Harem: The Vampires World

Harem: The Vampires World
Want to go



"kenapa kau berpikir jika aku tidak akan pergi bersama mu?, apa aku Setega itu memisahkan ayah dan anak yang saling menyayangi" sungguh Celine tidak mengerti dengan pemikiran Jeffry, bukan hanya sekedar perkataan, tapi Jeffry seolah-olah berfikir jika Celine tidak peduli pada nya.


"bukan begitu, kau terlihat ragu tadi, jadi aku berfikir jika mungkin kau tidak ingin pergi dari sini" ucapnya penuh sesal, tidak menyangka jika perkataan nya cukup membuat Celine sakit hati.


"aku dan Lily akan ikut bersama dengan mu, hanya saja kami perlu waktu"


banyak hal yang membuat Celine tidak sanggup untuk meninggalkan dunia nya.


salah satu nya adalah keluarga Lila.


Jeffry tersenyum paham


"hanya menunggu kan?"tanyanya meyakinkan diri bahwa Celine akan ikut bersama nya.


Celine mengangguk


"kalau begitu aku akan menunggu sampai kau siap pergi bersama ku"


...----------------...


Sedangkan di Dunia yang berbeda, seorang pria tengah sibuk mengurus berbagai macam berkas yang hampir tidak pernah selesai.


duduk di kursi yang seharusnya bukan miliknya, tapi terpaksa harus dia duduki karena permintaan adik bungsu tersayang.


setiap harinya dia hanya akan mengurusi berkas-berkas yang selalu datang tanpa berhenti. baru saja dia merasa senang karena besok adiknya akan kembali dan menggantikan posisi nya saat ini, tapi ternyata semua itu basi karena adik kecil nya mengundurkan jadwal kepulangan nya.


"kau terlihat bertambah Tua, setiap harinya" Reynold berdiri di dekat pintu sambil melihat kesuraman yang di keluarkan oleh William.


tidak terpancing dengan perkataan Rey, William mengabaikan adik keduanya itu dengan sibuk mengurusi berkas-berkas nya.


"Jeffry tidak jadi kembali?" tanyanya berjalan mendekati kakak nya.


"jika dia kembali aku tidak perlu ada di sini" sarkas nya


Rey mendengus


"aku tidak sabar bertemu dengan keponakan ku" hanya melihat dari telegram yang Jeffry kirim tidak membuat Rey puas, dia akan membuat keponakan nya tumbuh dengan memegang pedang.


William berhenti dari pekerjaannya


"kau benar, aku melakukan semua ini untuk keponakan tersayang kita, saat mereka tiba nanti aku hanya akan menghabiskan waktu ku bersama nya" William membayangkan permainan apa yang akan mereka mainkan nanti.


Rey tidak yakin, selama Jeffry berada di sini, sudah bisa di pastikan jika adik bungsu nya itu tidak akan membiarkan William duduk dengan tenang.


"kita lihat saja nanti" gumamnya


.


.


"kau sudah siap?"


Celine mencengkeram erat lengan Jeffry


kemudian mengangguk.


bibir Jeffry mulai mengucapkan mantera turun-temurun dari keluarga nya.


hanya dengan beberapa mantera, dalam sekejap semua orang yang berhubungan dengan nya di dunia ini akan melupakan dirinya, Celine tidak menyesali keputusan nya, tapi semua ini berat untuk nya apalagi harus melupakan orang-orang yang telah tulus membantu nya.


"selesai, mereka semua tidak akan mengingat kita lagi" ucap Jeffry, menggenggam erat telapak tangan Celine.


"bolehkah aku menemui mereka untuk yang terakhir kalinya?"


Jeffry tau semua ini sangat berat untuk Celine. "tentu saja"


pertama-tama Celine akan pergi menemui orang tua Lila, jika di jam seperti ini biasanya mereka sedang berada di rumah untuk beristirahat.


"bibi?" panggil nya, padahal dia tau jika wanita di hadapannya ini tidak akan mengingat nya.


"ya?, ada perlu apa Nona?"tanyanya formal.


Celine menggigit bibirnya menahan air matanya yang akan mengalir keluar.


"Nona!" panggil ibu Lila saat Celine berlari menjauh dari sana.


"gadis aneh"


.


Celine mengatur nafasnya yang memburu, kaki nya membawa dia menuju toko tempat ia mencari nafkah.


kling!


bunyi lonceng saat seseorang memasuki toko berbunyi.


"selamat datang"


Celine tidak bisa menahan tangisnya lagi, dihadapan nya saat ini Lila menyambut nya seperti orang asing, sahabat nya yang menjadi keluarga satu-satunya itu tidak mengingat nya lagi sekarang.


"eh? n-nona? Anda menangis?"bagaimana tidak panik, jika tiba-tiba seorang gadis menangis di hadapannya.


Celine menggeleng cepat, menghapus air matanya dengan punggung tangannya.


Lila kemudian membawa gadis yang pertama kali dia temui ini untuk duduk.


"silahkan"


Celine sesegukan, menatap gelas berisikan susu hangat di hadapannya.


"Anda pertama kali datang kemari?" tanyanya pada Celine


ingin sekali Celine mengatakan bahwa mereka sudah bersahabat sejak kecil, tapi apa yang bisa dia lakukan? Lila tidak akan mengingat nya.


tidak ingin membuat Lila kebingungan Celine hanya menggeleng.


Lila mengangguk kecil


"tapi kenapa terasa tidak asing ya?" gumam nya tersenyum geli.


"Lila!"


Lila dan Celine menoleh ke sumber suara ternyata Lim memanggil adiknya untuk membantu.


"maaf aku tidak bisa berlama-lama, toko cukup ramai Sekarang, sekali lagi maaf harus meninggalkan mu"baru saja Lila akan pergi, Celine menahan lengannya.


Lila bertanya pada Celine


"bolehkah aku memelukmu?"-untuk terakhir kalinya.


Lila tertawa


"tentu saja"


greep


Celine memeluk Lila dengan erat, sekarang dia merasa sedikit lega karena bisa memeluk sahabatnya, walaupun mereka tidak akan pernah bertemu lagi, tapi dia tidak akan pernah melupakan pelukan ini.


"hiks"


Lila tidak mengerti kenapa gadis di hadapannya ini menangis di pelukannya, tapi dia berdoa semoga saja tangisan gadis di hadapannya ini menjadi yang terakhir.


"setelah ini kau harus tersenyum dengan lebar" ucap Lila