
"nic!" panggil Jeffry, memanggil salah satu pengawal yang memiliki kekuatan di atas rata-rata.
wushh..
asap gelap timbul saar Nic tiba
"ya! Tuan!" hormat nya, pada Jeffry
"cari dimana Celine berada!, pastikan kau menemukan nya!"
Jeffry berlalu pergi, dia menelusuri tempat terakhir Celine berada.
bunga-bunga yang Celine tanama tadi, masih berada di sana, bahkan tanah yang di gunakan gadis itu untuk menimbun bunga belum tersentuh sama sekali.
"Celine?!" teriak Jeffry di sekitar sana
dia terus memanggil manggil istrinya, namun nihil, tidak ada jawaban sama sekali.
"dimana dia?, ini salah ku!, argh!" Jeffry marah, sekali lagi dia kehilangan istrinya.
"Jeff?"
set
mendengar alunan suara lembut milik istrinya, membuat nya menoleh cepat.
bruk
"eh?, a-ada apa?" jika saja Celine tidak menopang tubuh nya dengan kuat, pasti mereka sudah terjungkal saat ini.
Jeff menangkup pipi Celine, dia mengecek dari atas sampai bawah tubuh Celine.
"kau baik-baik saja?, tidak ada yang terluka kan?, kenapa kau menghilang dari pandangan ku?, jika butuh sesuatu kau bisa meminta bantuan para pelayan kan!"
"s-satu-satu Jeff, jika kau bertanya seperti itu, bagaimana bisa aku menjawab nya?" Celine menggenggam tangan Jeff yang berada di kedua pipinya.
jantung nya yang berdetak sangat cepat, perlahan kembali menjadi seperti semula, melihat senyuman dari istrinya adalah hal yang wajib untuk nya.
grep
"aku sangat mencemaskan mu!" Jeff menenggelamkan wajah Celine di dadanya, pria itu menciumi pucuk kepala sang istri.
"sebenarnya ada apa?" Celine penasaran, Jeff terlihat sangat panik.
"kau dari mana?" tanyanya balik, Jeffry menuntun Celine, masuk kedalam Mansion.
"aku sedang membersihkan badan ku, yang penuh dengan tanah" jawabannya
"haah!, lain kali jangan menghilang secara tiba-tiba seperti itu"
"baiklah, maafkan aku" Celine memeluk Jeffry dari samping.
.
.
.
Jeffry baru saja menyelesaikan, pekerjaan nya, saat dia tiba di kamar nya dan Celine, pria itu melihat istrinya baru selesai mandi.
gadis itu tidak melihat Jeffry yang berdiri di sana, dia sibuk mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk.
tap!
grep
Celine sudah tidak terkejut lagi dengan kelakuan suaminya ini, yang suka sekali memeluk nya secara tiba-tiba.
"sudah biasa" cuek Celine
"........"
"m-menjauh!, Jeff aku kesulitan mengeringkan rambut" Celine merinding, ketika hembusan nafas Jeffry mengenai lehernya, Celine bisa melihat Jeffry yang sibuk mengendus lehernya dari kaca.
tatapan mereka bertemu, Celine bisa melihat perubahan warna mata dari Jeffry, itu tandanya Jeffry menginginkan sesuatu dari nya.
"apa sudah waktunya?" tanya Celine, dia sibuk dengan taman milik nya, jadi dia tidak menghitung hari.
"ya!"
deg!
astaga!, Celine belum menyiapkan dirinya.
"jangan tegang!, bukan kah, kita sudah terbiasa melakukan nya?"
mereka berdua masih, memandang satu sama lain melalui pantulan cermin.
malam ini adalah, malam purnama waktu yang tepat untuk mereka menghabiskan malam bersama, dan juga waktu yang tepat untuk Jeffry membuat penerusnya.
Jeffry mulai mengeluarkan taringnya, mendekatkan bibirnya, ke leher Mili Celine.
Celine harus terbiasa, dia menenangkan dirinya, membiarkan Jeffry menuntaskan haus nya.
jleb
"ah!"
Celine menutup kedua matanya, ketika taring milik Jeff menembus kulit lehernya.
tubuhnya panas dingin, selalu seperti ini jika Jeffry menggigit nya.
slurp
"nghh!"
"sakit?" Jeffry menatap wajah cantik istrinya, wajah nya memerah menahan sesuatu.
"t-tidak" geleng nya
cup!
Jeffry memberikan kecupan di dahi Milik Celine.
"kau sudah siap?"
Celine menatap mata Jeffry dalam, kemudian tersenyum.
"ya!" jawabannya yakin
kecupan kecil di berikan, Jeffry pada wajah istrinya, ciuman-ciuman mesra, menjadi awal malam panjang mereka.
cup!
"aku mencintaimu!" Jeffry menatap wajah istrinya sejenak.
Celine membuka matanya
"aku lebih mencintaimu"
malam itu bulan purnama menjadi saksi, malam yang panjang untuk mereka berdua.