
Nungky baru saja turun dari kendaraan ayahnya yang dia tumpangi menuju sekolah, gadis itu berjalan dengan riang seolah tak pernah memiliki beban hidup apapun.
“Ran, Gisuwa hai teman-temanku!” Ucap Nungky menyapa kedua temannya yang tengah berjalan dikoridor sekolah sambil merangkul mereka.
“Berisik Ky pagi-pagi udah teriak kayak di hutan!” Ucap Rania kesal sambil menepis tangan Nungky dari pundaknya.
“Iya bener tuh gak tahu apa kita lagi pusing!” Keluh Gisuwa.
“Kamu aja kali Gis aku mah nggak!” Ucap Rania membuat Gisuwa memonyongkan bibirnya sebal.
“Pusing kenapa sih Gis kasih tau lah kali aja aku bisa bantu!” Ucap Nungky sambil cengengesan.
Gisuwa menatap Nungky sambil menghembuskan nafasnya kasar.”Hutangku belum kebayar Ky sama ibu kantin, mau bayarin gak?” Tanya Gisuwa dengam memasang wajah imutnya pada Nungky.
“Apa siapa aku dimana, kalian siapa?” Ucap Nungky penuh drama membuat Rania dan Gisuwa menjitak kepala Nungky pelan.
“Gak usah banyak drama Mumun aku juga tahu hutangmu sama Veyya masih banyak!” Ucap Rania kesal.
“Aku juga lihat-lihat kali Ky mana mungkin aku minta bayarin hutangku sama Ratunya ngutang!” Ucap Gisuwa membuat Nungky cengengesan.
“Aku kan sama Veyya udah dekat kita hutang segitu mah kecil lah” Ucap Nungky meremehkan.
Rania dan Gisuwa hanya mengangguk mengiyakan mereka tahu maksud perkataan Nungky adalah dia mau bayar atau nggak sama aja alias dia belum tentu bayar hutangnya yang menumpuk dengan waktu cepat, kadang Nungky membayar hutang untuk meminjam uang lagi kelakuannya sudah seperti lagu Rhoma Irama yang berjudul Mati Suri.
Tidak lama kemudian dari jarak jauh Awan datang dari arah berlawanan berjalan menuju Nungky, Rania dan Gisuwa, Awan terlihat asyik mengobrol dengan Dodit sehingga dia tidak memperhatikan kedepan.
Merasa ada kesempatan Nungky langsung mengeluarkan botol yang sudah dia persiapkan sebelum berangkat sekolah, botol itu adalah botol minyak goreng yang dia curi dari lemari sembako milik ibunya.
“Buat apa kamu bawa minyak ke sekolah Ky mau jadi kang gorengan?” Tanya Rania penasaran.
“Bukan Ran paling dia mau jadi tukang pijat dadakan disini!” Ucap Gisuwa menertawakan leluconnya sendiri yang tidak lucu dan garing.
“Berisik kalian ini tuh bukan botol sembarang botol, botol ini yang akan bikin bang Awan jadi jodohku!” Ucap Nungky sambil tersenyum penuh misteri.
Rania dan Gisuwa saling berpandangan tidak mengerti sambil menggaruk tengkuk mereka yang tidak gatal, mereka bingung apa maksud dari ucapan Nungky yang mengatakan jika dengan botol minyak bisa membuat Awan jadi jodohnya.
Apakah Nungky bisa membuat pintu hati Awan menjadi licin dengan minyak yang dia bawa, ataukah gadis itu akan menyirami badannya sendiri dan meminta Awan untuk menikah dengannya jika tidak gadis itu akan bunuh diri, mereka benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan Nungky.
“Maksudnya gimana sih Ky kamu gak bakal pura-pura bunuh diri kan?” Ucap Rania menyerukan pikirannya dan Gisuwa.
“Kalau mau bunuh diri jangan di sekolah juga kali Ky kalau Viral dan masuk berita gimana kan aku belum dandan coba!” Ucap Gisuwa protes pasalnya gadis itu belum dandan dengan cetar jika ada wartawan yang menanyainya tentang aksi bunuh diri Nungky.
Nungky menatap mereka sebal bagaimana teman-temannya itu bisa berpikiran baik padanya, padahal itu hanya rencana B kalau Nungky sudah kehabisan akal.
“Sudah kalian diam saja dan lihat bagaimana Nungky beraksi!” Ucap Nungky sambil tersenyum.
Dengan penuh pertimbangan dan pembagian Nungky mulai menuangkan minyak di atas lantai koridor dimana Awan akan melewatinya tidak banyak tapi cukup licin untuk dilewati, setelah selesai Nungky langsung memasukan botol tersebut kedalam tas miliknya, dia takut ibunya itu akan sadar jadi dia harus mengembalikan minyak tersebut ke tempat semula.
“Minggir kalian jangan dekat-dekat nanti bang Awan jatuhnya gak ke aku lagi!” Usir Nungky kepada Rania dan Gisuwa agar tidak berdiri di tengah.
Nungky mencium bau mulutnya sendiri dia tersenyum senang saat bau mulutnya sudah wangi permen bermerk *Cium*
“Ya Allah jadikanlah ciuman pertama bang Awan bersamaku!” Gumam Nungky pelan sambil terkikik geli membayangkan dia akan berciuman dengan Awan.
“Dasar si Nungky mau jebak sama nyium Awan aja ngehalalin segala cara!” Ucap Gisuwa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
“Sudah biarin aja tuh bocah mau ngapain, kita lihat rencana dia berhasil atau gagal” Ucap Rania pelan menunggu hasil dan rencana busuk Nungky.
Awan semakin mendekat berjalan ke arah mereka, Nungky merapihkan rambutnya yang sudah licin karena minyak dengan mudah, gadis itu tersenyum sambil merentangkan tangannya bersiap menerima serangan dari Awan.
“Minggir Ky ngalangin jalan aja gak lihat aku mau lewat!” Ucap Veyya kesal yang datang dari arah belakang sambil menyingkirkan Nungky hingga gadis itu terjatuh mengenai Rania dan Gisuwa, Veyya menatap temannya itu sambil tersenyum sinis kemudian dia mengalihkan pehatiannya ke depan.
Brakkk
Belum sempat menghindar dari Awan yang akan jatuh ke depan membuat Veyya harus ikut terjatuh bersama Awan yang menindihnya.
Cup
Tanpa sengaja karena dorongan saat jatuh terlau kuat Awan mencium pipi Veyya yang mulus membuat gadis itu melebarkan matanya terkejut, dia menatap Awan yang tak kalah terkejutnya seperti Veyya namun kemudian lelaki tampan itu malah tersenyum cengengesan membuat Veyya mendengus sebal.
“Minggir dasar Buaya Buntung nyari kesempatan dalam kesempitan!” Ucap Veyya kesal sambil menyingkirkam badan Awan di atas tubuhnya.
Veyya beranjak duduk sambil menatap Awan yang menatapnya sambil tersenyum malu dengan kesal, kemudin tanpa berkata apa-apa lagi Veyya beranjak bangun dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan semua orang, gadis itu terlihat marah sambil bersungut-sungut dia berjalan melewati kelasnya sendiri menuju parkiran, sepertinya Veyya akan absen hari itu.
Namun kemudian dia berubah haluan dan malah pergi menuju toilet dimana dia bisa menghapus bekas ciuman Awan dipipinya.
Sedangkan Nungky sang perencana sekaligus eksekutor rencana busuknya terlihat sangat syok, dengan mulut yang menganga serta mata melotot yang tidak berkedip sekalipun seperti melihat hantu di pagi hari, gadis itu seolah tak mempercayai apa yang dilihatnya barusan.
“Ky sadar Ky udah selesai acaranya ayo bangun!” Ucap Rania sambil melambaik-lambaikan di depan wajh Nungky.
“Ky ayo bangun bu Rina mau kesini Ky!” Ucap Gisuwa panik sambil memukul lengan Nungky agar gadis itu bangun saat melihat Bu Rina berjalan menuju arah mereka.
Namun Nungky tetap tidak bergeming meski Rania dan Gisuwa sudah menampar gadis itu secara bergantian bahkan mengedipkan matanya saja tidak, membuat Rania dan Gisuwa saling berpandangan dengan bingung, mereka tidak tahu harus berbuat apa sekarang apalagi Bu Rina sudah semakin dekat menuju mereka.
“Nungky kenapa?” tanya Awan sambil beranjak bangun.
Rania dan Gisuwa menggeleng sambil tersenyum kepada Awan secara bersamaan.”Gak kok Wan, Nungky emang suka gini kalau ditagih hutang!” Ucap Rania berbohong.
“Iya Wan tenang saja kita bisa atasin Nungky kok” Ucap Gisuwa sambil tersenyum.
“Gis ayo kita angkat sebelum ketahuan bu Rina!” Ajak Rania sambil memegang kedua tangan Nungky.
Gisuwa mengangguk setuju sambil memegang kedua kaki Nungky, akhirnya Rania dan Gisuwa menggotong Nungky berdua meninggalkan tempat tersebut dan membawanya ke dalam kelas mereka.
Rania dan Gisuwa langsung menurunkan Nungky di bangkunya dalam posisi duduk, mereka ikut duduk di bangku mereka masing-masing sambil mengelap keringat mereka yang bercucuran.
“Gila si Nungky kebanyakan makan sama dosa kali ya beratnya minta ampun!” Keluh Rania sambil mengipasi wajahnya dengan buku.
“Iya Ran ini nih contoh azab si wanita penimbun hutang masih hidup aja berat banget!” Ucap Gisuwa menyetujui ucapan Rania.
Awan yang melihat itu mengedikkan bahunya tidak perduli, baginya bukan hal aneh lagi jika Nungky berkelakuan yang mengejutkan seperti barusan.
“Ayo Dit kita pergi!” Ucap Awan sambil merangkul Dodit pergi.