
Sore itu Nungky baru saja pulang kuliah, dia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, gadis itu menghembuskan napasnya pelan sambil merenggangkan kedua tangannya yang terasa pegal, setelah merasa lelah karena kuliah dia juga harus mengerjakan tugas yang diberikan oleh Ricko.
Saat berjalan melewati menuju kamarnya Nungky menghentikan langkah kakinya saat Ricko berjalan ke arahnya bersama seorang gadis yang terlihat cukup cantik dengan mengenakan pakaian rapi seperti orang kantoran dengan rambut bergelombang panjang, mereka terlihat sedang mengobrol serius sampai tidak menyadari kehadirannya.
"Aduh" Pekik Nungky saat Ricko menabraknya hingga terjatuh.
"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya si gadis yang bersama Ricko sambil membantu Nungky untuk berdiri, sedangkan Ricko hanya diam melihat Nungky tanpa ekspresi seperti biasanya.
"Terima kasih Mbak cantik" Ucap Nungky berterima kasih, si gadis mengangguk sopan sambil tersenyum kecil, kemudian Nungky menatap Ricko dan gadis itu sambil cengengesan."Wah Abang kerokan siapa nih Bang, cewek Abang ya?" Godanya dengan alis yang naik turun.
"Tidak mungkin" Ucap Ricko dan gadis itu secara bersamaan.
"Maaf nona kenalkan saya Zahra, sekretaris tuan Ricko, anda siapa?" Ucap gadis yang bernama Zahra menatap Nungky dengan penasaran, pasalnya setelah lama menjadi sekretaris Ricko dia tidak pernah melihat Nungky.
"Halo kak Zahra kenalkan aku Nungky si gadis cantik dan imut, aku calon mantu di keluarga ini" Ucap Nungky bersalaman dengan Zahra sambil menyunggingkan senyumannya yang menyebalkan.
"Heh gadis nakal jangan asal bicara kamu, memangnya siapa yang mau menikah denganmu, ingat satu hal aku tidak tertarik untuk berhubungan dengan seorang gadis apalagi jika gadis itu kamu, aku tidak akan pernah tertarik" Ucap Ricko menyangkal ucapan Nungky dengan tegas.
Nungky menatap Ricko dengan kening berkerut bingung."Memangnya siapa yang bilang kalau aku mau nikah sama Abang Kerokan?" Ucapnya membuat Ricko mengerjapkan matanya terkejut karena ucapannya sendiri, sedangkan Zahra hanya terkikik geli melihat tuannya itu yang terlihat malu.
"A-aku hanya mengingatkan mu mu agar tidak pernah berpikiran seperti itu" Ucap Ricko gugup tanpa berani memandang wajah Nungky.
"Sudah Bang, kalau cinta bilang saja jangan dipendam nanti aku keburu nikah sama yang lain Abang sendiri yang rugi" Ucap Nungky menepuk-nepuk pundak Ricko sambil cengengesan.
Ricko menepis tangan Nungky dengan kesal."Jangan bermimpi!" Ucapnya tegas."Ayo kita pergi sekarang aku tidak ingin membuang waktuku disini" Ucapnya lagi sambil berjalan.
Nungky dan Zahra ikut berjalan dibelakang Ricko, saat berada di parkiran Ricko berbalik menatap Nungky dengan kesal."Kenapa kamu mengikutiku, pergilah sebelum aku memberimu hukuman yang lain" Ucapnya mengusir Nungky."Ah tapi tunggu sebaiknya kamu ikut denganku, bawa mobilku dan antarkan kami pergi sekarang!" Ucapnya lagi sambil melempar kan kunci mobil pada Nungky yang langsung ditangkap oleh gadis itu dengan sigap.
"Siap Bos" Ucap Nungky sambil cengengesan dan langsung masuk ke dalam mobil.
Zahra duduk disamping Nungky sambil menjelaskan beberapa hal tentang perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan Ricko, rencananya malam ini mereka akan mengadakan pertemuan sekaligus membahas kerja sama dengan pemilik perusahaan tersebut, dalam diam sambil fokus menyetir mobil menuju tempat yang diberitahu Zahra, Nungky mendengarkan percakapan kedua orang yang berada bersamanya tanpa mengerti satu hal pun.
Setelah sampai ditempat tujuan, Zahra dan Ricko keluar dari mobil dan memasuki kafe tersebut, sedangkan Nungky hanya diam dan menunggu mereka sambil duduk di mobil Ricko, gadis itu menyetel Radio sambil bersenandung seolah menikmati waktunya.
"Heh gadis licik kita bertemu lagi!"
Mendengar itu Nungky langsung menoleh menatap seorang gadis cantik yang tengah tersenyum sinis padanya dengan tangan terlipat di dada, Nungky langsung cengengesan saat mengingat jika Gadis itu adalah Jenny model yang pernah dia kerjai bersama Veyya dan Gisuwa.
"Hai kakak cantik maaf kakak siapa ya, apa kakak mengenalku?" Tanya Nungky berbohong dengan menampilkan wajah polosnya.
Jenni berdecak kesal menatap Nungky sebal, kemudian dia menarik baju Nungky dan mendorongnya hingga terjatuh."Ah sial salah apa coba aku didorong sama cewek ular kayak dia" Gumam Nungky kesal sambil beranjak berdiri.
"Bagaimana apa kamu sudah ingat sekarang? Aku ini adalah orang yang pernah kamu dandani seperti badut bersama kedua temanmu itu" Ucap Jenny memandang Nungky dengan angkuhnya.
"Oh jadi kakak ini model yang waktu itu" Ucap Nungky seolah baru mengingat Jenny membuat model cantik itu menatapnya kesal karena merasa tidak dianggap oleh Nungky "Gimana kak, waktu itu kakak jadi pusat perhatian kan?" Ucapnya lagi sambil cengengesan.
"Tentu saja gadis licik karena kamu aku menjadi tertawaan banyak orang, dan karena kita sudah bertemu disini aku ingin memberimu hadiah kecil untukmu" Ucap Jenny sambil menarik Nungky menjauh.
Dengan senang Nungky mengikuti tarikan tangan Jenny yang membawanya pergi."Mau kemana kita kak, mau teraktir aku makan ya?" Ucapnya dengan mata berbinar senang."Ayo kak kebetulan aku lagi lapar" Ucapnya lagi sambil mempercepat langkah kakinya.
"Loh kok kita kesini kak?" Tanya Nungky bingung karena Jenny membawanya ke belakang kafe yang terlihat gelap dan juga sepi, hanya ada tong sampah disana tanpa satupun orang yang lewat menyisakan mereka berdua membuat Nungky menggaruk tengkuknya dengan bingung.
"Kenapa, apa kamu takut?" Tanya Jenny dengan senyuman sinisnya."Dasar bod*h aku kemari bukan untuk mengajakmu makan tapi untuk memberimu pelajaran, siap-siaplah setelah ini aku pastikan kamu tidak berani menunjukkan wajah jelekku itu di depan umum" Ucapnya lagi sambil merenggangkan otot-ototnya.
"Dasar kurang ngajar!" Umpat Jenny kesal kemudian dia berlari ke arah Nungky bersiap untuk menghajar gadis menyebalkan itu.
Bugh
Bugh
"Argghhhh"
Nungky kembali ke arah parkiran sambil menepuk-nepuk bajunya yang terkena debu, dia mempercepat langkah kakinya saat melihat Ricko sedang bersandar di mobil dengan tangan terlipat menatapnya dengan tajam.
"Dari mana saja kamu gadis nakal?" Tanyanya pada Nungky yang sudah berdiri di depannya.
"Maaf Bang aku barusan lagi nonton kucing berantem terus kecebur got, kasihan banget deh Bang" Jawab Nungky sambil cengengesan.
Ricko menatap Nungky dengan alis yang terangkat seolah tidak mempercayai kata-kata gadis di depannya itu, kemudian dia masuk dan duduk di dalam mobilnya."Ayo Pulang!" Ucapnya tegas.
Nungky pun masuk mobil dan duduk di kursi stir, seolah ingat sesuatu dia berbalik menatap Ricko."Kak Zahra mana Bang kok gak ada?" Tanyanya penasaran.
Ricko menatap Nungky dengan malas."Dia sudah dijemput pacarnya, sudahlah jangan banyak bertanya ayo pulang" Ucapnya membuat Nungky mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan kafe tersebut.
Tidak lama setelah Nungky dan Ricko pergi, Jenny datang dengan baju dan rambut yang sudah acak-acakan, dia menatap mobil yang tadi ditumpangi Nungky sudah menghilang membuatnya berdecak kesal, tadi saat berkelahi dengan Nungky dia kalah telak dan harus menerima kesialan karena Nungky memasukannya ke dalam tong sampah, Jenny merasa mual sendiri mencium bau tidak tubuhnya yang campur aduk.
"Pak tolong saya Pak, barusan saya kena rampok" Ucap Jenny meminta tolong pada seorang satpam di kafe tersebut, Jenny tersenyum licik dengan ini dia bisa membuat Nungky masuk penjara.
Namun bukannya percaya, satpam tersebut malah menjauh sambil menutup hidungnya."Mbak siapa gembel ya, maaf Mbak pemulung dilarang mangkal disini, cepat pergi sebelum saya telepon satpol PP" Ucap Si satpam mengusir Jenny.
Jenny menutupi wajahnya karena malu saat beberapa pengunjung menatapnya dengan tatapan seolah jijik, dengan segera dia pun pergi meninggalkan kafe tersebut."Lihat saja aku pasti akan membalasmu!" Gumamnya penuh dendam sambil menaiki mobil jemputannya."Apa lihat-lihat?" Bentak Jenny pada supirnya yang menatapnya sambil menutup hidungnya."Ayo pergi sebelum aku memecatmu" Ucapnya lagi dengan kasar.
Di jalan Nungky menjalankan mobilnya dengan tenang, dibelakangnya Ricko sesekali melirik gadis itu sambil tersenyum samar, jika sedang tenang Nungky terlihat manis dan menggemaskan, dia menggeleng menyadarkan dirinya sendiri gara tidak terjebak oleh pesona Nungky.
Tiba-tiba Nungky menghentikan mobilnya saat seorang polisi menyuruh mereka berhenti."Selamat malam bisa tunjukan SIM Anda" Ucap Si polisi dengan sopan.
Nungky menoleh menatap Ricko sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, seolah mengerti maksud gadis itu Ricko langsung panik matanya melirik si polisi yang menatap mereka dengan pandangan curiga."Kenapa kamu tidak bilang jika kamu tidak punya SIM Nungky" Bisiknya dengan gemas seolah ingin memakan Nungky hidup-hidup.
"Kok Abang nyalahin aku sih, kan tadi Abang yang maksa-maksa aku buat nganterin Abang Kerokan, apalah aku ini Bang nasibku memang malang" Ucap Nungky sambil mengelap air mata buayanya.
"Sekali lagi tolong tunjukan SIM Anda" Ucap si Polisi dengan nada tegas.
Mendengar Itu Nungky langsung menangis tersedu-sedu."Ampun Pak Polisi saya tidak punya SIM, tapi jangan tangkap saya Pak, saya dipaksa sama Tuan saya buat bawa mobil padahal saya sudah bilang kalau saya tidak punya SIM, tapi Tuan Ricko mengancam akan memecat keluarga saya, apalah daya saya yang seorang tukang cuci baju yang bekerja di rumah Tuan Ricko, saya tidak berdaya Pak" Ucapnya sedih sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit dengan air mata yang terus menerus mengalir.
"Gadis licik apa yang kamu katakan itu Hah" Bentak Ricko marah.
Merasa Iba Polisi tersebut memandang Ricko dengan tajam."Maaf Pak, sekarang Bapak ikut saya ke kantor!" Ucapnya sambil membuka pintu mobil dan menarik Ricko."Dasar tidak tahu malu, anda itu tampan dan juga masih muda tapi sifat anda sangat keji hingga berani menyiksa gadis lemah seperti dia dan juga keluarga nya" Ucap Si Polisi sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Ricko tidak menjawab dia hanya diam sambil menatap Nungky yang cengengesan ditempatnya, Sekali lagi dan lagi gadis itu membuatnya berurusan dengan polisi, dia jadi sangat menyesal karena tadi sempat tergoda dan memuji gadis licik itu.
_________
Hiyaaaaaaaaaa