
prang!
gelas yang berada di genggaman Celine jatuh begitu saja ke lantai, menimbulkan bunyi yang nyaring dan membuat seluruh perhatian terarah padanya.
"Celine, kau baik-baik saja?" Lila memandang Celine khawatir, tapi saat dia bertanya, yang di dapatkan adalah wajah Celine yang seperti orang terkejut.
"Celine?!" panggilnya sekali lagi
"a-ada apa?" Celine tersentak, entah kenapa dia merasa khawatir, dan pikiran nya selalu mengingat Jeffry.
Lila merasa ada yang tidak beres dengan sahabat nya itu, lihatlah kondisi Celine saat ini, jiwa wanita hamil itu seperti tidak berada di tempatnya.
Lila menghela nafas
"kau sedang tidak baik-baik saja saat ini, pulanglah"
Celine merasa bersalah
"maafkan aku"ucapnya, kepalanya menunduk hormat, saat ibu dan kakak nya Lila mendatanginya.
ibu Lila menepuk-nepuk pundak Celine lembut, dan tersenyum seolah mengatakan 'tidak apa-apa'
"mungkin kau lelah, sebaiknya kau lebih fokus dengan kehamilan mu saat ini" Lim memberikan solusinya, dia tau jika menjadi ibu tunggal seperti Celine sangatlah tidak mudah.
Celine mengangguk paham.
baru saja dia akan pergi, perutnya terasa keram, Celine merasa jika bayi yang ada di perutnya akan segera keluar.
"agh!" Celine berpegangan pada tembok yang berada di sana.
"Celine!" mereka semua berteriak memanggil namanya.
Lim yang berada di sana langsung membantu Celine, menopang tubuh wanita itu agar tidak terjatuh.
"Lim bawa Celine kerumah sakit!" ibu dari Lila berucap panik.
mengangguk, kemudian bergegas membawa Celine menuju mobilnya yang berada di parkiran.
.
.
.
.
Di sisi lain, beberapa tabib di kerah kan oleh William untuk mengobati luka milik Jeffry, lagi-lagi mereka menggunakan benda terlarang untuk menyakiti Jeffry, ini kedua kalinya Jeffry terkena senjata yang terbuat dari perak, sepertinya akan sangat sulit membuat adiknya itu bangun kembali.
William sampai tidak bisa bernafas dengan benar saat ini, melihat kondisi Jeffry yang terluka parah membuat nya merasa takut, apa yang akan terjadi pada mereka semua jika Jeffry tidak ada?, belum lagi kondisi Jeffry yang sangat buruk, dia tidak ingin kehilangan adiknya.
setelah Jeffry terkena panah perak dari orang entah siapa itu, malam yang panjang berganti dengan pagi hari, William dan Rey lekas membawa Jeffry pergi dari sana, dan mungkin untuk kali ini mereka akan selamat, tapi tidak tau jika besoknya?.
"kak, istirahat lah, aku akan menjaga Jeffry" Rey datang ketempat Jeffry di rawat, bermacam macam tabib hadir di sana, bahkan ada tabib menara sihir yang turut membantu mereka.
William menolak, jika dia pergi tidak akan ada yang berubah.
"Jeffry bukanlah vampir biasa, hanya serangan seperti itu hanya akan membuat nya tertidur, tidak lama lagi dia akan bangun dengan kondisi yang jauh lebih kuat" Rey tidak hanya membual, tapi ini kenyataan nya, hanya karena senjata kecil seperti itu, adiknya akan bangun sebentar lagi.
William menghela nafasnya, pria itu bangun kemudian keluar dari tenda.
"bagaimana?, apa ada perubahan?" Reynold bertanya pada tabib yang masih mencoba mengobati Jeffry.
salah satu tabib menggeleng
Rey mengangguk
"terus saja mengalirkan sihir kalian, Jeffry butuh itu"
Rey sudah menduga nya, Jeffry tidak berada di dalam kondisi yang membahayakan, hanya saja dia perlu waktu untuk sadar, kekuatan dari tabib mungkin akan membantu Jeffry menyempurnakan kekuatan yang di milikinya.
"ini seperti, meminum darah tanpa menyentuh darah itu" gumamnya, tersenyum miring, adiknya adalah Demon tidak ada yang bisa mengalahkan Demon kecuali, yang maha kuasa.
...≈≈≈≈≈≈...
Lim sampai di rumah sakit terdekat, mengeluarkan Celine dari mobilnya, kemudian mengangkat wanita hamil itu menuju dalam.
"tolong adikku" ucapnya pada salah satu perawat, kemudian suster membawa sebuah ranjang untuk meletakkan Celine.
ranjang tersebut di dorong menuju UGD, diikuti Lim di belakangnya.
"tuan mohon tunggu diluar" ucap suster tersebut, kemudian menutup pintu UGD.
Lim merasa khawatir, apa Celine akan baik-baik saja?.
"Lim!" suara ibu dan ayahnya yang memanggilnya membuat Lim menoleh.
"ayah,ibu" ucapnya
"bagaimana?"
"entahlah dokter masih merawat nya didalam, dimana Lila?"
"adikmu sedang memarkir kan mobil"
Lim hanya mengangguk, tapi dalam hatinya dia merasa sangat khawatir dengan keadaan Celine.
mereka semua menunggu di luar ruangan Lila juga sudah berada di sana, menunggu kabar dari Celine di dalam sana.
tidak lama kemudian dokter keluar dari UGD.
"bagaimana Dok, keadaan putri kami di dalam?" ayah dari Lila bertanya pada si dokter.
"kita harus segera mengeluarkan bayinya jika tidak kedua nya tidak akan selamat" ucap dokter itu
semuanya terkejut, terutama Lila yang paling dekat dengan Celine.
"tapi Dok, kandungan nya masih berusia 8 bulan" mereka panik
"air ketuban nya sudah pecah, jika tidak segera ditangani, kami khawatir ibu dan bayinya tidak bisa di selamatkan"
"lakukan!"
mereka semua menoleh kearah Lim yang mengambil keputusan.
Lim menatap kearah keluarga nya dengan yakin.
"baiklah, kami perlu tanda tangan suaminya"
Sekarang apa lagi?
"saya suaminya" tidak ada pilihan lain, jika ingin ini semua berakhir, Lim akan melakukan apapun.
dokter kemudian mengambil berkas yang akan di tanda tangani, Lim menanda tangani surat tersebut.
"berdoalah kepada Tuhan, mereka berdua akan baik-baik saja" ucap dokter itu kemudian pergi masuk kedalam UGD.