
semua kesalahpahaman sudah selesai, Jeffry dan Celine juga sudah saling terbuka satu sama lain, walaupun agak kecewa pada Celine, Jeffry masih bisa menahan semua itu.
sudah sebulan sejak mereka menikah, mereka memutuskan untuk kembali ke Mansion yang di bangun Jeff.
sebenarnya Jeffry masih dengan perkataan sebelum nya, jika mereka akan kembali ke Mansion saat Celine mengandung, tapi semua itu gagal saat Jeffry dan Celine membuat perjanjian.
mereka akan memiliki penerus saat mereka berdua siap nantinya.
tidak banyak barang yang di kemas, Celine yang memang tidak membawa banyak baju, hanya membawa barang seadanya saja.
William menolak saat Jeffry ingin membawa serta dirinya dan Rey,untuk pindah ke Mansion, dia tidak berniat meninggalkan kastil mereka.
sempat berdebat tapi semua itu bisa dilalui.
William dan Rey akan pindah ke Mansion saat Celine dan Jeffry mendapatkan momongan, mereka berdua akan menjaga keponakannya itu nanti.
"sudah siap?" Jeffry menatap istrinya yang berdiri di sebelah nya.
"iya" jawab Celine
mereka semua berkumpul di gerbang kastil, banyak sekali kenangan dari kastil ini, mulai dari pertama kalinya Celine menginjakkan kakinya di sini.
pertemuan nya dengan William,Rey, dan Jeffry, dan semua ke janggalan yang di lalui Celine. dia tidak akan bisa melupakan nya
"segeralah memberikan kami keponakan!" cetus pria berkacamata itu.
Jeffry hanya tertawa, sambil menyenggol lengan istrinya.
"setelah sampai, hubungi kami dengan telegram" Rey mendekati kedua pasangan itu.
puk!
kakak kedua dari Jeffry, menepuk pundak kedua adiknya dengan ringan.
"aku selalu berdoa yang terbaik untuk kalian" ucapnya
Jeffry memeluk Rey dengan erat, padahal mereka pergi tidak jauh, tapi sepertinya kehidupan tanpa Rey tidak akan mudah.
"terimakasih!, kami akan menghubungi kalian setelah sampai" balas Jeffry, kemudian berbalik menuju kuda yang akan mereka tumpangi.
"ah!, terimakasih!, jaga diri kalian baik-baik!" Celine berteriak dengan kencang saat kuda yang mereka tumpangi mulai berjalan.
William dan Rey melambaikan tangannya, mengiringi kepergian kedua adiknya.
.
.
.
.
.
tuk...tuk...tuk...
tapi jangan salah dengan semua itu, walaupun tidak seberapa, mereka semua memiliki kekuatan yang sangat besar, itulah mengapa Jeffry memperkerjakan mereka.
"selamat datang!, Tuan dan Nyonya!" sambut mereka bersamaan.
Celine berdecak kagum.
"wah!, aku merasa seperti seorang putri sekarang"
Jeffry mengerenyitkan dahinya
"apa maksudmu?, kau memang seorang tuan putri" puji Jeffry
Celine tersipu mendengar pujian suaminya, gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
mereka memasuki Mansion bersama, para pelayan membungkuk kan badan mereka saat majikan mereka melewati.
semua pelayan memandang keharmonisan kedua pasangan itu, tidak menyangka jika tuan besar mereka, bisa bersikap sangat hangat pada istrinya.
the power of love
klek
"ini kamar kita"
kedua pasangan itu, memasuki kamar yang akan mereka tempati.
"sungguh?!" Celine berseru tidak percaya, kamar ini sangat jauh berbeda dengan kepribadian Jeffry.
kamar yang mereka tempati terlihat...em... feminim?, itulah yang dia pikirkan. nuansa cerah di kamar ini berkebalikan dengan kamar mereka saat di kastil.
"Jeff"panggil nya pada sang suami
"Hem?" jawab Jeffry, pria itu sibuk menata perlengkapan mereka.
"kau yakin ini bukan kamar ku saja?" tanya nya memastikan
srek
Jeffry memegang bahu Celine
"ini kamar kita"
cup...
"eh?"
"sudah tidak perlu banyak bertanya, sekarang kita harus membereskan barang kita sendiri, aku tidak suka saat pelayan menyentuh barang-barang ku" Jeffry kembali sibuk dengan kegiatannya.
Celine mengangkat bahu nya acuh.
"sudahlah"