Kepentok Cinta Nungky

Kepentok Cinta Nungky
Suhu Nungky



Saat Nungky dan ketiga temannya tengah mengobrol sambil ngemil cemilan di di dalam kelas anak kelas 2,mereka sengaja berkumpul di sana karena di kelas mereka sudah berisik dengan para anak lelaki, tiba-tiba datang sekelompok siswi yaitu Dewi dan ketiga antek-anteknya masuk ke kelas tersebut.


“Eh Wulan kerjain PR Fisika kita ya bentar lagi gurunya datang!” Ucap Dewi kepada Wulan anak pintar yang culun sambil menyerahkan buku PR miliknya dan juga ketiga temannya.


“Baik Dew!” Jawab Wulan dengan patuh sambil membenarkan letak kacamatanya.


“Kamu juga ya Hera kerjain PR Matematika kita!” Ucap Dewi sambil memberikan buku PR miliknya dan ketiga temannya itu.


Hera mengangguk tanpa berkata apa-apa, setelah selesai dengan urusan mereka Dewi dan ketiga temannya itu langsung berlalu meninggalkan kelas.


“Kenapa pada nurut disuruh-suruh sama anak-anak ganjen kayak Dewi sama teman-temannya?” Tanya Rania sambil duduk di depan Wulan dan Hera.


“Iya tuh kalian gak punya hutang sama mereka kan?” Tanya Veyya ikut duduk di dekat mereka.


“Bukan gitu kak, kita gak berani ngelawan mereka kalau ngelawan nanti kita di bully lagi!” Ucap Hera menunduk sedih.


Wulan mengangguk menyetujui ucapan temannya Hera.”Betul itu Kak, kita cuma mau cari aman saja dari pada babak belur!” Ucap Wulan.


“Kalau kalian di apa-apain balas dong, ibaratnya kalau kalian dijambak ya jambak balik” Ucap Gisuwa memberi saran ala mereka yang terbiasa memakai otot tanpa otak.


“Mana berani kita Kak, kata Mama juga gak boleh jahat sama orang, berantem itu gak baik bikin orang jadi gak benar!” Ucap Wulan tidak menyetujui ucapan Gisuwa.


“Kamu ini Gis ngasih saran yang bener dong, sudah kalian ajak tawuran aja kita bantu kok!” Ucap Rania memberi saran yang lebih ekstrim membuat ketiga temannya itu langsung menoyor kepalanya pelan.


“Sama aja Ran, emang ya kita itu turunan preman!” Ucap Veyya.


“Ini juga demi kebaikan mereka Veyy, emang kalian mau diganggu terus sama Dewi?” Tanya Rania kepada Wulan dan Hera.


Kedua gadis itu langsung menggeleng secara bersamaan.”Gak mau lah Kak tapi caranya gak gitu juga kali!” Ucap Hera.


“Iya kata Mama gak boleh main kasar!” Ucap Wulan.


“Mama kalian cuman bilang kalian gak boleh main kasar kan bukan yang lain?” Tanya Nungky.


“Iya Mama cuma bilang gitu!” kali ini Hera yang menjawab pertanyaan Nungky.


Nungky tersenyum simpul sambil menatap kedua gadis polos yang memakai baju yang rapi layaknya anak pintar di sekolah.


“Kalau gitu kalian berdua ikuti saranku, jangan ngasih jawaban Dewi dan teman-temannya!” Perintah Nungky sambil melipat kedua lengannya.


“Apa, kalau gitu salah semua dong, kita bisa di marahin!” Ucap Wulan takut.


“Tenang kalian lakukan saja perintah kita!” Ucap Veyya yang diangguki ketiga temannya, mereka sudah tahu maksud dari perkataan Nungky.


“Tapi kak ki-”


“Sudah aku jamin kalian gak bakal di apa-apa sama mereka, kita disini bua ngajarin kalian jurus membela diri!” Ucap Nungky memotong ucapan Hera.


“Veyy , Gis lakukan tugas kalian!” Ucap Rania.


Veyya dan Gisuwa mengacungkan jempol sambil tersenyum, mereka langsung beranjak menghampiri Hera dan wulan yang menatap mereka bingung.


Tanpa banyak bicara kedua gadis itu mulai mengerjakan pekerjaan mereka, dengan dibantu Gisuwa, Veyya mulai merubah penampilan kedua gadis culun itu menjadi seperti mereka atau lebih tepatnya membuat keduanya terlihat lebih modis dan juga cantik.


“Bagus!” Ucap Nungky sambil tersenyum puas.


“Sekarang kalian tendang Gisuwa!” perintah Rania.


“Tidak ah kak kita gak berani!” Tolak Wulan dan Hera sambil menggelengkan kepala mereka.


Mana mungkin mereka berani macam-macam dengan keempat senior mereka yang selain terkenal dengan dengan kecantikan mereka, mereka juga sadis dan suka berbuat onar.


“Sudah gak apa-apa lakuin aja!” Perintah Gisuwa sambil memunggungi mereka berdua bersiap untuk ditendang.


Nungky yang tidak tahu apa yang bisikan Rania, dia mendekati Hera dan Wulan sambil tersenyum genit, dengan perlahan gadis itu menyentuh pundak mereka yang raut wajahnya terlihat berbeda.


Tanpa aba-aba Hera dan Wulan langsung memukuli Nungky membuat gadis itu mengaduh kesakitan dan membalas pukulan mereka, melihat itu Rania, Veyya dan Gisuwa tersenyum puas.


“Kamu bisikin apa sama mereka Ran?” Tanya Veyya penasaran.


“Gak sih aku cuma bilang kalau Nungky suka godain bapak mereka!” Ucap Rania yang membuat Gisuwa dan Veyya terkikik geli, ketenaran Nungky yang suka menggoda para cowok di sekolah mereka ternyata bisa dimanfaatkan juga.


Setelah selesai berkelahi Nungky beranjak bangun sambil memegang pinggangnya yang terasa sakit, dia langsung duduk di samping Rania yang menepuk pundaknya pelan.


“Ingat kalian hanya boleh melakukan itu saat kalian di serang, itu bukan untuk membuat kalian jadi cewek menyebalkan kayak Dewi kalau gak kalian habis sama kita!” Ucap Rania penuh Ancaman.


“Baik Kak!” Ucap kedua gadis tersebut sambil mengangguk dengan patuh.


Keempat gadis tersebutpun langsung beranjak menuju keluar kelas, namun tiba-tiba Nungky berhenti dan kembali menghampiri kedua gadis tersebut, setelah selesai dengan urusannya Nungky langsung menghampiri ketiga temannya yang sedang berjalan melewati koridor menuju kelas mereka.


“Habis ngapain kamu Ky, kamu gak ngelakuin yang aneh-aneh kan?” Tanya Gisuwa curiga.


“Tenang saja aku cuma ngasih sedikit tambahan informasi sama adik kelas kkta tercinta!” Ucap Nungky sambil tersenyum misterius.


Rania, Veyya dan Gisuwa mengedikan bahunya tak perduli, mereka yakin Nungky tidak akan menyuruh kedua gadis tadi melakukan hal kejam seperti pembunuhan.


Beberapa hari setelah kejadian itu, sekolah diramaikan dengan kedatangan kedua orang gadis culun yang mereka bantu karena dipanggil oleh guru BK, Nungky bersama yang lainpun mengintip ke dalam ruangan tersebut mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Saya tidak mengerti kenapa Hera anak saya bisa melakukan hal sekejam itu Bu, padahal dulu dia anak yang baik gak pernah macam-macam!” Ucap Ibu Hera menatap anaknya yang telah dilaporkan karena mengerjai teman sekelasnya dengan menaruh kodok di dalam tas mereka.


“Saya juga, Wulan itu anak pintar dan juga gak pernah nakal” Ucap Ibu Wulan yang anaknya juga dilaporkan untuk kasus yang sama.


“Saya tahu anak-anak ibu memang anak yang baik dan juga pintar, tapi memang benar mereka yang melakukan hal itu, dan juga nilai mereka akhir-akhir ini anjlok!” Ucap Bu Rina menjelaskan.


“Lihat sekarang penampilan mereka juga sudah berubah saya tidak tahu siapa mengajari mereka hal seperti itu!” Tambah bu Rina.


Penampilan Wulan dan Hera memang sudah berubah, kini kedua gadis tersebut terlihat percaya diri dengan kesalahan yang mereka buat, tidak terlihat lagi gadis culun yang pemalu seperti dulu.


“Benarkah itu Hera, cepat katakan siapa orang yang mengajari kamu jadi seperti ini!” Ucap Ibu Hera sambil menatap anaknya itu.


“Kamu juga Wulan kasih tahu Mama, siapa yang ngajarin kalian?” Ucap Ibu Wulan sambil mengusap rambut anaknya dengan lembut.


“Gak mau Ma, aku sudah janji sama Suhu kita buat gak buka mulut!” Ucap Hera menolak menjawab.


“Iya aku juga Ma, kata suhu kalau kita ditindas pakai cara halus saja biar Mama gak marah!” Ucap Wulan ikut bungkam seperti Hera.


“Suhu, siapa orang yang kalian maksud?” Tanya Ibu Hera penasaran.


“Bu memangnya disini ada yang namanya suhu?” Tanya Ibu Wulan kepada Bu Rina.


Bu Rina menggeleng tidak tahu.”Tidak ada Bu saya yakin mungkin yang mereka maksud adalah orang luar, murid-murid disini gak ada yang nakal kok!” Ucap Bu Rina, sepertinya dia melupakan atau mungkin menyembunyikan fakta jika disekolah mereka adalah tempatnya anak-anak nakal seperti Nungky dan ketiga tempatnya.


“Baiklah Bu, tapi mulai hari ini saya akan mengirim anak saya ke Sekolah lain saya yang peraturannya ketat, biar mereka gak nakal lagi!” Ucap Ibu Hera.


“Saya juga Bu, saya akan mengirim anak saya ke luar negeri biar dia bisa fokus belajar!”  Ucap Ibu Wulan ikut bersuara.


“Siapa ya yang ngajarin mereka, perasaan kita cuman ngajarin mukul bukan jailin orang iyakan?” Ucap Rania sambil menoleh ke arah ketiga temannya.


Gisuwa mengangguk setuju, seingatnya dia juga tidak melakukan apa-apa.


“Ky bukan kamu yang ngajarin mereka kan?” Tanya Veyya Curiga.


Nungky tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia langsung kabur saat ketiga temannya itu mengetahui jika dialah pelaku yang membuat kedua gadis polos tadi menjadi nakal.


“Nungky!” Teriak Rania, Veyya dan Gisuwa bersamaan.