
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat, hari berganti jadi hari lagi begitu seterusnya sampai akhirnya kini sekolah telah memasuki semester terakhir dimana semester ini yang akan menentukan para murid kelas 3 lulus sekolah atau tidak.
Banyak yang sudah berubah sekarang mulai dari Rania salah 1 sahabat Nungky yang ternyata sudah menikah, Gisuwa yang sudah dijodohkan, ada juga Veyya yang kini mempunya pria idaman bernama Iyan, namun ada 1 hal yang belum berubah tentang Nungky.
Dia masih menjadi gadis cantik dan imut yang hanya dia sendiri yang merasa begitu sedangkan orang-orang disekitarnya tidak, Pagi-pagi Nungky sudah selesai mengenakan seragam SMA kebanggaannya.
Gadis itu menghampiri ibunya yang sedang sibuk membuat gorengan di dapur bersama ayahnya Juno yang juga ada disana menemani ibunya Desi, Nungky mencomot gorengan diatas piring yang ternyata masih panas membuat gadis itu mengipasi mulutnya yang kepanasan.
“Aduh panas banget ya Allah, Mama kok gak bilang sih gorengannya masih panas” Ucap Nungky menatap ibunya dengan kesal.
Desi menoleh sekilas kepada Nungky dan kembali berbalik mengurus gorengannya yang sudah coklat karen gosong.”Siapa suruh main comot aja baca bismilah dulu kek, ish tuh gorengan Mama jadi gosong kan gara-gara kamu nih Ky!” Omel Desi sambil mengangkat gorengannya yang gosong, dengan sigap Juno menuangkan gorengan tersebut kedalam wadah dimana sudah banyak gorengan gosong lainnya yang sudah menumpuk.
Desi bukan tidak bisa memasak bahkan dia bisa dibilang jago soal masak memasak, tapi ibu setengah paruh baya itu selalu kesulitan jika membuat gorengan bersama suaminya entah karena apa, hanya dia dan Juno yang tahu mereka melakukan apalagi saat sedang menggoreng gorengan.
“Kok nyalahin aku sih Ma baru juga datang udah diomelin!” Ucap Nungky duduk diatas kursi dan melanjutkan makan gorengan yang tertunda tadi.
“Sebelum kamu sampai sini juga aura-aura kesialan sudah masuk kesini Ky makanya gorengan Mama banyak yang gosong, kamu juga tumben pagi-pagi sudah siap mau kemana nyari cowok?” Tanya Desi asal.
Mendengar itu Juno langsung melotot ke arah Nungky anak semata wayangnya.”Jangan pacaran dulu kamu Ky, awas saja kalau ada yang berani deketin kamu Papa patahkan tulang-tulangnya!” Ancam Juno sadis.
Nungky tersenyum mendengar ancaman dari Juno ayahnya, Juno memang sangat menyayangi Nungky dan agak posesif apalagi jika itu menyangkut soal pria, Juno seakan kebakaran jenggot sendiri jika mendengar Nungky dekat dengan lelaki lain, padahal kenyataanya dia tidak punya jenggot dan juga Nungky todak pernah dekat dengan siapapun.
“Jangan ngancam dulu Pa, kayak anak kita laku aja dari orok sampai udah gede gini Mama gak pernah tuh lihat dia punya cowok, boro-boro cowok gebetan aja gak punya!” Ucap Desi dengan santainya mengatakan fakta yang sangat benar.
Nungky langsung mencebikan bibirnya sebal, ibunya itu memang sadis jika berbicara soal dirinya apalagi jika itu tentang nasib buruknya, Nungky jadi berpikir jika Desi adalah ibu yang tertukar.
“Benarkah itu Ky, ya sudah cari cowok yang banyak ya nak nanti Papa beliin es krim!” Ucap Juno sambil mengelus kepala putrinya dengan lembut.
Bukannya senang Nungky langsung menepis tangan ayahnya itu bukan apa-apa tapi tangan Juno dipenuhi oleh minyak dan adonan terigu dari goreng pisang yang sedang dibuat ibunya, Juno langsung tersenyum saat Nungky menatapnya tajam dengan rambut berminyak dan juga ada putih-putihnya.
“Ish Papa liat nih rambut cetarku jadi berminyak dan ada terigunya juga” Ucap Nungky sambil membersihkan terigu yang menempel dengan air keran.
“Maaf nak Papa khilaf tapi bagus loh Ky rambut kamu jadi gak acak-acakan, anggap aja itu minyak rambut yang bikin rambut kamu rapi dan licin kayak di salon-salon, murah dan cepat pastinya!” Ucap Juno berbicara seperti sales obat kuat di pinggir jalan.
Nungky terdiam mencerna omongan sest dari ayahnya, kemudian gadis itu berbalik sambil tersenyum senang.”Wah Papa hebat selain jadi dokter Papa juga berbakat jadi kang salon” Ucap Nungky sambil tersenyum senang.
“Iya dong nak Papa gitu loh!” Ucap Juno bangga.
“Sudah jangan ngobrol terus ayo sarapan dulu!” Perintah Desi yang baru selesai membuat gorengan, dia menyiapkan piring untuk Juno dan dirinya sendiri.
“Gak ah Ma aku udah kenyang makan gorengan, lagian Mama aneh baru nyuruh sarapan pas kita udah makan gorengan sama aja bohong Ma” Ucap Nungky menolak sarapan.
Juno mengangguk setuju.”Papa juga nggak mau sarapan ah Ma!” Ucapnya kemudian.
Desi menatap anak dan suaminya kesal dia pun mulai menyendok makanan untuk dirinya sendiri.”Siapa suruh makan gorengan duluan, sudah Ky kamu berangkat gih ngapain masih disini!” Usir ibunya.
“ya udah deh Ma minta uang jajan dong!” Ucap Nungky sambil menengadahkan tangannya kepada Desi yang sedang asyik memakan sayur lodeh buatannya.
“Minta Papamu sana uang Mama habis buat beli sayuran sama pisang tadi!” Ucap Desi tanpa menoleh.
Nungky langsung menoleh ke arah Juno dengan mata berbinar senang, seolah mengerti Juno langsung mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari dalam dompetnya dan menyerahkan uang tersebut kepada Nungky, namun Nungky kalah cepat dari Desi yang sudah duluan mengambil uang tersebut dan memasukkannya ke dalam kantung daster yang dia kenakan.
Desi tersenyum kepada anak semata wayangnya kemudian dia memberi Nungky selembar uang.”Nih jangan protes atau minta lagi, hidup itu jangan banyak ngeluh, banyakin bersyukur biar masuk surga!” Ucap Desi mulai berceramah dengan wajah tanpa dosa.
Nungky menatap selembar uang 20 ribuan yang diberikan oleh ibunya, Nungky tersenyum kecut memang ibunya itu ratu licik dari segala biang licik, dengan kesal Nungky memasukan uang tersebut ke saku seragam sekolahnya dan menyalami ibunya itu yang tangannya bau sambal terasi, aneh memang padahal dia tidak masak sambal terasi.
“Tadi katanya gak punya duit giliran ada yang lebih gede aja diambil!” Sungut Nungky yang tidak digubris oleh Desi.
“Pa anterin aku dong mumpung Papa gak kerja!” Ucap Nungky sambil memasang wajah manisnya.
“Iya Pa anterin kan lumayan uang ongkosnya bisa buat besok biar Mama gak ngeluarin banyak!” Ucap Desi yang mementingkan uang ribu dari pada Nungky.
“Ayo sayang Papa antar kamu ke sekolah, Ma, Papa pergi dulu ya” Ucap Juno sambil mencium kening istrinya dengan sayang, Desi mengangguk sambil tersenyum yang membuat Nungky merasa mual melihat kemesraan ayah dan ibunya itu.
Di depan rumah Nungky dan Jono bertemu Chika yang sepertinya memang sengaja menunggu Nungky, terlihat gadis itu sudah siap dengan seragam dan tas sekolahnya.
“Pagi Om, pagi Kak Ky!” Sapa Chika ramah dengan memasang senyum polosnya yang tentu saja Nungky tahu itu hanya akal bulusnya.
“Pagi Chika cantik mau berangkat sekolah ya, sini barenga Nungky aja biar Om anterin sekalian!” Ucap Juno.
Chika langsung mengangguk setuju tanpa berbasa-basi dan pura-pura menolak dulu ajakan Juno, gadis itu diberitahu jika dia harus mengambil kesempatan yang ada jangan kebanyakan basa-basi yang tentu saja diberitahu ole ibunya dan Desi ibu Nungky.
Chika duduk dibangku belakang dimana Nungky sudah duduk manis disana, Chika tersenyum ke arah Nungky yang menatapnya sebal, kemudian Juno masuk dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah.
“Ngapain sih pake ngikut segala!” Bisik Nungky kepada Chika.
“Santai kak ada barang baru nih mau gak?” Ucap Chika memulai bisnis dagangannya.
“Apa coba mana aku lihat!” Ucap Nungky tidak sabar.
Chika mengeluarkan selembar foto dimana Awan yang seperti baru bangun tidur tengah mengupil, Nungky mencoba mengambil foto tersebut namun Chika sudah lebih dulu memasukkannya ke dalam tas membuat Nungky menatapnya sebal.
“50 ribu dulu kak baru aku kasih fotonya!” Ucap Chika sambil cengengesan.
“Kok 50 ribu sih biasanya juga 20 ribu!” Protes Nungky.
Dia memang sering membeli barang-barang termasuk foto yang berbau tentang Awan dan Chika adalah pemasok utama barang dagangan tersebut.
“Ini beda Kak fotonya eksklusif dimana lagi coba kaka bisa dapetin foto bang Awan lagi ngupil, aku juga harus berjuang menyeberangi jalan yang berliku tajam buat nyuci nih foto!” Ucap Chika.
Nungky mendengus sebal padahal sudah jelas tempat cuci foto ada tepat di depan rumah mereka, gadis kecil itu memang licik seperti ibunya Desi.
“Ya sudah nih!” Ucapnya kemudian memberi Chika selembar uang 50 ribuan, hari ini dia harus tekor karena uang jajannya saja hanya 20 ribu.
Dengan senang Chika mengambil uang tersebut dan memberikan Nungky foto Awan yang sedang mengupil itu yang diterima Nungky dengan senang.
“Lagi pada bisik-bisik apa sih seru banget?” Tanya Juno penasaran.
“Gak kok Om aku cuman lagi nanyain alamat palsu hehe!” Jawab Chika sambil tersenyum.