Kepentok Cinta Nungky

Kepentok Cinta Nungky
Dijemput Calon Mertua



Di hari minggu yang cerah pagi-pagi sekali seorang gadis tengah sibuk mencari sepatunya yang hilang sebelah lagi sambil mengacak Rak sepatu yang sudah berantakan, akhirnya gadis itu tersenyum senang saat menemukan sepatunya yang terselip diantara sandal jepit milik ibunya yang nyasar di rak sepatunya.


“Mau kemana kamu Nung, kamu gak punya niat kabur kan kalau mau kabur jangan bawa baju banyak-banyak biar gak ribet!” Ucap Desi asal.


“Ish Mama mah gitu, emang Mama mau kehilangan anak Mama satu-satunya yang cantik dan imut ini?” Ucap Nungky sambil memasang wajah imutnya membuat Desi mencebik sebal.


Desi melihat penampilan anaknya yang sudah rapi mengenakan kaos ****** berjaket hitam dan juga celana jeans hitamnya dan juga sepatu kets putih miliknya yang terlihat sudah buluk karena lama tidak dicuci.


“Serius kamu mau kemana sih Nung kelayapan pagi-pagi gini, Mama kira tadi ada maling pas dengar suara ribut-ribut ternyata kamu toh!” Ucap Desi sambil meminum air putih yang dibawanya.


“Mama lupa aku mau pergi ke Bandung hari ini, ituloh aku diutus sama Ran buat bantuin saudaranya yang di Bandung buat basmi si penguntit aki-aki!” Ucap Nungky menjelaskan sambil merapihkan rambut panjangnya.


“Ran kesambet apa Nung nyuruh kamu jadi pembasmi penguntit, emang dia lupa kalau kamu biang gesrek?” Tanya Desi bingung.


“Sesama orang gesrek jangan saling menghina deh Ma” Ucap Nungky membuat Desi tersenyum mendengarnya.


“Bagi dong Ma!” Ucap Nungky mengambil gelas minuman yang dipegang ibunya, dia langsung menenggak isi air yang tinggal setengah itu hingga habis.


“Sudah sarapan belum kamu nak, sarapan dulu gih nanti kamu sakit siapa yang ngurus, sayang duitnya kalau kamu sampai harus berobat!” Ucap Desi pelan mengambil gelas yang sudah kosong dari tangan Nungky.


Nungky tersenyum pelan dia tau meski ibunya itu kadang suka bertingkah menyebalkan, tapi Desi adalah orang pertama yang akan panik jika dia sakit bahkan saat Nungky flu biasa saja Desi sampai memasukan anaknya itu untuk di rawat di rumah sakit dengan kelas VIP.


Tin


Tin


Suara klakson membuat keduanya saling berpandangan dengan bingung, kemudian mereka pun berjalan keluar untuk melihat siapa pelaku yang sudah membunyikan klakson pagi-pagi di depan rumah mereka.


Saat Nungky dan ibunya Desi keluar terlihat Kikan alias ibu mertua dari Rania sedang melambaikan tangan ke arahnya, dibelakang Kikan ada Veyya dan Gisuwa yang juga ikut melambaikan tangan mereka dengan heboh.


“Siapa Nung, orang kaya nyasar ya baju sama mobilnya mewah banget!” Bisik Desi saat melihat penampilan Kikan yang sangat modis saat dia berjalan ke arah mereka.


“Calon Mertuaku itu Ma, makanya kalau pakai baju itu jangan malu-maluin, tiap hari dasteran mulu!” Sindir Nungky membuat Desi melotot pada anaknya itu.


Desi berdehem berusaha untuk tidak terlihat mengenaskan disandingkan dengan Kikan, dengan tergesa-gesa dia merapikan dasternya yang kusut sambil tersenyum saat Kikan dan kedu teman dari anaknya itu datang menghampirinya.


“Hallo Nungky sayang, hallo kenalkan saya ibu mertuanya Rania!” Sapa Kikan ramah sambil menjabat tangan Desi.


Desi membalas jabatan tangan dari Kikan sambil tersenyun dan mengangguk, sebelumnya dia memang sudah mengetahui jika salah 1 teman Nungky yaitu Rania sudah menikah dari cerita Nungky.


“Saya ibunya Nungky, wah kamu cantik banget kulitnya halus lagi!” Puji Desi membuat Kikan tersenyum senang.


“Ah ibu bisa saja bikin saya senang pagi-pagi, ibu juga cantikloh biar pakai daster kelihatan banget cantiknya!” Ucap Kikan membalas pujian Desi membuat Desi tersenyum malu.


Kikan tidak berbohong Desi memang masih terlihat awet muda dan cantik, meski dia tidak mengenakan barang mewah seperti yang Kikan lakukan, jika disandingkan mereka seperti ibu-ibu cantik yang berbeda gaya.


“Tapi cantikan Mama mertua kok!” Ucap Nungky membuat Desi mencubit anaknya dalam diam.


“Ya sudah saya permisi dulu ya jeng soalnya kita lagi buru-buru nih!” Ucap Kikan kepada Desi.


“Iya Tante Des kita udah ditungguin sama sepupunya Ran nih” Ucap Gisuwa.


“Oh dia masih di rumah sama Reno anak saya, kasihan kalau dibangunin pagi-pagi habis begadang mereka” Ucap Kikan sambil mengedipkan sebelah matanya.


Desi mengangguk mengerti maksud dari perkataan Kikan.”Ah itu pastilah Jeng namanya juga pengantin baru pasti lagi seru-serunya ngejar setoran, kita aja yang sudah tua masih suka begituan” Ucap Desi membuat keduanya terkikik geli.


“Nah iya bener banget Jeng kalau soal itu mah mau tua atau muda gak bakal bosen, biasa seminggu berapa kali Jeng kalau saya sih kadang seminggu 3 kali kadang bisa tiap hari tergantung suasana!” Tanya Kikan kepada Desi.


“Sama jeng saya juga kalau laki lagi pengen mah kita cuma bisa pasrah ya!” Ucap Desi, keduanya pun tertawa seolah menertawakan sesuatu yang tidak dimengerti oleh ketiga gadis polos di samping mereka.


“Itu mereka lagi ngomongin apa sih, obat rabies?” Tanya Gisuwa kepada Veyya dan Nungky.


“Gak tahu Gis seru banget kayaknya sampai bikin kita jamuran disini!” Ucap Veyya sambil menatap Desi dan Kikan yang malah asyik mengobrol berdua.


“Pada ngomongin apa sih ikutan dong!” Ucap Nungky sambil tersenyum membuat Kikan dan Desi menoleh ke arahnya.


“Hus anak kecil gak boleh ikut-ikutan dosa tahu!” Omel Desi.


“Iya Ky nanti kalau kamu sudah nikah baru ikutan ya!” Tambah Kikan.


“Tante Kikan ayo cabut udah siang nih!” Ucap Veyya.


“Iya tante Kikan katanya harus berangkat pagi” Ucap Gisuwa ikut bersuara.


“Aduh Jeng maaf ya kayaknya saya harus pergi sekarang kasihan anak marmut pada nungguin, saya duluan ya Jeng nanti kita ngobrol lagi kapan-kapan!” Ucap Kikan sambil bercipika cipiki kepada Desi.


“Ok Jeng gak apa-apa saya ngerti!” Balas Desi sambil tersenyum.


Kikan pun masuk kedalam mobilnya diikuti oleh Veyya dan Gisuwa yang duduk di kursi belakang.


“Assalamualaikum Ma jangan rindu gak guna kasih duit saja!” Ucap Nungki sambil cengengesan. Nungky mencium pipi ibunya sambil berlalu memasuki mobil Kikan dan duduk bersama Veyya dan Gisuwa.


“Waalaikum salam hati-hatiloh, jangan ngebut, bahaya kamu gak bisa nyetir!” Ucap Desi padahal sudah jelas bukan Nungky yang membawa mobilnya.


Desi melambaikan tanganya kepada mereka hingga mobil itu hilang dari pandangannya, kemudian dia berbalik berjalan menuju ke dalam rumahnya.


“Pagi Tante des!” Sapa Awan yang baru saja keluar dari rumahnya.


Desi menghentikan langkah kakinya dan tersenyum kepada pemuda tampan yang pintar itu.”Pagi Nak Awan mau olah raga ya?” Tanya Desi saat melihat penampilan Awan yang sudah rapi mengenakan pakaian olah raga.


Awan mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.”Oh iya barusan siapa Tante Des?” Tanya Awan yang juga mendengar suara klakson mobil.


“Biasa Veyya sama Gisuwa jemput Nungky katanya mereka mau ke Bandung” Jawab Desi.


“Veyya barusan kesini tante?” Tanya Awan dengan mata berbinar senang.


“Iya Wan, sudah ya Tante masuk dulu mau lanjut tidur!” Ucap Desi sambil berlalu pergi meninggalkan Awan.


Awan tersenyum senang saat mendengar nama Veyya, gadis yang beberapa hari ini selalu terbayang-bayang olehnya, baik saat dia sedang terjaga atau tidur sekalipun.


“Veyya aku padamu!” Gumamnya pelan.