
Celine masih merasa tidak percaya pada apa yang terjadi dengan putri kecilnya, bayangkan saja bagaimana dia bisa menyembunyikan kebenaran Lily dari semua orang?.
dunia ini bukan tempat yang bagus untuk putri kecilnya, jika seseorang melihat bayinya tengah meminum darah dia sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.
Celine memperhatikan gerak-gerik putri kecilnya di dalam keranjang bayi.
mungkin akan mudah merahasiakan tentang Lily ketika dia masih bayi, tapi bagaimana mungkin?, putri nya akan tumbuh dewasa setiap harinya, akan Sulit mengawasi nya.
Celine sedikit bersyukur hanya dengan setetes darah putri nya bisa merasa tenang, bahkan dia kembali meminum susu di dalam botolnya.
"ibu akan menjagamu, sayang" seolah mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Celine, Lily tersenyum dengan manis, Celine bisa melihat Gigi kecil bayinya yang sebentar lagi akan tumbuh.
jika dipikir-pikir pertumbuhan pada Gigi Lily terjadi lebih cepat, atau mungkin karena dia adalah vampir setengah manusia?.
"semoga saja tidak ada masalah yang terjadi" gumamnya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
hari-hari Celine bersama dengan Lily malaikat kecil nya terlewati dengan baik. tidak ada hal-hal apapun yang mengganggu ketenangan ibu dan anak itu.
keluarga Lila juga sangat membantu dalam kehidupan Celine, sesekali Celine akan merindukan Jeffry, tapi semua itu tertutupi dengan hanya melihat wajah putri nya yang kini, telah dewasa menginjak usia 2 setengah tahun.
bahkan sekarang Lily bisa berbicara. walaupun tidak lancar, tapi itu adalah kemajuan yang sangat pesat untuk bayi seumuran nya.
Celine tengah membuat kue kering kesukaan Lily di dapur, kebetulan Lila datang kerumahnya dan bisa membantu nya menjaga Lily sejenak.
"bibi, Lily lapal"
Celine bisa mendengar Lily merengek pada lila. dengan aksen cadelnya, balita dengan rambut kepang itu terus merengek lapar meminta susunya.
"ayolah, Lily sudah meminum susu sebanyak 2 botol, dan sekarang masih lapar?" Lila memperagakan jari nya angka 2.
"iya" Lily mengangguk, bibir mungilnya merengut lucu.
tak Lama kemudian Celine datang dari arah dapur membawa kue buatan nya.
"ada apa?" tanyanya, ketika melihat Lila yang seperti frustasi.
"putri mu sangat rakus, aku baru saja memberikan nya susu dua botol, dan dia masih merasa lapar" ucapnya, sambil mencubit pelan pipi Lily.
Celine mengerti, Lily memang bukan manusia biasa, makanan yang dia maksud pasti bukan lah susu.
"Lila, tolong bersihkan mainan Lily, aku akan memberinya makanan" Celine kemudian menggendong Lily dalam pelukan nya.
Celine berjalan kearah kamar nya, kemudian mengambil kantung darah yang berada di lemari pendingin di dalam kamar nya dan Lily, sengaja menyembunyikan nya, akan gawat jika orang lain melihat kantung itu.
memberikan nya kepada Lily, yang kemudian dia telan habis oleh gadis kecil itu, saat sedang minum darah memang Lily sana seperti Jeffry, warna mata mereka akan berubah menjadi merah, kontras dengan warna rambut mereka, jika pupil Jeffry berwarna merah, maka Lily berwarna lebih ke merah muda.
"Lily, lain kali jika Lily merasa lapar, bilang pada ibu, jangan mengatakan nya pada bibi Lila, ok?" ucapnya memberikan pengertian pada Lily.
si kecil mengangguk paham, walaupun Lily masih kecil, putri nya itu bisa memahami apapun dengan cepat.
"gadis pintar, cepat habiskan" Celine mengusap lembut kepala putri nya.
Celine dan Lily kembali keruang tamu, di sana Lila sudah selesai dengan bersih-bersih nya.
"apa lama?"
ucap Celine setelah mendudukkan Lily di sofa samping Lila.
"tidak!, oh ya!, kak Lim sangat merindukan Lily, bagaimana jika besok aku menjemput kalian untuk pergi ke rumah?" usul nya riang, sebenarnya bukan hanya Lim, tapi semua orang merindukan Lily.
Celine mengangguk begitu pun dengan Lily di samping nya.
"kebetulan aku juga merindukan mereka, benarkan Lily?"
"iya!" semangat gadis kecil itu.
.
.
.
"TIDAK!!"
Celine berlari kearah belakang rumahnya saat dia mendengar suara teriakan nyaring dari Lila.
"Apa yang terjadi?, kau baik-baik saja?" Celine merasa panik, dia bisa melihat wajah pucat Lila yang seperti ketakutan.
"i-itu..."
Celine mengerutkan keningnya, saat dia melihat kearah yang di tunjuk Lila, jantung nya berasa berhenti berdetak.
di sana, lebih tepatnya di bawah pohon besar di belakang rumahnya, putri kecilnya, Lily sedang menggigit seekor kelinci putih di mulutnya, jangan lupakan taring nya yang mencuat keluar dari bibir mungilnya.
bahkan baju putih yang dia kenakan terkena tetesan darah dari kelinci itu.
"Lily...."
Celine menahan nafasnya