
Joan melihat segalanya, dari mulai wanita itu menghabiskan makanan dan minuman yang di berikan, sampai saat ini dia melihat secara langsung betapa kesakitan nya Celine, karena memakan makanan pemberian nya.
"sudah waktunya ya?"
Joan berjalan mendekat kearah Celine, dari sana dia bisa mencium aroma darah segar yang keluar dari ************ wanita itu, yah!, dia memberikan racun di dalam makanan milik Celine.
"a-apa y-yang kau lakukan?, padaku?" Celine bahkan kesulitan bicara, perut nya terasa sangat sakit.
Jona tersenyum miring
"akan terasa sakit, jika anak dalam kandungan mu masih hidup"
Celine tertegun, wanita itu mundur menjauhi Joan, pria itu sangat kejam, seingat nya dia tidak pernah melakukan kejahatan pada siapapun, tapi kenapa dia harus mengalami semua ini?.
"hiks, j-jangan"
Celine memeluk dirinya sendiri, seolah-oleh dia bisa melindungi kandungan miliknya.
sreet!
Joan menarik kerah baju lusuh Celine, pria itu melempar Celine ke tembok kayu dengan sangat kencang.
"ukh!" lagi-lagi seperti ini, kenapa setiap dia bertemu pria di depannya ini, pria itu selalu melempar tubuhnya dengan enteng?.
brak!
pria itu mendorong Celine agar terbaring, sedikit kesulitan ketika wanita itu terus bergerak, dan memegangi pergelangan kakinya, yang dia gunakan untuk menendang wanita itu.
"sial!....bisakah kau berhenti bergerak!.... Celine, aku bermaksud untuk menghilangkan rasa sakit mu, jadi tenang saja" Joan menendang pelan wajah Celine, yang berada di bawahnya menggunakan kakinya.
"tidak!.. kumohon! aku akan melakukan apapun, tapi jangan sakiti bayiku!"
"terlambat..."
Celine membelalakkan matanya, wanita itu terkejut melihat dua sosok bertubuh besar, yang datang entah dari mana.
sosok itu terlihat menyeramkan, kedua matanya terlihat seperti ingin keluar, jangan lupakan lidah panjang mereka yang menjuntai keluar dari mulut.
'apa yang ingin mereka lakukan?'
"tahan dia!"
Celine ketakutan ketika dua sosok itu mendekati dirinya.
"apa yang kau lakukan?!, lepaskan aku!"
tubuh Celine terbujur di lantai, kedua tangan nya di tahan oleh suruhan Joan, sedangkan pria itu mengusap perut Celine dengan kaki.
"j-jangan"
Joan tersenyum miring, pria itu mengangkat kakinya dan menginjak Celine tepat di perut, wanita itu.
bugh!
"arghh!!" jerit pilu Celine, ketika merasakan sakit yang teramat pada perutnya, Joan tidak main-main pria itu benar-benar membunuh bayinya.
bugh!
"rasakan itu!"
"argh!, hiks... h-hentikan!" Celine tidak bisa melakukan apapun, wanita itu memegangi perutnya setelah, sosok tadi yang mencekal lengannya melepaskan dirinya.
pandangannya memburam, telinganya berdengung kencang, rasa sakit perlahan menghilang bersamaan dengan kesadaran nya yang menghilang.
menatap datar tubuh yang tidak sadarkan diri itu.
"kalian boleh mengambil darah, yang keluar dari tubuh wanita itu" suruh nya pada bawahan nya tadi, tanpa rasa bersalah sama sekali.
"ingat!, aku akan membunuh kalian.... jika kalian menggigit nya, sekali saja!" lanjutnya, menatap tajam kedua sosok itu.
"baik!"hormat mereka
.
.
.
.
suasana terlihat tegang di atara mereka, pria dengan tubuh berwarna kehitaman, kedua tanduk di kepalanya,dengan sayap di kedua sisi tubuhnya, berdiri tegap di hadapan pria paruh baya yang terlihat masih bugar, terlihat tenang duduk di singgasana kebesaran miliknya.
pancaran kebencian dan kemarahan, terlihat jelas di mata keduanya.
"senang bertemu dengan mu....'Putra' ku" bicaranya, menekan kata putra.
sedangkan si lawan bicara hanya mengangkat sebelah alisnya, jangan lupakan seringai tampan yang terlihat di bibirnya.
"sayangnya aku tidak!......ayah?" skakmat.
senyum di bibir Raja dari klan utama, sirna seketika.