Harem: The Vampires World

Harem: The Vampires World
Meera....?



"ngh...."


lenguhan halus dari Meera yang tengah berbaring di ranjang, mengalihkan perhatian mereka yang sejak tadi menunggu sadarnya wanita itu.


Jeffry mendekati ranjang Dimana Meera terbaring, diikuti William dan Rey di belakangnya.


wanita itu membuka perlahan matanya, merasa sakit di tempat tertentu tubuhnya pandangan nya tertuju pada Jeffry yang kebetulan berada di dekatnya, apa yang terjadi?.


"t-tuan?" wanita itu terlihat takut,melihat wajah Jeffry yang terlihat tidak bersahabat.


"katakan dimana istriku?!" tanpa basa-basi, pria tampan itu bertanya tentang istrinya. mengabaikan wajah pucat sang pelayan.


William menggeleng-gelengkan kepalanya heran, bagaimana bisa Celine hidup bersama pria tidak punya hati ini?.


puk..


Jeffry menoleh kebelakang, ketika merasakan tepukan pelan di bahu kirinya.


menatap penuh tanya pada William


"biar aku saja"


William menarik mundur Jeffry, pria berkacamata itu mendekati Meera, tidak lupa dengan senyum bisnis miliknya yang tidka pernah lepas dari wajah tampan itu.


"ck" decak sebal Jeffry


"bagaimana keadaan mu?" basa-basi William.


Meera sedikit merasa tenang


"b-baik"


"apa yang sebenarnya terjadi?, bagaimana bisa kau terluka?, dan dimana Celine Sekarang?" tanyanya bertubi-tubi, wajah yang semula terlihat tenang itu, berubah menjadi seperti seorang penjaga yang menginterogasi sang pencuri.


tidak ada yang berbeda dari mereka berdua, walaupun William terlihat ramah, tetapi tetap saja jiwanya adalah vampir murni yang tidak sabaran.


Rey menatap kakak tertuanya jijik, cih.. dia tidak peduli, begitu pun dengan Jeffry.


Meera kesulitan meneguk ludahnya sendiri.


"s-sa-ya, tidak tau Tuan, saat itu kami berniat masuk kedalam Mansion setelah mencari bunga di taman, ketika saya dan Nona berjalan, tiba-tiba saja seseorang menarik saya ke belakang Mansion, dan saya tidak ingat apapun lagi setelah itu,hiks" Meera tidak bisa menahan tangisnya, betapa ketakutan nya dia saat itu, bahkan tubuhnya masih terasa perih Sekarang.


Jeffry menggeram, jika Meera saja ketakutan bagaimana dengan Celine yang tengah menghilang sekarang?.


"untuk apa kalian pergi keluar Mansion?, bukankah kalian tau jika hari itu seluruh penjaga sedang mengadakan rapat?, dan berbahaya untuk keluar sendirian" bukan William melainkan Rey yang bertanya lagi, dari awal dia sudah mencurigai pelayan ini.


William mengiyakan


"benar juga!"


"s-saat itu, Nona bilang bunga di kamarnya kosong, jadi dia memutuskan untuk mengambil nya sendiri" jelasnya, itulah yang dia ingat sekarang.


Jeffry mengerenyitkan dahinya


"bukankah saat aku terbangun pagi harinya, bunga itu masih ada?, kenapa bisa kosong?"


bruk!


"saya berkata jujur Tuan!, saat Nona terbangun, bunga itu sudah tidak ada!, sepertinya pelayan lain mengganti bunga itu, jika saya berbohong untuk apabsaya melukai diri saya sendiri"


Meera bersujud di kaki Jeffry, memohon untuk percaya padanya, jika hilangnya Celine bukan karena dirinya.


Jeffry menatap tajam wanita yang berani menyentuh kakinya itu.


grep..


"Jeff! lepaskan dia"


William berteriak saat Jeffry, mencekik leher Meera dan menyeret wanita itu entah Kemana.


"Jeff!"


tap!


tap!


langkah Rey terhenti, ketika tau tempat apa yang akan mereka tuju sekarang.


bulu kuduk nya meremang, mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, di tempat ini.


pria itu menyentuh lengannya sendiri, masih terasa betapa menyakitkan nya saat Jeffry menarik lepas kedua tangan nya saat itu.


bruk!


"argh!" Jeffry melempar Meera kedalam ruangan eksekusi miliknya.


"hiks!, Tuan ku mohon!" Meera merapat kan kedua tangan nya memohon ampun.


set...


Jeffry mencengkeram erat dagu Meera, membawa wajah wanita itu menatap nya.


"aku akan melepaskan mu, saat Celine kembali dengan selamat!"


brak!


"hiks!" meera mengusap lehernya yang memerah bekas cengkraman dari Jeffry