
setelah mendengar cerita dari Meera Celine merasa bersalah dengan wanita di depannya ini, padahal Meera juga adalah korban, tapi dia malah di salah kan atas semua hal yang terjadi pada Celine.
"tapi semua sudah baik-baik saja Nona" Meera berucap, ketika Nona nya itu menampilkan wajah sendu yang kentara sekali, wanita itu merasa bersalah.
haaah...
Celine menghela nafasnya
"hm... sekarang tidak ada yang perlu di khawatir kan....semoga saja" lirih nya di akhir kalimat.
Meera mengangguk, kemudian wanita itu meminta ijin untuk keluar.
tepat setelah Meera keluar, Jeffry datang membawa nampan berisi makanan dan obat-obatan, pria itu datang dengan senyuman di wajahnya.
Celine membalas senyuman Jeffry, dia senang jika Jeffry mulai tenang dan kembali tersenyum.
"kalian berbicara sampai lupa waktu, lihat pukul berapa ini?....dari sore kau terus berbicara dengan pelayan itu, melupakan makanan dan obat mu,ck" Omelan dari Jeffry, seperti Alunan lagu di telinga Celine, bukanya merasa bersalah wanita itu malah tertawa lebar.
"haha...maaf"ucap Celine setelah meredakan tawanya.
wajah Jeff terlihat masam, di satu sisi istrinya itu terlihat menjengkelkan, dan di satu sisi lagi terlihat sangat cantik, dia menyukai semua ekspresi dari wanita yang sudah menjadi istrinya itu, betapa hancur hatinya saat melihat wajah itu tidak menampilkan ekspresi apapun dan terlihat sangat pucat.
tapi semua itu tidak akan terjadi lagi, Celine sudah kembali seperti dulu, wanita itu tidak pernah mengingat kejadian yang lalu lagi sekarang.
"Jeff!, apa yang kau pikirkan?" Celine menatap wajah suaminya yang terlihat sedang berfikir keras.
Jeff tersentak
kemudian pria itu membawa tangannya ke atas kepala Celine.
sruk...
mengusap lembut kepala istrinya
"yang pasti aku sedang memikirkan dirimu"senyum nya
Celine menunduk menyembunyikan rona merah di wajah nya.
"sekarang, makan dan minum obatmu, aku akan pergi sebentar"
cup...
Jeffry mengecup dahi istrinya
"hati-hati..."
"hm..." berbalik sebentar hanya untuk menatap kembali wajah istrinya....
senyuman yang mengembang di bibir Celine, menyurut setelah kepergian Jeffry
"baik-baik saja ya.....?"
tes...
tes...
akhirnya..... tangisan yang dia tahan sejak kedatangan Meera tadi, tumpah dengan deras nya.
Celine memegangi perut yang sebelumnya telah terisi, tapi sekarang?, semua itu hilang dengan cara yang menyakitkan.
tangisan pilu Celine, wanita itu tidak ingin menunjukkan kelemahan nya di hadapan orang-orang, bahkan di hadapan Jeffry sekalipun.
"hmph...hiks"
"bayi ku...."
.
.
.
.
deg...
Jeffry memegangi jantung nya yang terasa sesak, ada apa dengan nya?
"Jeff?, ada apa?" Rey melihat Jeffry yang sedang memegang jantung nya sendiri.
"tidak...."
saat ini Jeffry, Rey dan Nic berada perbatasan hutan dan dunia luar, sejak kejadian yang tidak pernah terkira oleh mereka, Jeffry memutuskan untuk meninjau lokasi itu sendiri.
"aneh...kenapa ayah dan yang lainnya tidak datang menyerang kita?, melihat dari sifat ayah....dia pasti akan membalas kan dendamnya"
ucapan dari Jeffry, membuat Rey tersadar, mereka bertiga saling berpandangan.
"benar!, tragedi penculikan Celine juga, bagaimana bisa Joan memasuki kawasan kita?, dari mana dia mendapatkan informasi tentang kehamilan Celine?" tambah Rey, kesimpulan-kesimpulan mereka menjadi satu.
"siapa mata-mata di Mansion kita?"
Rey terlihat berfikir, begitu pun dengan Nic,
"Meera?"
Jeffry dan Nic menatap Rey penasaran
"sejak awal aku mencurigai nya"
ucapnya yakin