
"Dari mana kalian?"
Jeffry menatap malas ke arah kakak tertuanya itu, seolah tidak memiliki pekerjaan lain, dia menunggu dirinya dan Celine tepat di depan pintu kastil.
"ah! William, Jeff membawaku ke tempat yang sangat indah tadi!" Celine terlihat sangat antusias saat menceritakan harinya bersama dengan Jeff.
"aku tidak melarang kalian pergi kemana pu, hanya saja, saat ini situasi kita sedang tidak baik, aku harap kalian selalu waspada" tidak peduli sekuat apapun Jeff, tetap saja, perasaan kakak mana yang akan tenang saat adiknya di kelilingi oleh bahaya.
"akan kami ingat!"
Jeff menarik Celine masuk ke dalam kastil, melewati William yang berdiri di sana, Celine sempat memberikan salam pada William sebelum Jeff menarik nya masuk kedalam.
"hah, sepertinya adik bungsu ku sudah sangat dewasa" lirihnya
.
.
.
.
.
Jeff memperhatikan Celine yang sekarang tengah menggerutu, gadis itu masih kesal dengan sikap nya kepada William tadi.
dan Sekarang gadis itu menyibukkan diri dengan memasak di dapur.
"kenapa tidak membiarkan William yang memasak?" Jeff membuka suara
"sekarang bahkan kau tidak memanggil nya kakak!"
sepertinya Jeff membuat kesalahan, gadis itu sangat sensitif sekarang, sejak pernyataan cinta nya di hutan saat itu, Celine seperti mencoba mengalihkan seluruh pikirannya untuk hal lain.
grep..
"yak!"
"kenapa kasar sekali?, huh?" Jeffry memeluk erat Celine dari belakang, menenggelamkan wajahnya pada bahu gadis itu.
sepertinya Celine sudah keterlaluan, dia tidak bermaksud kasar, hanya saja sejak Jeff menunjukkan kekuatan nya, dia menjadi sombong dan bersikap seenaknya saja.
"maafkan aku" Celine mengusap rambut Jeff yang mengenai wajahnya.
gadis itu tertawa, ketika melihat sikap manja pemuda itu. bukan kali pertama Jeffry bersikap manja seperti ini, hanya saja dia belum terbiasa untuk itu.
kedua orang itu melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda, Jeff sesekali menjahili Celine yang tengah membuat adonan, mereka sangat bahagia.
"kenapa harus dia?!" dia melihat segalanya dari awal, bagaimana sikap Jeffry pada gadis di sebelahnya itu, dan semua perlakuan itu membuat nya marah.
"aku akan mendapatkan nya!"
.
.
.
.
.
"bagaimana dengan istana nya?" William sudah mendengar seluruh cerita dari Celine, dia mengira jika Jeff hanya bercanda ternyata?, sungguh adiknya itu terlalu nekat.
"dari pada istana, aku lebih suka menyebut nya Mansion" Jeff membenahi
William hanya memutar matanya malas
"kalian berencana tinggal berdua di sana?" tanya nya lagi
Jeff mengangguk "setelah kami menikah" lanjutnya lagi
"aw!"
menjerit kecil saat Celine mencubit pinggang nya
"kalian sangat serius ternyata"
"apa maksudmu?, tentu saja aku serius, dan pernikahan ku, aku ingin kau yang melakukan persiapan nya" ucap Jeffry
William menatap tidak suka, seenaknya saja memangnya dia pelayanan yang harus mengurus segalanya.
Jeff tersenyum sendu,
"kau adalah kakak ku, selain ayah hanya kau yang bisa melakukan itu semua" lirihnya, tidak peduli seberapa buruk ayahnya, William adalah orang yang tepat untuk mengganti kan sosok ayah untuk nya.
William tertegun sejenak, ternyata luka yang di timbulkan ayahnya sejak bertahun-tahun yang lalu, masih membekas di ingatan adik bungsunya itu.
William menghela nafas kecil
"baiklah kali ini aku akan membantu mu, Rey juga akan ikut membantu" finalnya
sedangkan Rey yang sejak tadi diam merasa tidak terima, kenapa dia ikut terseret juga?
"tidak bisa protes!, lakukan saja Rey!" ancam William
"merepotkan!"
Celine merasa terasing kan di sana, kenapa Jeff tidak berdiskusi dulu dengan dirinya?, yang akan menikah dengan pemuda itu kan dirinya.
Jeff sadar dengan tatapan penuh tanya dari Celine, dia memang tidak ingin menunda lagi, tidak perlu menunggu sampai Celine mencintainya, dia hanya perlu mengikat Celine dengan pernikahan, dan gadis itu akan mencintai nya seiring berjalannya waktu yang mereka habiskan bersama nanti.
"ada apa dengan senyuman itu?" Celine bertanya penuh selidik, ayolah di otak kecil milik Jeff tersimpan berbagai macam rencana licik yang siap dia gunakan.
"tidak ada!, kau terlihat cantik hari ini" pujinya mengalihkan perhatian Celine
blushh
dia tidak tau anak yang dulunya dia kira pemalu ternyata pandai menggoda.
mereka mengabaikan sekitarnya, jika mereka lebih teliti mungkin dua orang itu bisa melihat tatapan iri dari seorang yang ada di sana.