
"Bang, Abang kok ada disini apa kita jodoh ya Bang?" Ucap Nungky sambil cengengesan menatap Ricko yang tengah menyetir mobil disampingnya.
Ricko menatap Nungky sekilas dan kembali fokus menyetir."Tidak mana mungkin seperti itu, aku hanya sedang sial karena kebetulan lewat di jalan tadi" Jawab Ricko ketus.
"Jangan suka gitu Bang, jodoh dan takdir siapa yang tahu coba" Ucap Nungky menjelaskan." lagian dimana lagi Abang bisa ketemu sama cewek cantik dan imut kayak aku gini" Ucapnya lagi dengan senyumannya yang menyebalkan.
Ricko hanya diam dengan pandangan fokus ke depan, dia tidak berminat untuk meladeni omongan Nungky yang menurutnya tidak penting."Kamu mau kemana sekarang apa kamu akan naik taksi saja?" Tanyanya kemudian sambil menoleh menatap Nungky saat mobilnya berhenti di lampu merah"Aku tidak bisa mengantarmu pulang aku masih ada pekerjaan" Tambahnya lagi menjelaskan.
Nungky mengetuk-ngetukan jarinya di dagu seolah sedang memikirkan sesuatu, kemudian dia mendesah pelan sambil menatap Ricko sedih."Yah padahal aku pikir Abang Kerokan mau nganterin aku Bang" Ucapnya dengan wajah kecewa."Tapi aku putuskan buat gak jadi pulang dan ikut Abang aja ya" Tambahnya lagi sambil cengengesan.
"Tidak untuk apa kamu ikut denganku, yang ada nanti aku kena sial lagi" Protes Ricko tegas, kemudian dia kembali menjalankan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.
"Ayo cepat turun ini sudah dekat dengan rumah, jadi kamu tidak perlu repot-repot ikut denganku!" Perintah Ricko sambil menghentikan mobilnya di dekat toko yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahnya, namun saat Ricko menoleh Nungky sudah tidak ada di tempat duduknya, dia memperhatikan gadis itu yang berjalan dengan riang sambil melambaikan tangannya pada Ricko.
Ricko menatap lekat benda yang sedang di pegang Nungky, seolah mengenali benda tersebut Ricko langsung memeriksa saku celananya, dia berdecak kesal sambil memukul stir mobilnya."Dasar Bocah licik bagaimana dia bisa mencuri dompetku" Sungutnya kesal.
"Nungky tunggu!" Teriak Ricko sambil turun dari mobilnya dan mengejar Nungky.
Disinilah mereka berada, mereka duduk di depan gerobak tukang bakso sambil menunggu pesanan mereka atau lebih tepatnya pesanan Nungky, Ricko menghembuskan napasnya kasar sambil melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore.
"Kenapa Bang kok kayak resah gitu Bang,l? nih minum dulu Bang" Ucap Nungky sambil menyodorkan segelas es teh manis pada Ricko."Bang cepetan dong bikinnya laki saya udah kelaparan nih!" Teriak Nungky pada si penjual bakso tersebut.
"Sabar Neng sabar nih udah siap bakso pesenan Eneng , sengaja Abang bikinin yang spesial buat kalian" Ucap Si penjual bakso sambil menghidangkan pesanan mereka, dia menatap Ricko yang terlihat tampan dengan jas yang melekat ditubuhnya, sedangkan Nungky lebih terlihat seperti gadis remaja nakal yang membuatnya tersenyum geli.
"Kenapa Bang kita cocok ya Bang?, Doain aja ya Bang biar aku cepat dilamar" Ucap Nungky sambil Cengengesan yang membuat Ricko mendengus sebal melihatnya.
"Gak Neng Abang cuma kagum aja sama Mas-nya kok dia mau ya jalan sama Neng, kagak ada pantes-pantesnya gitu" Ucap si tukang bakso jujur.
Mendengar itu Ricko tersenyum puas sambil meminum teh manis yang tadi di berikan Nungky padanya."Kamu dengar itu gadis aneh, kita berdua memang tidak cocok jadi berhentilah mengatakan bahwa kita berjodoh" Ucapnya kepada Nungky setelah si tukang bakso itu beranjak pergi untuk melayani pelanggan yang lain.
Nungky menyeruput es teh manisnya dengan santai kemudian dia mengaduk-ngaduk mangkok baksonya, tidak lupa dia juga menambahkan beberapa sendok sambal ke dalam mangkok baksonya."Abang jangan percaya perkataan si tukang bakso itu, ketahuilah dia itu cemburu karena aku lebih milih Abang buat jadi calon lakiku, aku udah biasa dikejar-kejar cowok Bang maklumlah cewek cantik dan imut kayak aku banyak yang suka" Ucap Nungky menjelaskan sambil cengengesan dan melahap baksonya itu.
Ricko menggelengkan kepalanya sambil tersenyum miris, dia tidak mengerti bagaimana bisa seorang Nungky bisa memiliki tingkat kepercayaan diri dari yang begitu tinggi, padahal sudah jelas kalau penjual bakso itu berkata apa adanya tanpa tersirat kecemburuan apalagi tertarik pada gadis seperti Nungky, dia sendiri segan jika ada orang waras yang akan jatuh cinta kepada Nungky kalau pun ada dia yakin itu bukan dirinya.
"Cepat makannya dan kembalikan dompetku!" Perintah Ricko menatap Nungky tegas.
Nungky menelan bulat-bulat bakso kecilnya dengan bibir dan mata merah karena memakan bakso yang cukup pedas."Bentar Bang aku makannya cepat kok" Ucapnya menjelaskan."Abang ikutan makan dong biar sama-sama enak kita!" Tambahnya lagi.
"Tidak aku tidak bernafsu untuk makan bersamamu, jadi cepat selesaikan saja makanan mu itu!" Ucap Ricko.
Nungky mengedikan bahunya tidak perduli dan kembali menikmati acara makannya itu."Bang baksonya satu lagi" Teriak gadis itu saat bakso dalam mangkuknya tinggal beberapa suap lagi
Dengan sabar Ricko menunggu dan menunggu Nungky yang tidak berhenti makan, hingga akhirnya setelah Nungky menghabiskan mangkuk bakso ketiganya sambil tersenyum senang."Wah kenyang, Alhamdulillah ya" Ucap Nungky tersenyum senang.
Seorang tukang rujak tengah mendorong gerobaknya dengan pelan, dia mengusap keringat yang bercucuran dengan handuk kecil yang bertengger dipundaknya itu dengan asal."Ya Allah panas bener ya hari ini" Gumamnya sambil terus mendorong gerobaknya itu.
Si tukang rujak menghentikan langkah kakinya saat dia berada tepat di depan tukang bakso, matanya memicing saat melihat seorang gadis yang tengah duduk bersama seorang pria.
"Ka-kamu" Ucapnya membuat gadis tersebut menoleh menatap nya bersama Ricko.
Nungky melebarkan matanya melihat si tukang rujak yang terlihat ingin mengulitinya hidup-hidup, tukang rujak tersebut adalah orang yang pernah dia beli rujaknya dengan Chika tanpa membayar, dia tersenyum renyah sambil berdiri dari duduknya membuat Ricko mengikuti langkah Nungky dan ikut berdiri bersamanya.
"Ayo kabur Bang!" Ucap Nungky memotong ucapan Ricko sambil menarik tangan pria itu untuk berlari bersamanya.
"Heh Maling rujak!" Teriak si tukang rujak mengejar Nungky dan Ricko.
"Maling Bakso bayar dulu baru kabur woy" Teriak si tukang bakso ikut mengejar bersama si tukang rujak.
Kerumunan pun mulai bertambah banyak mengejar Nungky dan Ricko saat si tukang bakso dan rujak itu berteriak maling, alhasil Nungky dan Ricko menjadi kejaran masa yang ingin menghajar mereka habis-habisan.
"Ya Allah sudah kuduga akhirnya pasti akan begini" Ucap Ricko dalam hati sambil terus berlari bersama Nungky yang terlihat gesit dan cepat seolah sudah terbiasa berlari dikejar masa.
"Bang ayo naik!" Ucap Nungky sambil menarik Ricko menaiki sebuah mobil bak.
Masa yang tadi mengerjar Nungky langsung berhenti saat melihat mobil yang ditumpangi gadis itu, sambil tersenyum mereka melambaikan tangannya dengan senang membuat Ricko dan Nungky mengkerut kan kening mereka bingung, sedetik kemudian kebingungan mereka terjawab saat para polisi datang dan ikut naik mobik bersama mereka.
"Bawa dan hukum mereka pak, mereka maling makanan!" Teriak si tukang bakso dan rujak itu.
"Dari sekian banyak mobil kenapa kamu harus mengajakku naik mobil polisi Nungky?" Tanya Ricko menoleh menatap Nungky dengan wajah sudah menahan amarah.
Nungky menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil cengengesan."Maaf Bang aku khilaf, aku pikir ini mobil ambulans" Ucapnya membuat amarah Ricko kian memuncak.
Ricko menghembuskan napasnya kasar dan kembali menatap Nungky."Lagi pula kenapa kamu harus kabur Nungky, bukankah ada aku yang bisa membayar semua hutangmu itu" Ucapnya menjelaskan dengan tetap mencoba bersabar."Lagi pula harusnya kita lari ke mobilku bukan kesini, apa sebenarnya yang sedang kamu rencanakan hah?" Ucapnya lagi memandang Nungky dengan tatapan curiga.
"Ya Allah Bang aku gak punya rencana apa-apa sumpah deh bener" Ucap Nungky sambil mengangkat kedua jari telunjuk dan tengahnya."Udah Bang terima saja mungkin ini jalan takdir kita" Ucapnya lagi sambil cengengesan.
"Ka-kamu" Ricko menatap Nungky dengan emosi yang siap meledak.
"Sudah jangan berdebat terus dasar maling, tunggu saja nanti kalian akan diberi kesempatan untuk berbicara" Ucap salah seorang polisi membuat Ricko dan Nungky menunduk diam.
******
Ricko berjalan dengan amarah yang sudah memuncak memasuki rumahnya bersama Nungky yang dengan setia mengekor dibelakangnya."Cuci mobilku sampai bersih, kalau perlu pakai kembang tujuh rupa!" Perintah Ricko pada salah satu pengawalnya sambil melempar kan kunci mobilnya itu.
Tanpa berani berbicara si pengawal langsung mengangguk dan berlalu pergi takut jika dia kena semprot tuannya yang sedang marah itu, semua orang langsung berlarian kabur saat melihat Ricko berjalan dengan wajah kusut penuh amarah, Regi dan Mario yang sedang duduk di meja makan lebih memilih ikut kabur menyelamatkan diri bersama yang lain.
"Selamat bobo Abang kerokan, tidur yang nyenyak ya besok kita jalan lagi" Ucap Nungky tersenyum sambil memasuki kamarnya.
Ricko tidak menjawab dia terus melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri, saat berada di dalam kamar Ricko langsung mengunci pintu kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi, tanpa membuka pakaiannya Ricko membiarkan air membasahi tubuhnya, tangannya mengepal kuat seiring dengan emosi yang meluap-luap minta dilepaskan, hari ini untuk pertama kalinya dia harus rela ditangkap polisi yang lucunya lagi dia tidak melakukan kesalahan apapun.
Beruntung dia langsung menelpon pengacaranya dan membebaskan dirinya bersama Nungky hingga mereka tidak perlu berlama-lama berada di sel tahanan, Ricko tersenyum kecut mengingat kejadian yang menimpanya hari ini hanya karena seorang gadis bernama Nungky.
"Sebenarnya siapa kamu ini Nungky, kenapa hidup ku jadi sial terus setelah bertemu denganmu?" Gumamnya pelan.
Di dalam kamar Nungky menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, dia menatap langit-langit kamarnya sambil tersenyum senang."Besok ngapain lagi ya enaknya?" Gumam gadis itu dengan senyum licik yang terukir di bibirnya.
_____________
hiyaaaaaaaaaaa ada yang kangen gak?😁😁😁😁
Mau aku up lagi atau berhenti aja?,😘😘😘😘