Kepentok Cinta Nungky

Kepentok Cinta Nungky
Demi Nungky



"Ampun Bang, ampunilah aku gadis cantik yang tidak berdosa ini!"


Ricko menatap Nungky dengan kesal, pasalnya gadis itu sedang bersimpuh di bawah kakinya sambil menengadahkan tangannya seolah sedang memohon ampun padanya dengan air mata yang berlinang membasahi pipinya.


"Dengar Nungky aku tidak akan tertipu lagi dengan wajah polosmu itu, ayo ikut denganku sekarang!" Ucap Ricko dengan bengis sambil menarik tangan Nungky hingga berdiri dan membawa gadis itu menuruni tangga.


"Bang Ko kenapa Nungky diseret gitu Bang, apa salah Nungky sama Abang?" Teriak Regi marah menatap Nungky yang sedang menangis sambil mencoba melepaskan tangan Ricko yang memegangi tangannya.


"Lepas Bang jangan sakiti Nungky!" Regi melepaskan tangan Ricko dengan kasar, dia tidak perduli jika kakaknya itu akan menghukumnya nanti, yang jelas sekarang dia hanya ingin menyelamatkan gadis yang disayanginya, Regi langsung memeluk Nungky yang sedang menangis sambil mengusap kepalanya dengan lembut."Kamu gak apa-apakan Ky? tenang aku ada disini sekarang" Ucapnya lagi sambil mengusap air mata Nungky yang sudah berhenti.


"Iya Bang aku tuh gak kuat Bang diginiin, kayaknya Bang Kerokan gak suka sama aku Bang Gi" Ucap Nungky sambil melirik Ricko yang sedang menatap mereka tanpa ekspresi."Masa aku dipaksa buat ke kantor polisi buat bikin SIM pagi-pagi gini, kan aku masih ngantuk Bang Gi, mana lapar lagi" Ucapnya lagi sambil cengengesan dan mengusap perutnya yang keroncongan.


"A-apa jadi kamu tadi menangis hanya karena Bang Ko nyuruh kamu bikin SIM?" Tanya Regi seolah tak percaya, Nungky mengangguk mengiyakan diiringi dengan senyumannya yang menyebalkan membuat Regi langsung menunduk takut menatap Ricko."Bang Ko ma-af tadi aku kebawa emosi Bang! Cicitnya pelan.


"Sudah kubilang jangan ikut campur urusanku, ingat kalau sampai kamu ikut campur lagi aku akan menutup semua fasilitas yang sudah diberikan kepadamu, ah ya aku juga akan memotong uang jajanmu Regi" Tegas Ricko menatap adiknya itu dengan tajam.


"Baik Bang" Jawab Regi dengan patuh, tidak berani untuk membantah kakaknya yang dingin itu.


Ricko menoleh mencari keberadaan Nungky yang sudah menghilang, dia mengusap wajahnya dengan kasar sambil berdecak kesal, Regi yang melihat kakaknya sedang dipenuhi emosi langsung melarikan diri sebelum kena semprot lagi.


Ricko pun berjalan dengan tergesa-gesa, matanya yang tajam serta wajahnya yang dingin membuat semua orang yang berpapasan dengannya langsung mengkerut takut, Mario yang baru saja keluar kamar langsung masuk lagi saat melihat anak sulungnya itu berjalan ke arahnya.


"Ya Allah serem banget kayaknya macan lagi ngamuk, untung aku selamat!" Ucapnya sambil mengusap dadanya dengan lega.


Nungky yang sedang duduk di kursi meja makan bersenandung senang sambil menikmati nasi goreng yang begitu enak, dia tidak menyadari kedatangan Ricko yang kini sudah berdiri disampingnya, saat dia akan menambah makanannya Ricko langsung menarik tangan Nungky dan membawanya pergi, Nungky menoleh ke arah belakang dimana nasi gorengnya itu dengan mata berkaca-kaca, gara-gara Ricko acara makannya jadi terganggu padahal dia baru menghabiskan dua piring dan belum meminum Jus yang sedang dibuatkan oleh para pelayan.


"Masuk!" Perintah Ricko tegas sambil melepaskan tangganya pada Nungky tepat di depan mobilnya.


Tanpa membantah Nungky pun berjalan memasuki mobil Ricko dan duduk disampingnya yang sedang menyalakan mobil, didalam mobil Nungky sesekali melirik Ricko yang tengah fokus menyetir tanpa menoleh atau berbicara sedikit pun padanya.


"Abang Kerokan aku mau ngomong!" Ucap Nungky mencoba bersuara.


"Diamlah aku sedang tidak ingin bicara apalagi berdebat denganmu!" Jawab Ricko tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun, dia hanya ingin segera membawa gadis disampingnya itu ke kantor polisi dan membuatkannya SIM, dia tidak mau kedepannya Nungky akan membuat masalah lagi karena tidak mempunyai SIM dan menyulitkannya, jadi sebelum itu terjadi lagi dia harus menghentikannya.


"Tapi Bang-" 


"Aku bilang diam apa kamu tuli hah?" Bentak Ricko marah sambil menoleh menatap Nungky, setelah yakin gadis itu tidak akan kembali bersuara Ricko kembali fokus menyetir mobilnya.


Nungky mendengus sebal melihat kekejaman Ricko padanya, gadis itu lebih memilih membuang muka menatap keluar kaca mobil dari pada harus melihat wajah Ricko yang menyebalkan untuknya, Nungky meniup kaca mobil tersebut hingga membuat kaca itu berembun dengan santai dia pun menuliskan sesuatu di sana sambil terkikik geli.


"Ah sial" Umpatnya sambil memukul setirnya Dengan kesal."Perasaan mobil ini sudah di benerin kemarin tapi kenapa sekarang malah mogok?" Ucapnya lagi tak mengerti.


"Kan sudah kubilang Bang mobilnya abis bensin" Ucap Nungky santai.


Mendengar itu Ricko langsung menoleh menatap Nungky."Apa maksudmu Nungky, memangnya kapan kamu memberitahuku hah?" Ucapnya kesal dia merutuki kelakuannya sendiri yang salah karena tidak memperhatikan bensin dan malah terburu-buru membawa Nungky.


"Tadi loh Bang pas aku mau ngomong Abang Kerokan malah bentak-bentak aku, yaudah aku ngomong aja dalam hati Bang biar gak kena marah sama Abang". jawab Nungky sambil cengengesan.


"Keluaaaaar!" Teriak Ricko dengan emosi yang sudah meluap-luap, kemudian matanya menatap Nungky dengan aura yang menakutkan."Belikan aku air!" Ucapnya lagi.


"Kok air Bang bukan bensin, emangnya air bisa gantiin bensin ya Bang?" Tanya Nungky polos.


"Dasar bod*h itu untukku apa kamu tidak bisa mengerti hal sesimpel itu Nungky, aku haus cepat pergi sebelum aku menendang mu"  Ucap Ricko.


Sambil menggerutu tidak jelas Nungky keluar dari mobil Ricko dia menutup pintu mobilnya dengan keras tanpa mempedulikan tatapan Ricko yang menatapnya tajam, dengan perlahan gadis itu pun berjalan menyebrangi jalan raya yang cukup ramai untuk pergi ke toko swalayan yang berada di seberang jalan.


Ricko memperhatikan Nungky yang baru saja keluar dari toko swalayan tersebut dan mencoba kembali menyebrangi jalan, dia tersenyum samar melihatnya. Entah mengapa meski Nungky selalu membuat emosi nya meluap-luap tapi kadang dia sendiri tidak bisa membohongi perasaannya yang mulai merasa nyaman dengan kehadiran Nungky.


Ricko tidak tahu itu apa, yang jelas selama gadis itu bersamanya dia jadi bisa merasakan berbagai macam emosi yang selama ini tidak pernah dirasakannya, gadis itu mampu membuatnya tersenyum geli seperti sekarang hanya karena melihat Nungky sedang mengerucutkan bibirnya yang terlihat menggemaskan, padahal sebelumnya dia tidak tertawa atau bahkan tersenyum meski itu bersama adik dan ayahnya, yang ada dipikirannya selama ini hanya kerja dan kerja tanpa punya waktu untuk mengurus hal lain, baginya uang dan ketenaran adalah hal utama jika dia bisa mendapatkan itu maka hal lain akan menyusul, tapi sejak kedatangan Nungky dia sendiri mulai ragu dengan pendiriannya itu apakah masih sama atau tidak.


Saat Nungky sedanh berjalan menuju mobilnya sambil menenteng kresek berisi minuman, tiba-tiba dari arah kanan ada sebuah motor yang melaju dengan cepat, dengan panik Ricko langsung berlari menarik Nungky kedalam pelukannya dan langsung membanting dirinya sendiri tepat saat motor tersebut melewati mereka.


"Awww" Pekik Ricko dengan nada lirih saat merasakan tangannya yang terasa sakit karena menyentuh aspal demi melindungi kepala Nungky.


"Abang Kerokan" Teriak Nungky panik saat dia beranjak bangun dan melihat tangan Ricko yang terluka.


"Jangan melotot begitu cepat bantu aku!" Ucap Ricko lemah sambil tersenyum samar.


Deg


Nungky merasakan jantungnya berdebar kencang, dia tidak tahu apa itu karena melihat senyuman Ricko atau karena suara perutnya yang dengan tidak tahu dirinya berbunyi membuat Ricko terkekeh pelan mendengarnya.


"Maaf Bang nasi gorengnya kurang banyak tadi!" Ucapnya dengan wajah bersemu merah.


_______4


Galauuuuuu,😭😭😭😭😭😭