hal-hal itu.


"Dan yang tidur denganmu saat itu adalah Bella, bukan aku Rey." Perkataan terakhir Kia membuat Rey langsung melihat ke arah nya.


"Apa maksudmu?" Rey mengernyitkan dahi nya.


"Malam itu kau tidur dengan Bella, bukan dengan ku. Malam itu Bella hampir di lecehkan di bar karena ulah ku dan Steve." Kia kembali mejelaskan kejadian yang sebenarnya terjadi.


Rey tampak semakin merasa bersalah. Rey semakin gusar mendengar penjelasan-penjelasan itu. Rey merasa ada yang menghujam dada nya. Rasa sakit yang ia rasakan ketika mendengar penjelasan demi penjelasan yang selama ini tidak ia ketahui. Rey merasa dia adalah orang yang paling jahat. Bagaimana bisa dia menyakiti seseorang yang sangat mencintai nya, bahkan rela mengorbankan nyawa nya untuk dia.


Rasa bersalah terhadap mantan istri nya semakin besar. Rey tidak bisa menahan untuk tidak menyalahkan diri nya sendiri.


"Rey, kau mau kemana?" tanya Mike ketika melihat Rey beranjak dari duduk nya menuju pintu luar.


"Aku mau mencari Bella. Aku sudah sangat bersalah terhadap nya. Aku harus minta maaf, dan mengulang semua nya dari awal," ujar Rey dengan tergesa-gesa dan panik.


"Kau terlambat, Rey. Bella telah tiada."


Bukan hanya Rey, semua yang mendengarnya pun langsung menatap ke arah Mike dengan tatapan bingung.


"Apa maksudmu, Mike?" Rey nampak bingung.


"Bella yang kau cintai telah tiada, Rey."