Kepentok Cinta Nungky

Kepentok Cinta Nungky
OlahRaga



Pelajaran olahraga adalah pelajaran dimana kamu harus menggunakan otak serta otot secara bersamaan, para siswa-siswi tengah berkumpul di tengah lapangan sambil melakukan pemanasan yang dipimpin oleh guru olah raga mereka yaitu Pak Saepul yang biasa dipanggil Pak Pul.


Pak Pul adalah seorang guru lelaki berumur sekitar 40 tahun yang memiliki badan kurus kerempeng, dia sama sekali tidak terlihat menyeramkan apalagi tampan untuk ukuran seorang guru olah raga yang biasanya berbadan kekar dan berjenggot, tapi tidak dengan Pak Pul meski dia mempunya kumis tipis yang lebih mirip seperti ulat menempel dan suara yang cempreng membuat siapa saja akan gagal fokus dan tak akan menyangka jika dia adalah seorang guru olah raga.


Nungky, Rania, Veyya dan Gisuwa tengah melakukan peregangan otot bersama murid yang lain lengkap dengan pakaian olah raga mereka , dengan bermalas-malasan para murid melakukan pemanasan dengan asal-asalan seperti yang dilakukan Nungky gadis itu malah meninju Veyya ala atlet tinju membuat Veyya menatapnya dengan sebal.


“Heh kampret bisa diam gak, mau kubanting badanmu itu?” Bentak Veyya kesal.


Nungky hanya cengengesan mendengarnya kemudian dia beralih menatap Rania yang sedang menguap lebar karena mengantuk, gadis itu terkejut saat Nungky menendangnya membuatnya terjatuh menghantam rumput.


“Heh Jablay ngapain pakai nendang-nendang bosan hidup kamu?” Ucap Rania kesal sambil beranjak bangun dan menepis rumput yang menempel dipantatnya yang tepos.


“Ran ayo kita tanding Ran yang menang traktir cilok” Ajak Nungky sambil loncat-loncat menirukan gaya artis bela diri china terkenal yang sayangnya sudah meninggal.


Braakk


Dengan santai dan tanpa aba-aba Rania langsung menendang Nungky hingga gadis itu terpental menghantam Gisuwa yang sedang jongkok di bawah Veyya untuk menghindar dari panas matahari, alhasil keduanya langsung terkapar membuat Rania dan Veyya tersenyum puas sambil melakukan tos.


“Rasain kamu Ky, banyak tingkah sih” Ucap Veyya.


“Woy bangun Ky berat!” Teriak Gisuwa meronta karena tubuhnya tertindih oleh tubuh Nungky.


Mendengar itu Nungky langsung bangun sambil tersenyum, sedangkan Gisuwa gadis itu menghirup nafas banyak-banyak karena barusan saat Nungky menindihnya dia hampir kehabisan oksigen.


“Tega banget kalian nyiksa aku yang suci ini” Ucap Gisuwa penuh drama sambil beranjak bangun.


“Ayo anak-anak kalian berkumpul membentuk pasangan bersama teman-teman kalian, hari ini kita akan lari estafet untuk menguji kerja sama kalian sebagai tim”


Suara cempreng Pak Pul terdengar membuat semua murid berkumpul mencari pasangan mereka, Rania dan Gisuwa langsung berkumpul menjauh membentuk pasangan, mereka tidak mau menjadi pasangan Nungky si gadis pembawa berkah.


“Yah Veyy Ran udah sama Gisuwa berarti tinggal kita yang belum dapat pasangan, gak apa-apa Veyy aku sama kamu aja deh ikhlas aku mah” Ucap Nungky sambil tersenyum.


“Yang ada aku yang harus ikhlas Ky dapat pasangan kayak kamu, yakin deh hariku gak bakal beruntung kalau udah sama kamu Ky” Ucap Veyya sedih sedangkan Nungky hanya cengengesan mendengarnya.


“Pak Pul kurang kerjaan banget deh nyuruh lari pas lagi panas-panas gini gak tahu apa kita udah hampir mati kepanasan” Keluh Rania sambil mengipasi wajahnya yang berkeringat.


“Iya Tuh emang ya guru itu selalu benar, belum apa-apa aku udah mandi keringat” Ucap Veyya ikut mengeluh.


“Kayak aku dong guys meneduh terus jadi gak kepanasan” Ucap Gisuwa sambil jongkok di bawah teman sekelas mereka yang berbadan besar, namun saat gadis itu mundur dan tersandung dia langsung terjatuh menimpa Gisuwa dibawahnya.


Seketika Rania, Veyya dan Nungky membantu gadis berbadan besar tersebut untuk bangun, bukan apa-apa mereka hanya takut Gisuwa pingsan melihat teman mereka yang mulai terbatuk-batuk karena kehabisan nafas.


“Bandel sih kamu Gis jadi sial mulu kan” Omel Rania sambil membantu Gisuwa berdiri.


“Iya nih aku udah ketiban 2 kali coba, mudah-mudahan aku gak kena sial lagi” Ucap Gisuwa berharap kesialannya itu tidak terjadi lagi.


“Ya Allah panas bener deh jadi pengen minum yang segar-segar es jeruk kek” Gumam Nungky sambil menutupi matanya dari silau matahari yang terik.


“Betul banget tuh pasti mantap minum es kelapa siang-siang gini” Ucap Veyya sambil menelan ludahnya sendiri dia langsung ngiler membayangkan es kelapa tersebut.


Memang benar cuaca hari itu sangat terik membuat siapa saja enggan untuk berdiri lama-lama dibawah teriknya matahari yang menyengat kulit itu, apalagi bagi para gadis yang sedang dalam masa perawatan diri mereka pasti akan menghindari segala hal yang membuat kulit mereka gosong.


Tapi Pak Pul tidak mengerti akan itu semua yang dia mengerti hanyalah membuat para muridnya sehat dan kuat seperti dirinya, dia pun mulai memanggil para muridnya untuk lari estafet yang hanya berisi 2 orang di setiap timnya.


Para murid yang belum mendapat giliran menunggu sambil melihat aksi teman-teman mereka yang sedang berlari bersama rekan setim mereka, para murid itu berkumpul di pinggir lapangan sambil berteduh di bawah pohon yang rindang.


Akhirnya kini giliran Nungky, Rania, Vyya dan Gisuwa yang harus berlari bersama teman sekelas mereka yang lain, karena sekali bertanding Pak Pul membagi mereka dengan 5 kelompok.


“Gis aku yang lari ke finish ya kamu harus lari yang kenceng terus kasih tongkatnya ke aku” Ucap Rania memberi instruksi kepada Gisuwa teman setimnya.


Gisuwa mengangguk mengerti.”Siap Ran pokoknya kamu tenang saja kita pasti menang” Ucapnya dengan yakin.


“Ky aku mah gak apa-apa kalah juga tapi aku mohon sama kamu Ky jangan bikin ulah hari ini aja” Pinta Veyya dengan muka memelas kepada Nungky.


“Ah suka gitu kamu Veyy kapan coba aku bikin ulah, ya sudah serahkan saja semuanya ke aku Veyy” Ucap Nungky sambil tersenyum, gadis itu selain punya tingkat kepedean tingkat tinggi, dia juga tidak tahu diri dengan kelakuannya yang suka membawa berkah kepada yang lain.


Mereka pun mulai mengambil posisinya masing-masing, Rania, Veyya dan ketiga temannya yang lain berdiri di tengah-tengah lintasan menunggu teman setim mereka.


“Si Nungky kemana coba tuh anak kok gak keliatan apa dia ngopi dulu?” Gumam Veyya saat melihat Gisuwa dan yang lain mulai terlihat dan berlari ke arah mereka.


Sedangkan Nungky gadis itu sedang berdiri di depan anjing besar milik kepala sekolah yang diikat di tiang di pinggir lapangan, gadis itu tengah asyik mempermainkan anjing tersebut dengan tongkat pendek yang dibawanya.


“Sini Jing kalau berani gigit tongkatnya” Ucap Nungky sambil terkikik geli saat  anjing tersebut berusaha menggigit tongkat yang dipegang Nungky, namun sayang karena lehernya yang diikat membuat anjing itu menggeram sambil menatap Nungky yang terlihat senang mempermainkannya.


Kemudian di koridor terlihat Awan sedang berjalan menuju ke ruang guru sambil menenteng setumpuk kertas, Nungky menatap pujaannya itu dengan mata berbinar senang.


“Guk-guk”


Nungky berdecak sebal saat anjing tersebut menggonggong membuyarkan konsentrasinya.”Dasar anjing bandel badan aja gede tapi cemen huh” Ucap Nungky sambil berdiri dan mulai berlari menyusul yang lain.


Namun kemudian dia berbalik kembali menemui anjing tersebut sambil cengengesan dan dengan santainya dia memukul anjing yang sudah menggeram karena melihatnya itu dengan pelan.


Dengan gaya tengilnya Nungky menjulurkan lidahnya meledek anjing tersebut, tapi kemudian Nungky langsung terkejut saat melihat tali yang mengikat anjing besar itu terlepas karena dorongan kuat anjing tersebut.


Dengan panik Nungky langsung berlari sekuat tenaga mempertaruhkan raga dan jiwanya dari kejaran anjing besar yang dendam padanya itu, saking cepatnya dia berlari Nungky sampai menyusul Gisuwa Dan yang lainnya.


“Wah hebat si Nungky jago juga larinya” Gumam Gisuwa saat melihat Nungky berlari melewatinya.


“Guk-guk”


Mendengar itu Gisuwa dan ketiga gadis yang berlari bersamanya langsung menoleh ke belakang, di mana si anjing tengah berlari ke arah mereka.


“Lari!” Teriak mereka bersamaan sambil lari kocar-kacir menyelamatkan diri.


Keadaan pun menjadi kacau saat anjing tersebut mengejar Rania, Veyya dan Gisuwa yang kebetulan mengikuti arah lari Nungky, mereka tidak memperdulikan suara peluit dan teriakan Pak Pul yang menyuruh mereka berhenti.


Yang ada di pikiran mereka saat ini adalah menyelamatkan diri dari amukan anjing besar tersebut, mereka bertiga menyusul Nungky yang sedang menaiki pohon di depan mereka dengan gesit.


“Arrghhhhh”


Rania, Veyya dan Gisuwa berteriak panik saat anjing tersebut menggigit sepatu mereka yang menjumbai kebawah ketika mereka sedang berusaha menaiki pohon tersebut,  sedangkan Nungky si biang kerok sudah duduk manis di atas pohon dengan tenang.


Berbagai sumpah serapah terbersit di benak Rania, Veyya dan Gisuwa  yang ditujukan untuk Nungky, mereka bertekad setelah ini mereka akan membakar Nungky hidup-hidup karena sudah membuat mereka sial ditambah sepatu mereka yang tercabik-cabik dengan mengenaskan.