
Akhirnya setelah beberapa hari berlalu, ujian nasional pun berakhir bersama ujian-ujian lainya juga keculi ujian hidup, Nungky sudah selesai mengerjakan semua soal dan menguji kemampuannya sendiri.
Hari ini hari dimana dia akan mengetahui apakah dia menang dalam tantangan yang dibuatnya bersama Mario ataukah dia harus kalah dan menelan pil pahit karena tidak bisa mendapatkan mobil dan membebaskan Regi dari amukan ayahnya.
Semua murid berdiri berjejer di lapangan sekolah untuk mendengarkan pidato panjang dari kepala sekolah yang mereka sendiri tidak tahu isinya apa, semua murid sibuk berbisik-bisik bersama teman mereka, ada yang sibuk membicarakan gebetan, mantan, ada juga yang tengah menangis karena habis diputusin pacarnya cuma karena dia salah ngetik pesan di WA yang harusnya *sayang* jadi *cayang* membuat si cowo berkulit tanpa daging itupun diputuskan pacarnya.
Berada di barisan tengah Nungky, Rania, Veyya dan Gisuwa berdiri diantara murid-murid lain yang jumlahnya cukup banyak itu, dengan bosan mereka mendengarkan setiap pidato dari kepala sekilah yang seperti menjadi lagu penenang bagi mereka.
“Aduh Pak Kepsek lama banget dah pidatonya itu pidato apa curhat kehidupan sih” Gumam Gisuwa bosan.
“Iya nih mana panas lagi, kapan sih diumumin lulus atau gak nya kebanyakan basa-basi padahal intinya kan cuman ngumumin pelulusan” Ucap Rania kesal, pasalnya dia ingin segera pulang dan menemui suaminya itu.
“Sabar Ran kayak nih bocah yang santai kebangetan” Ucap Veyya sambil menunjuk Nungky yang sedang duduk di rumput, dia terlihat tidur dengan menekuk tangan dan menopangkan dagunya, dia terlihat sangat santai bahkan dia tidak tahu apa yang sedang berada disekitarnya karena kesibukan tidur.
Gubrak
Nungky terjengkang saat tidurnya menjadi begitu lelap dan membuatnya tidak mampu lagi untuk duduk, murid-murid di sekitarnya cekikikan tidak jelas saat Nungky terjengkang, gadis itu bangun dengan kesadarannya yang sudah kembali dia menengok kanan kiri seperti orang linglung.
“Ini kita ngantri apa sih ngantri dibagiin sembako ya?” Tanya Nungky sambil menatap ketiga temannya.
“Bukan Ky lagi nunggu pengumuman kelulusan nih, kebanyakan tidur sih jadi eror kan” Omel Rania kesal.
“Hehe habisnya kelamaan sih sampe kebawa mimpi, kirain udah selesai ngumuminnya” Ucap Nungky sambil cengengesan.
“Kira-kira kita lulus semua gak ya, mudah-mudahan aku lulus biar gak disuruh jadi kang sate sama Mamaku” Ucap Gisuwa.
“Aku juga pengen lulus, kasihan Mas Reno udah capek-capek ngajarin bisa malu dia kalau aku gak lulus” Ucap Rania takut.
“Aku sih gak peduli mau lulus atau gak, lagian orang tuaku juga gak berharap banyak, kata mereka yang penting aku gak tertekan sudah cukup” Ucap Veyya santai, sepertinya dia memang tidak mengerti maksud perkataan orang tuanya adalah mereka benar-benar sudah kehilangan harapan dan jika Veyya lulus merupakan suatu keajaiban bagi mereka.
“Tenang teman-temanku tercintah kalian pasti lulus dan aku bakal jadi juara umum di ujian kali ini” Ucap Nungky sambil tersenyum dengan dirinya yang tinggi.
“Justru kalau kamu ngomong gitu kita jadi tambah yakin Ky” Ucap Rania lesu.
“Iya tuh aku sih berharap minimal kita lulus dulu soal nilai mah terakhir” Ucap Gisuwa bijak.
“Mending kamu diam dulu Ky jangan banyak ngomong, jangan bawa aura sial disini” Ucap Veyya membuat Nungky mendengus sebal.
“Baiklah anak-anak selamat kalian semua lulus!” Ucap Pak Kepsek.
Semua murid langsung bersorak senang merayakan kelulusan mereka, sedangkan Nungky dan ketiga temannya hanya melongo karena mereka tidak mendengar saat kepala sekolah mengumumkan kalau mereka lolos.
“Eh Jul kita lulus?” Tanya Rania pada Julia salah 1 teman sekelasnya.
“Iya Ran kita lulus masa gak dengar barusan pas pak Kepsek ngomong” Ucap Julia menjawab pertanyaan Rania.
Mendengar itu mereka berempat langsung bersorak senang bersama murid lainnya merayakan kelulusan mereka, hingga akhirnya suara dari pak kepsek kembali berkumandang menyuruh mereka untuk tenang.
“Pasti yang menang Awan si ketua osis itu dia kan emang pinter banget” Ucap Salah seorang siswa.
“Iya sama kalau untuk juara dua sama tiga sih aku gak tahu yang jelas juara pertama pasti Awan” Ucap Siswi lain.
Begitulah kasak-kusuk yang terdengar dari para murid sekolah, sambil menunggu Pak Kepsek mengumumkan semua juara yang mendapat nilai terbaik.
“Baik tepuk tangan untuk juara ketiga kita Rania Zalora!” Panggil Pak kepsek.
Semua orang langsung berteriak heboh saat mendengar idola sekolah itu masuk dalam jajaran juara yang mendapaty nilai tertinggi, Nungky, Veyya dan Gisuwa bertepuk tangan dengan meriah saat melihat Rania tengah berjalan ke depan menghampiri pak kepsek serta para guru yang lain.
“Wah hebat ya si Ran bisa dapat juara juga, gak sia-sia dia belajar siang malam” Ucap Gisuwa berdecak kagum.
“Iya betul Gis kita kapan ya?” Ucap Veyya sambil menatap Rania yang terlihat bahagia di depan sana.
“Sabar Veyy, mending kamu benerin otak kamu dulu ya kali aja ada yang salah” Ucap Gisuwa prihatin membuat Veyya mendengus sebal.
“Sekarang tepuk tangan untuk juara 2 kita Awan” Ucap Pak Kepsek.
Sontak semua murid langsung bertepuk tangan sambil melihat Awan yang tengah berjalan ke depan, mereka bingung karena Awan si ketua osis pintar ternyata bukan juara umum melainkan hanya juara 2.
“Dan ini dia si juara umum kita, sebenarnya bapak sendiri tidak rela dan ikhlas buat ngasih selamat sama juara kali ini, bukan apa-apa bapak hanya tidak mengerti murid paling nakal di sekolah bisa jadi juara, baiklah kita sambut juara umum kita Nungky!” Ucap Pak Kepsek dengan nada dibuat heboh.
Hening tidak ada seorang pun yang bertepuk tangan, semua murid melongo menatap Nungky yang dengan penuh percaya diri berjalan melewati mereka, namun kemudian para murid itu langsung berteriak heboh dan bertepuk tangan dengan keras kecuali Veyya dan Gisuwa yang hanya bengong, mereka seolah tidak mempercayai pendengaran mereka sendiri.
“Kayaknya sekolah mulai kepincut sama Nungky, lihat saja dia bisa jadi juara umum gitu, pakai pelet apa ya dia?” Gumam Veyya tak mempercayai atau bahkan tidak rela jika Nungky menjadi juara umum.
“Sama Veyy, emang ya si Nungky itu gak bisa ditebak jalur hidupnya” Ucap Gisuwa yang diangguki Veyya setuju dengan pendapat temannya.
“Baik Nungky silahkan kasih sepatah dua patah kata di depan para murid, kasih inspirasi kenapa kamu bisa kadi juara umum” Ucap Pak Kepsek mempersilahkan Nungky untuk bicara.
“Halo teman-temanku tercinta kenalkan aku putri imut dan cantik yang akan mengubah dunia!” Sapa Nungky membuat semua orang yang melihatnya tertawa.
“Soal kenapa aku bisa jadi juara umum sih udah jelas karena aku ini memang pintar dan cantik jangan ngiri ya, buat para cowok boleh kok minta nomorku dicatat ya nomor aku 08888282----- jangan lupa telepon aku bang kali aja kita jodoh!” Ucap Nungky membuat suasana langsung heboh, sedangkan pak kepsek langsung merebut mich di tangan Nungky dan menyuruh gadis itu menyingkir.
“Yah Pak saya belum ngasih alamat saya loh nanti kalau ada yang mau apel pada nyasar dong” Ucap Nungky sedih.
Melihat kepala sekolah yang menatap Nungky seperti ingin mengulitinya hidup-hidup, Rania dengan sigap langsung menarik tangan Nungky agar ikut bersamanya dan pergi menemui Gisuwa dan Veyya.
“Heh kampret kalau mau malu-maluin sendiri aja jangan di sekolah juga tapi bikin malu berjamaah kamu Ky” Omel Rania sambil menatap Nungky kesal.
“Suka gitu kamu Ran, ngomong aja kamu sirik aku bakal ngalahin kamu jadi idola sekolah, kamu gak lihat tadi pas aku ngomong semua cowok pada heboh gitu, aduh pasti bentar lagi banyak yang chat aku” Ucap Nungky sambil tersenyum senang, padahal kenyataanya semua orang langsung memasukan nomor Nungky pada daftar nomor yang masuk daftar hitam.
“Terserah aku mah gak peduli Ky lagian aku kan udah laku ngapain juga ngurusin kayak begituan, udah ah ayo kabur sebelum diamuk massa kita” Ucap Rania melirik para murid pintar yang menatap mereka tajam seolah tidak terima dengan status juara umum yang disandang Nungky.