
Celine menatap jasad tabib wanita yang baru saja meregang nyawa di hadapannya.
apa kesalahan wanita tua itu?....kenapa dia harus menanggungnya dengan nyawa nya sendiri?...
"kenapa kau melakukan ini?"
wanita yang sedang membersihkan percikan darah di tangannya, menoleh ke sumber suara.
Meera menelengkan kepalanya, seolah-olah bingung.
"untuk apa lagi?, tentu saja membuat kalian semua menderita!"ucapan santai yang mengalir begitu saja dari bibir Meera, membuat perasaan Celine terbakar.
"begitu?"
Celine memindahkan mayat tabib yang masih memeluk erat bayinya, yang juga tidak bernyawa dari tubuhnya.
menatap sejenak kearah dua mayat itu, Celine menyatukan kedua tangan nya, berdoa, "terimakasih, dan selamat tinggal" ucapnya.
sreet....
deg....
entah mengapa Meera merasa tegang, ketika matanya bersisi tatap dengan Celine mantan majikanya.
"lalu?, setelah itu? apa yang akan kau lakukan?" Celine menatap tajam Meera, sama sekali tidak menampilkan ekspresi apapun.
Meera meneguk ludahnya kasar
"membunuhmu!" teriaknya
srring
jari-jari tangan Meera mengeluarkan kuku-kuku tajam, sepertinya wanita itu sudah bersiap untuk membunuh Celine di hadapannya.
"kau salah jika, selama ini dirimu berfikir jika kau sudah berhasil" Celine merendahkan suaranya, walau bagaimanapun juga wanita di depannya ini, adalah orang penting untuk nya.
perkataan Celine, membuat Meera menatap nya penuh tanda tanya.
menatap kearah meera
"aku sudah mengetahui kebohongan mu selama ini"lanjutnya
deg...
Meera mengerenyit tidak suka, wanita itu semakin tajam melihat wajah milik Celine
"kau!, adalah mata-mata Joan, benarkan?,aku sudah mengetahui semua itu, saat itu, aku melihat mu sengaja membuang bunga, yang berada di kamar ini, saat aku tertidur, kau membuang bunga mawar ku, agar aku bisa keluar dari Mansion, setelah itu kau bisa melanjutkan rencana mu, yaitu menculik ku!" Celine menunjuk meera geram
"a-apa?, tapi kenapa kau masih mempercayai ku!" padahal Celine hanyalah manusia biasa, tapi tatapan nya membuat Meera merasa gemetar.
tap..tap...
Celine berjalan mendekati pelayan pribadi nya, mengabaikan tubuh bagian bawahnya yang terasa sakit, pasca melahirkan.
"karena aku menyayangi mu, aku berfikir dengan memaafkan kesalahan mu, kau bisa melihat ketulusan ku, aku membiarkan mu bebas berkeliaran di mansion ini, dan tetap membiarkan mu berada di sisiku, setelah semua yang kulakukan untuk mu, aku mengira kau sudah berubah, namun nyatanya?, kau kembali melenyapkan bayiku" berbicara panjang lebar, Celine menatap Meera dengan mata berkaca-kaca, dia berdiri berhadapan dengan Meera sekarang.
brak!
"akh!"
darah segar mengalir dari leher Celine ketika Meera mencekiknya, kuku dari wanita itu menggores kulit nya.
dari luar kamar, Jeffry bisa mencium aroma darah milik istrinya.
kedua mata hitam milik Jeffry berubah menjadi merah pekat, karena dia merasakan jika istrinya sedang berada dalam bahaya.
sreet
William menatap Jeffry yang bangun begitu saja dari duduknya.
Jeffry menatap William
"Celine, dalam bahaya kak" ucapnya
"sial!, aku mengira hanya perasaan ku saja" tanpa aba-aba Rey berusaha membuka pintu kamar Celine.
Jeffry dan William juga turut membantu
"terkunci!"
"pantas saja proses melahirkan nya lama sekali, ternyata ada yang tidak beres" William berbicara dengan masih berusaha membuka pintu di depannya ini.
"aku akan mendobrak pintu ini!"
Jeffry bersiap untuk mendobrak pintunya
brak!
brak!
brak!
"Meera buka pintunya!"
tetap saja pintu nya sama sekali tidak bisa terbuka.
"ada yang memasang sihir di pintu ini!"
di dalam ruangan Meera masih mencekik leher Celine, mengabaikan gedoran pintu yang mengganggu indera pendengaran nya.
"kau dengar!, orang-orang bodoh itu tidak akan bisa menolong mu!"
"argh,l-lepas!"
wajah Celine semakin memucat, karena tekanan di lehernya semakin mengerat.
bukannya melepaskan cekikan nya, Meera malah tertawa bahagia, melihat Celine yang kesulitan bernapas.
karena Meera tertawa, Celine bisa merasakan jika cengkeraman di lehernya sedikit mengendor.
tak banyak berfikir, Celine mengambil pisau yang dia sembunyikan di pinggang nya, tanpa sepengetahuan Meera.
jleb!
"aakh!"
sreek!
"hah...hah....hah"
cekikannya terlepas
"t-tangan ku"Meera memegangi tangan nya yang terbelah karena pisau milik Celine.
sreet...jleb!
"argh!.... lepaskan!"
wanita jahat itu berteriak kesakitan, karena tusukan di punggung nya.
"aku akan membunuh mu!"
deg
apa itu?, Meera merasa ketakutan saat melihat sisi lain dari Celine.