
"uhuk!"
Joan memegangi dadanya yang terasa seperti terbakar, setelah penyerangan tidak terduga dari saudara kembarnya sendiri, ayahnya memanggil penyihir agung untuk menyembuhkan luka nya saat ini, walaupun sudah tidak mengeluarkan darah tapi tetap saja rasanya menyakitkan.
"berani sekali dia menyerang putra
ku!, Hanes!.... bawa pria penghianat itu ke hadapan ku sekarang!" titah sang raja pada panglima yang memang berada di sana.
Hanes membungkukkan tubuhnya
"baik-
"t-tunggu!" suara tersendat milik Joan, membuat panglima itu menatap nya bingung.
Raja Carsis menatap Putra nya
"apa lagi yang kau tunggu?!, anak kurang ajar itu telah melukaimu!, kita akan menghancurkan nya beserta para pecundang lainnya" si raja vampir berucap dengan kedua tangan berada di Antara pinggang nya, angkuh.
"tidak perlu ayah, semua ini setimpal dengan apa yang aku lakukan pada istrinya" rasa sakit di dadanya membuat ia harus berbicara sambil memegangi dadanya.
"apa yang terjadi?"
"Celine hamil, dan aku membunuh anak dalam kandungan nya" ucapnya enteng, yah mau bagaimana lagi memang itu adalah kenyataan nya.
"hanya dengan itu, tidak akan membuat Jeffry merasa putus asa" mengingat kembali kelakuan Jeffry yang selalu datang dan pergi seenaknya saja, kedalam istana, pria itu datang dengan niat bertarung tapi berakhir menjadi pengecut yang melarikan diri.
"ayah"
melirik sedikit kearah Joan
"aku memiliki kartu AS di Mansion mereka" senyuman licik terpampang di bibir tampan nya.
.
.
.
.
keadaan Mansion sedang gempar sekarang, kedatangan Jeffry dengan tubuh Celine yang penuh dengan darah di dalam gendongan nya, membuat semua orang panik.
William bergerak cepat memeriksa kondisi Celine yang tengah kritis saat ini.
"tunggu di sini"
William menahan Jeffry agar tidak memasuki kamar.
"tapi, Celine.....
"dia akan baik-baik saja, berdoalah untuk nya"
blam!
tubuh Jeffry merosot ke lantai, saat pintu itu tertutup bersamaan dengan hilangnya William.
tap...tap
"kak... Celine"
bukan pertama kali Reynold melihat sosok lemah Jeffry, semua yang berkaitan dengan Celine selalu membuat pria arogan seperti Jeffry terlihat lemah.
"jangan seperti ini!, kau pria kuat!, Celine tidak akan senang melihat mu seperti ini!" cengkraman kuat di berikan Rey pada pundak Jeffry.
Jeffry menatap Rey dengan pandangan kosong
"bagaimana bisa di melihat ku seperti ini?, bahkan aku tidak tau dia bangun atau tidak"
bugh!
tubuh ringkih Jeffry terjerembab dengan keras, saat kepalan tangan milik Rey menghantam pipinya.
menggeram rendah sambil memegangi pipinya yang terasa nyeri, Jeffry menatap nyalang Rey.
sret
bugh!
tak kalah kuat Jeffry memukul Rey balik
"apa-apaan kau?!, kenapa tiba-tiba-
"ini lah Jeffry yang sesungguhnya"
Rey tersenyum senang, berjalan mendekati Jeff yang terlihat bingung.
grep..
"kau harus kuat, jangan biarkan kesedihan mempengaruhi mu"
Jeffry mengerat kan pelukan nya, dia tau betul Rey adalah orang pertama yang selalu menguatkan dirinya.
Rey bisa merasakan bahunya basah, padahal baju yang dia kenakan saat ini cukup tebal, semua itu membuktikan betapa Jeffry menahan tangisannya srlama ini.
puk..puk..
"semua akan baik-baik saja"
klek...
Jeffry dan Rey sama-sama menoleh kearah pintu yang terbuka.
William keluar dari sana dengan wajah yang lelah.
"b-bagaimana?"
"Celine membutuhkan waktu untuk sadar" keluhnya, "racun yang berada di tubuhnya masih bereaksi, di tambah lagi kondisi tubuhnya yang penuh dengan lebam"lanjutnya, bahkan dia merasa ngeri dengan kondisi Celine.
"dan bayinya....
"aku tau...aku- tidak perduli dengan itu,....yang kuinginkan adalah Celine"