
pagi harinya Celine di buat bingung dengan keberadaan suaminya, setelah pembicaraan mereka mengenai anak, Celine sama sekali tidak melihat Jeffry di manapun.
dan dia juga yakin, jika Jeffry tidak pulang ke kastil.
"Celine? ada apa?" panggil William, yah, setelah pernikahan Celine dan Jeffry, panggilan nya terhadap Celine berubah.
merasa namanya di panggil Celine menoleh cepat.
"William! apa kau tau keberadaan suamiku?" tanya nya menggebu
William mengerenyit bingung
"bukankah kalian selalu bersama, sejak kemarin?"
Celine menghela nafas
"dia pergi sejak malam, dan aku tidak tau Kemana dia pergi"gelisah nya
kebetulan sekali, Rey yang baru saja turun kebawah melihat kakak dan istri adiknya tengah berbincang.
"ada apa?" tanya nya penasaran, melihat raut wajah mereka berdua sepertinya ada masalah serius.
"Rey!" panggil Celine
"apa kau melihat Jeff?, dia pergi sejak malam tadi" lanjutnya
sama seperti William, Rey menampilkan ekspresi yang sama.
"bagaimana ini?!" Celine berjongkok, dia membentur kan kepalanya pada lututnya sendiri.
duk..
duk..
tep!
Rey menghalangi, kepala Celine dengan tangan nya.
"hey,hey!, sudahlah kami akan membantu mencari nya" ucap Rey dan di setujui oleh William.
"tapi, bisakah kau menceritakan kejadian nya?" tanya William, sebelum mulai pencarian mereka harus tau dulu inti dari permasalahan nya.
"iya!"
.
.
.
"ah! jadi begitu"
Celine baru saja menceritakan permasalahan antara dirinya dan Jeffry.
"kenapa kau tidak ingin anak?" William bertanya pada adik iparnya itu.
Celine menggeleng lemah
"aku takut, tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk nya, sejak kecil aku, tidak punya ibu, dan aku di besarkan oleh ayah, dengan kekerasan, aku takut semua yang ku alami, itu terjadi pada anak kami nantinya" jelasnya panjang lebar
"katakan itu pada suamimu" saran William, dia tau ketakutan dari Celine, tapi terlepas dari semua itu, Jeffry juga mengalami ketakutan, tapi dia berusaha mengatasi semua itu.
"tunggu di sini!, kami akan mencarinya" ucap Rey
Celine menatap mereka berdua
"tapi aku ingin membantu"
"kau tidak memiliki kemampuan seperti kami, akan sangat merepotkan saat membawa mu" jawab Rey tegas.
Celine hanya bisa pasrah, untuk saat ini dia hanya perlu menunggu, dia tidak ingin menimbulkan masalah lagi nanti nya.
"kami pergi"
sreet!
"eh?, cepat sekali"
dalam hitungan detik, Rey dan William menghilang dari pandangan Celine.
.
.
.
.
sedangkan di tempat lain, Jeffry sibuk berlatih di pinggiran danau di tengah hutan, sejak semalam dia menghabiskan waktunya dengan berlatih.
untuk menghilangkan pikiran nya tentang Celine, dia harus melakukan pekerjaan yang berat.
hosh!
hosh!
Jeffry terdiam sejenak, kemudian memutuskan untuk istirahat di atas batu, masih di tempat yang sama, tempat itulah yang sering dia gunakan untuk melarikan diri dari William dan Rey, sejak kecil dulu.
mengingat masa-masa kecilnya dulu, dia jadi teringat dengan perdebatan antara dirinya dan Celine tadi malam, mengenai anak.
dia kira hanya dengan cinta nya, Celine bisa mempercayai nya, dan juga memiliki keinginan yang sama dengan nya.
tapi-
"memiliki anak, dengan nya adalah impian ku" gumamnya
sreet!
Jeffry menoleh saat mendengar suara seseorang.
bugh!
"argh!, sial!" makinya, saat dia berbalik, sebuah Bogeman mentah mengenai wajahnya, sehingga membuat nya jatuh tersungkur.
"apa yang kalian lakukan!" tanya nya marah, saat dia ingin sendiri kedua kakaknya ini datang mengganggu nya.
"apa!, apa! katamu?" murka Rey, adiknya itu berlagak sok bodoh ternyata
William menenangkan Rey.
pria itu memperbaiki kacamata nya yang turun sedikit.
"kau meninggalkanku Celine sendirian, tanpa memberitahu kemana kau akan pergi" William mendekati Jeff
"kalian sudah menikah, dan pernikahan itu terjadi karena dirimu" lanjutnya lagi
"........."
"kenapa hanya diam!, Jeffry Kate berhenti lah melarikan diri!, kau sudah dewasa Sekarang, bahkan kau akan menjadi orang tua!" marah William, jika saja dia tidak memiliki pengendalian emosi yang baik, sudah di pastikan adiknya itu akan habis di tangan nya.
"dia tidak menginginkan anak! dia juga tidak mempercayai ku!" balas Jeffry, tatapan nya menyendu.
Rey maju ke hadapan Jeffry
"dengar Jeff, kau sangat mencintai nya kan?, pikirkan betapa sulitnya kau mendapatkan Celine!, betapa besar pengorbanan yang kau lakukan untuk mendapatkan nya!, jika karena masalah seperti ini saja kau menjadi pengecut, sebaiknya tinggal kan saja dia!" Rey mengeluarkan amarah nya, dia mendapatkan luka yang sangat parah, dan hampir tidak bisa di sembuhkan, karena berani menyakiti gadis itu.
dan bagaimana dengan Jeffry yang adalah suaminya?, dan menyakiti gadis itu seperti ini?.
Jeffry terdiam, apakah dia terlalu kekanak-kanakan?, tapi apa yang bisa dia lakukan?, sejak kecil dia selalu seperti ini saat mengalami kegundahan.
"jika kau hanya bisa menyakiti nya, lepaskan saja dia!, biarkan aku yang menjaganya" sambungan Rey.
Jeffry tidak terima, dia baru saja akan memukul Rey, sebelum William menahan nya.
"sial!, aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" teriaknya penuh emosi
"kalau begitu kembali lah!, sebelum kau membuat keputusan, dengarkan pendapatnya dulu!" sahut Rey tak kalah emosi
"dengar Jeff, bertanya lah pada Celine, apa yang membuat nya ragu dengan anak, dan juga dengan mu, baru kau bis memutuskan segala nya" memang diantara mereka semua, hanya William yang selalu berpikir secara dingin tanpa emosi.
Jeffry menyetujui permintaan kedua kakak nya, dan akhirnya usaha mereka membuahkan hasil.
grep
Jeff menoleh saat Rey menarik tangan nya.
"jangan sakiti dia!, atau aku akan mengambilnya dari mu"
bruk
Rey berjalan terlebih dahulu, pria itu sengaja menabrakkan bajunya pada Jeff.
"sudahlah" lerai William
.
.
.
.
"Kemana mereka semua?, hari sudah mulai gelap dan mereka belum kembali" Celine khawatir sekali.
bahkan gadis itu tidak berhenti mondar-mandir, di pintu depan kastil, hanya untuk memastikan mereka sudah datang atau belum.
kekhawatiran nya tergantikan dengan perasaan lega saat, di depan sana dia melihat William dan Rey membawa Jeffry kembali ke kastil.
tap...tap...tap...
bruk!
"aku menghawatirkan mu"
Celine berlari ke pelukan Jeffry, saat melihat sosok suaminya dia sangat bahagia.
"hm, aku pulang"
balasnya, sambil membalas pelukan dari Celine.
mengingat sesuatu, Celine melepaskan pelukannya segera.
kemudian gadis itu menatap, Rey dan William bergantian.
seet
"eh?"
mereka terkejut saat Celine membungkukkan tubuhnya
"terimakasih banyak"
ucapnya lantang
"hahaha! tidak perlu sampai seperti itu" ujar William
mereka tertawa bersama, di temani cahaya jingga matahari yang terbenam