Harem: The Vampires World

Harem: The Vampires World
War IV



Suasana ruangan UGD terasa menegangkan, terlebih lagi bagi Celine yang harus berjuang keras untuk melahirkan bayinya, dia masih belum siap melalui itu semua, tapi Tuhan berkehendak lain dengan membuat bayinya lahir lebih cepat.


"Tarik nafas panjang, dan buang" dokter yang membantu persalinan Celine, memberikan aba-aba.


"haaaah....fyuhhh....haaaah..... fyuhhh" begitu terus berulang-ulang.


"sedikit lagi" ucap dokter, saat kepala bayi Celine mulai terlihat.


"aaaagh!"


Rasanya sangat menyakitkan, keringat bercucuran dari tubuhnya, bahkan hanya dengan mengandalkan pegangan yang kuat saja, itu tidak cukup.


"Nona kau bisa"


"haaah...aaagh!"


suara tangisan bayi terdengar nyaring bersamaan dengan kesadaran Celine perlahan menghilang.


"j-jeff...." gumam nya sebelum kegelapan mengambil kesadaran Celine.


.


.


.


.


.


"haaah!" semua tabib dan penyihir yang sedang melakukan pengobatan terkejut saat Jeffry membuka lebar kedua matanya, mereka heran tubuh mereka terasa seperti tersedot, saat mengobati Jeffry.


"Tuan! Tuan muda Jeffry sudah sadar"


salah seorang tabib mendatangi William dan Rey, ketika mereka berdua sedang mengadakan rapat.


kedua kakak-beradik itupun lekas pergi meninggalkan rapat dan menyuruh Nic untuk memimpin rapat tersebut.


brak!


"Jeff!" bahkan tanpa permisi William mendobrak pintu begitu saja, Rey yang berada di belakang William hanya memutar bola matanya malas, sudah biasa.....


Jeffry tersenyum tipis


bruk!


"astaga aku kira kau tidak akan bangun kembali!" William memeluk Jeffry haru, ayolah bagaimana nasib mereka semua jika Jeffry tidak bangun, saat perang di mulai kembali.


"sekarang semua akan baik-baik saja"Jeffry membalas pelukan William tidak kalah erat.


"ngomong-ngomong, bagaimana dengan lukanya?" melepaskan pelukannya, tatapan mata William jatuh pada bekas luka yang mengering di tubuh Jeffry.


"bagaimana bisa?" ucapnya heran


"bertanya nya nanti saja"


sreet


Rey melempar sebuah kantung darah untuk Jeffry.


"terimakasih"


ucap Jeffry


"hm.."


William menghela nafas, kemudian berbalik menatap para tabib yang terlihat pucat dan lelah.


"terimakasih banyak, kami akan memberikan kompensasi, untuk bantuan kalian semua" kakak tertua Jeffry dan Rey itu menunduk hormat.


"a-ah, ini adalah kewajiban kami semua, anda tidak perlu berterimakasih" tabib berucap tidak enak, dan di setujui oleh yang lainnya.


"kalau begitu kami pamit, sepertinya banyak orang yang memerlukan kami di luar sana"


"baiklah"


.


.


semua orang telah pergi dari tenda nya


sekarang hanya ada Jeffry dengan kesendirian nya.


Jeffry menyentuh dadanya yang berdetak begitu cepat, entah mengapa hatinya tiba-tiba saja terasa hangat, bahkan dia bisa merasakan air matanya menetes begitu saja.


"apa yang terjadi?, di sini terasa hangat" ucapnya memegangi dadanya.


...≈≈≈≈≈≈≈≈...


kali ini Jeffry tidak akan ikut bertarung bersama yang lainnya, dia akan langsung berhadapan dengan ayah dan para saudara nya saja .


"pergilah"


Jeffry mengubah wujudnya, sayap lebar nya terbuka dengan lebar, kemudian membawanya ke atas langit terbang melewati orang-orang di bawah sana.


pandangan nya terkunci di satu titik, di sana Joan dan Raja Carsis sedang menikmati waktu nya di atas kereta kuda.


wushh.....


Brak!


Jeffry mendarat tepat di depan kereta kuda yang di tumpangi Joan dan Carsis.


tap...


tap...


Jeffry mengeluarkan pedangnya, mengambil ancang-ancang untuk menyerang, pedang Mana itu mengeluarkan sihir nya kemudian membelah kereta kuda, beserta kuda yang tidak bersalah itu.


"brengsek!, sialan kau Jeffry!" Raja Carsis terlihat emosi, jika saja dia dan Joan tidak segera menyingkir mungkin saja mereka aka terkena tebasan pedang milik Jeffry.


"di saat yang lain mati-matian berperang, kalian malah hanya menonton saja" ucap Jeffry santai.


"sial"


sring!


raja Carsis mengeluarkan pedangnya, diikuti Joan yang juga ikut mengeluarkan pedang.


tring!


tak!


Jeffry melawan dua orang sekaligus, perbedaan kekuatan yang sangat tidak berbeda jauh, walaupun hanya sendiri Jeffry mampu menangkis segala serangan kedua lawannya.


"mati kau!"


tring


sreet


crash!


"argh!"


"Joan!"


pedang Jeffry mengenai tubuh Joan, Carsis emosi secara cepat, dia menyerang Jeffry.


"kau tidak akan bisa mengalahkan ku, jika bertarung dengan emosi mu!"


tring!


"bagaimana bisa seorang raja yang kejam seperti mu, mengkhawatirkan kondisi seseorang"


Trang!


"akh!"


"ayah!"


wushh


sreet...


sayap milik Jeffry mengeluarkan duri beracun.


melindungi tubuh mereka dari serangan Jeffry, dengan tangan mereka, goresan tercipta di tubuh mereka karena serangan Jeffry.


"rasakan"


wush


sreet...


crash!


krek


panah melesat cepat kearah Joan, tubuh Joan menancap di pohon besar karena tembakan panah dari seseorang.


"ukh!"


Jeffry melirik ke belakang melihat pelaku yang menembakkan panah pada Joan.


"Reynold..."