Kepentok Cinta Nungky

Kepentok Cinta Nungky
Kesedihan dan Senyuman



Di malam hari yang indah dua orang gadis cantik dan imut tengah berlomba-lomba untuk menghabiskan makanan yang tersaji di atas meja, Nungky dan Chika saling lirik satu sama lain dengan tangan dan mulut yang tak berhenti mengunyah makanan, Regi yang melihat kelakuan mereka berdua hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti sambil menghembuskan napasnya kasar.


"Sudah kalian tidak perlu rebutan gitu makannya, kalau kurang tinggal minta lagi!" Ucap Regi mencoba melerai kedua gadis berbeda usia yang sedang berebut tahu itu.


Nungky langsung melahap tahu yang tinggal setengah itu dengan sekali telan, sedangkan Chika membuang sisa tahu yang dia rebut sambil bergidik sendiri membuat Nungky melotot padanya."Heh Kampret kalau gak dimakan ngapain rebutan sama aku barusan kan sayang tuh si Tahu dibuang-buang" Ucapnya menatap Chika kesal.


"Apaan sih Kak Ky, kata Mama jangan suka makan yang kotor-kotor, itu tahu kan udah jatuh ke lantai masa aku harus makan sih" Ucap Chika menatap Nungky bingung."Maaf Kak Ky, aku bukan kak Ky yang pemakan segalanya!" Ucapnya lagi membuat Nungky menjitaknya dengan tangan yang kotor bekas makanan.


"Ish jahat banget sih masa aku disiksa mulu coba, mana bau terasi lagi" Ucap Chika setelah dia mencium bau rambutnya itu, sedangkan Nungky sang pelaku kejahatan hanya tertawa senang melihatnya."Abang Ganteng aku bau ya, maaf ya ini semua gara-gara kak Ky" Ucapnya lagi sambil menoleh menatap Regi  yang duduk disampingnya.


Regi tersenyum sambil mengelus kepala Chika."Kamu wangi kok tenang aja" Ucapnya dengan meyakinkan membuat Chika tersenyum senang mendengarnya.


Setelah acara makan malam yang hanya dihadiri oleh mereka bertiga, ketiga orang berbeda usia itu duduk di taman sambil menatap langit malam yang berbintang, Chika bersandar di bahu Regi yang membuat pria muda jadi salah tingkah di buatnya, sedangkan Nungky menatap langit malam itu sambil berdecak kagum.


"Indah banget ya malam ini banyak bintangnya ada bulannya juga, !" Ucap Gadis yang merasa dirinya putri Cantik Paripurna itu dengan pandangan fokus menatap langit malam, dengan perlahan Nungky beranjak berdiri sambil tetap menikmati pemandangan indah itu dengan senyuman yang terbit di bibirnya.


Regi mengangguk mengiyakan."iya indah banget, tapi aku lebih suka ngeliatin kamu dari pada bintang-bintang itu Ky" Ucapnya pelan.


"Abang ngomong apa barusan?" Tanya Chika mendongak menatap Regi dengan pandangan polosnya.


"Hah apa?, ah tidak kok Chik Abang gak ngomong apa-apa barusan!" Ucap Regi yang terlihat salah tingkah dengan pertanyaan Chika barusan.


Chika menatap Regi penuh selidik seolah tidak mempercayai kata-kata dari pria disampingnya itu, namun gadis mengangkat bahunya acuh dan memilih kembali bersandar di bahu Regi."Abang kalau mau jujur gak apa-apa jujur saja sama aku, kadang sesuatu yang dipendam itu hanya akan menyakiti diri sendiri Bang" Ucapnya membuat Regi langsung menatapnya dengan kening berkerut sekaligus terkejut dengan kata-kata yang dilontarkan Chika padanya, dia tidak menyangka jika gadis seusia Chika bisa mengatakan sesuatu yang dalam dan menohok untuknya.


"Dingin ya masuk yuk!" Ucap Nungku memeluk dirinya sendiri sambil berjalan meninggalkan Chika dan Regi.


"Tuh lihat Bang Gi, dia ngajak kita masuk tapi ninggalin, Kak Ky emang suka gitu dibikin suka dulu disakiti kemudian" Ucap Chika pelan yang membuat Regi menoleh kembali padanya."Tenang Abang Gi, Chika itu setia kok, jadi tungguin aku dewasa aja ya Bang, habis itu baru kitah nikah, ayo Bang masuk disini dingin" Ucapnya lagi sambil menarik tangan Regi.


"Heh Bocah licik ngapain sih kamu ngikut mulu pulang sama udah malam juga, heran deh anak kecil kerjaannya kelayaban gak jelas" Ucap Nungky kesal melirik Chika yang duduk di antara dirinya dan Regi, saat ini mereka sedang duduk di ruang tengah sambil menonton tv, ada juga beberapa pengawal dan pelayan yang tidak jauh berada di dekat mereka bertiga.


"Aku kan mau nginap disini Kak Ky kalau pulang takut kesasar aku terus diculik kan serem" Ucap Chika dengan polosnya menjawab."Abang Ganteng Chika bolehkan nginep disini?" Ucapnya lagi menoleh menatap Regi dengan pandangan penuh harap.


"Iya boleh kok Chik, biar rumah ini rame kalau ada kamu" Ucap Regi sambil tersenyum."Tapi kamu udah bilang sama orang rumah kan kalau kamu mau nginap disini?" Ucapnya lagi bertanya pada Chika.


Chika mengangguk dengan semangat."Sudah Bang Gi, Kata Mama nginep aja gak apa-apa, pulangnya bulan depan juga boleh" Ucapnya menyampaikan pesan dari ibunya membuat Regi tersenyum geli mendengarnya.


Mendengar itu Nungky tersenyum kecut.


"Ngomong aja kamu emang udah niat buat nginep disini Jan Chik, buktinya kamu udah bawa baju tidur segala" Ucapnya sambil menunjuk baju tidur berwarna merah muda yang dikenakan Chika."Dasar licik aku udah tahu akal bulusmu!" Ucapnya lagi membuat Chika nyengir ditempatnya.


Karena merasa bosan Chika berkeliling rumah tersebut sedangkan Regi dan Nungky memilih bermain PS yang tentu saja dengan taruhan yang seratus ribu, bagi Nungky semua tempat bisa jadi ladang uang asal tahu jalan pintasnya, setelah lelah berkeliling rumah Chika duduk di samping Regi yang terlihat sedang kacau, bagaimana tidak ini sudah ketiga kalinya dia kalah bermain melawan Nungky, dengan sedih Regi memberikan uang seratus ribu yang dipegangnya kepada Nungky yang langsung diterima dengan gadis licik itu dengan senang.


"Alhamdulillah rezeki anak Sholeh" Ucap Nungky senang sambil mencium uang yang didapatnya, kemudian dia melirik Chika yang menatap uangnya dengan pandangan berbinar senang."Cari sendiri jangan minta!" Ucapnya lagi seolah mengerti arti tatapan Chika yang menyebalkan.


Chika mengerucutkan bibirnya sebal menatap Nungky yang terlihat senang sambil mengipasi-ngipasi wajahnya dengan uang."Aku harus banyak jualan kayaknya biar cepat kaya juga" Ucapnya dalam hati, kemudian dia menoleh menatap Regi yang terlihat sedang mengacak rambutnya frustasi karena kalah taruhan melawan seorang gadis."Bang Gi aku udah keliling-keliling tapi kok gak liat foto Mamanya Bang Gi ya?" Ucapnya membuat Regi langsung menoleh padanya dengan pandangan wajah terkejut.


"Iya benar juga ya kamu Chik, aku juga selama disini gak pernah Nemu foto Mamanya Bang Gi sama Abang Kerokan, memangnya dia kemana di luar negeri ya?" Ucap Nungky ikut bertanya, dia juga sudah penasaran sedari dulu namun baru sekarang dia ingat untuk bertanya itu-pun karena Chika yang mengingatkannya.


Regi menggelar sambil tersenyum samar menatap keduanya."Bukan Mama ada disini kok dia gak kemana-mana" Ucapnya membuat Nungky dan Chika saling berpandangan sambil melihat sekelilingnya seolah mencari sosok yang tidak ada itu dan kembali menatap Regi dengan kening berkerut bingung.


"Mama sudah meninggal" Ucap Regi pelan menjawab kebingungan Chika dan Nungky.


"Huaaaa!" Chika langsung duduk dipangkuan Nungky sambil memeluk gadis itu dengan erat, matanya melihat sekeliling ruangan seolah takut akan sosok yang bisa saja muncul dengan tiba-tiba membuatnya ketakutan sendiri.


"Heh Bocah lepas engap nih!" Ucap Nungky berusaha melepaskan pelukan Chika darinya, namun Chika menggeleng sambil tetap memeluknya dengan erat membuat Nungky menghembuskan napasnya kasar dan memilih membiarkan Chika memeluknya.


Kemudian Nungky menatap Regi yang terlihat sedih."Maaf Bang Gi aku sama Chika gak maksud buat bikin kamu sedih" Ucapnya meminta maaf.


Ucap Regi menjawab rasa penasaran Nungky dan Chika.


Nungky mengangguk mengerti."Tapi Bang Gi menurutku kalau kalian terus menghindari kenyataan, bukankah itu hanya akan membuat kalian jalan ditempat tanpa bisa melangkah ke depan?" Ucap Nungky membuat Regi menatapnya dengan pandangan bertanya."Maksudku kalau kalian terus terpuruk dan bersedih atas kematian ibu kalian,bukankah lebih baik kalian mengikhlaskannya dan mencoba menerima semua itu, dengan itu kalian semua bisa hidup dengan nyaman, dan juga aku yakin Mamanya Bang Gi pasti akan lebih senang dengan itu, ingat mengikhlaskan bukan berarti melupakan" Ucapnya lagi sambil tersenyum yang langsung menohok Regi tanpa mampu membalas ucapan Nungky.


Tidak lama kemudian Ricko dan Mario datang, keduanya berjalan beringin dengan aura dingin yang dipancarkan oleh tatapan mata mereka, Ricko dan Mario menatap Chika dengan kening berkerut bingung seolah terusik dengan kehadiran makhluk kecil itu.


"Hay Om, Hai Abang Kerokan, aku mau nginap ya semalam saja boleh ya" Ucap Chika merayu keduanya.


"Terserah" Ucap keduanya serempak.


"Gitu banget jawabnya ketus sama nyakitin" Ucap Chika pelan sambil mengerucutkan bibirnya sebal.


"Tolong siapkan makan malam untukku dan Papa" Perintah Ricko pada salah satu pelayan yang langsung mengangguk dan berlalu pergi.


"Ah Ko kamu makan sendiri saja ya Papa sudah makan tadi, sekarang Papa ngantuk mau tidur" Ucap Mario yang langsung berlalu pergi sambil merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal-pegal.


"Abang Kerokan ayo makan sama aku aja biar aku temenin!" Ucap Nungky sambil menggandeng tangan Ricko.


"Memangnya kamu belum makan?" Tanya Ricko bingung dia melirik jam ditangannya yang menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, rasanya tidak mungkin seorang gadis rakus seperti Nungky belum makan jam segini.


"Udah sih Bang tapi demi Abang aku rela makan malam dua kali, ayo Abang Sayang kita makan!" Ucap Nungky sambil cengengesan menarik Ricko pergi bersamanya.


Tok


Tok


Tok


"Siapa?" Ucap Ricko sambil membuka pintu kamarnya yang diketuk, dia menunduk menatap Chika yang berdiri di depannya sambil tersenyum dengan tangan memegang Tasnya."Ada apa?" Tanyanya menatap Chika dengan alis yang terangkat sebelah.


"Ada barang bagus Abang Kerokan, ayo masuk kita bisnisnya di dalam!" Ucap Chika yang dengan santainya langsung nyelonong masuk diikuti Ricko setelah menutup pintu kamarnya.


Nungky yang baru saja keluar mengambil minum di dapur berjalan menuju kamarnya sambil menguap dengan lebar merasakan kantuk yang menderanya, kemudian gadis itu menatap Chika yang juga sedang berjalan menuju kamar mereka sambil menghitung uang seratus ribuan yang jumlahnya cukup banyak dengan senyuman lebar di bibirnya.


"Heh Chik abis dari mana kamu, ngerampok siapa kamu dapat duit banyak banget?" Tanya Nungky beruntun sambil menatap uang yang dipegang Chika dengan tatapan mata lapar.


"Bisnis kak, Alhamdulillah ya usaha tidak pernah mengkhianati hasil" Ucap Chika senang sambil berlalu pergi meninggalkan Nungky.


Nungky menatap Chika sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Tuh Bocah bisnis apaan sih duitnya banyak banget, aku juga mau buka  bisnis Kayak tuh bocah, Chik tunggu kita bisnis bareng!" Teriak Nungky menyusul Chika ke kamar mereka, gadis itu tidak tahu saja jika bisnis yang dijalankan Chika itu memanfaatkan dirinya.


Di dalam kamar Ricko tersenyum sambil menatap potret wajah Nungky yang sedang tertidur, nyolong buah, ada juga saat gadis itu tengah berlari saat dikejar banci ngamuk, dia mengambil foto Nungky yang sedang tersenyum dengan manisnya, foto-foto tersebut dia dapatkan dari Chika yang menjualnya seharga dua juta rupiah, Ricko mengusap foto Nungky dengan lembut seolah dia menyentuh wujud asli Nungky."Kamu Manis" Ucapnya pelan.


_____


Muehehe buat Naru sama Hany yang minta Up di GC aku up nih🤭🤭🤭😘😘😘.


Aku mau ganti semua visual deh jadi bantu kasih saran beserta pro yang menurut kalian cocok jadi Visual pemeran di novel ini muehehe.


Mau Aku Up lagi kah atau udah berhenti aja?


Salam Gesrek


Othor cantik Paripurna 😘😘