
wanita cantik yang tengah terbaring di ranjang empuk itu, mulai mengerjapkan kedua matanya, kamar yang dia tempati sama sekali tidak membiarkan cahaya mentari pagi memasuki celah-celah kecil jendela kamar.
"shh...." Celine terbangun dari tidurnya rasa sakit di perutnya terasa lebih menyakitkan saat dia terbangun, dia merasakan tangan kanan nya terasa kebas saat ini.
rasa hangat menyelimuti hatinya, di sana Jeffry menggenggam erat tangan dalam genggaman pria itu.
puk...puk....
Jeffry membuka kedua matanya, saat ia merasakan tepukan lembut di rambutnya
"Celine?, kau bangun?, a-apa kau membutuhkan sesuatu?"paniknya, kenapa dia bisa tertidur begitu pulas?.
senyuman manis terbit di wajah Celine, wanita itu menggenggam erat tangan Jeffry yang berada diantara wajahnya.
"a-a-ir..."tenggorokan nya kering, entah berapa lama dia tidak sadarkan diri, yang pasti dia haus sekarang.
Jeffry faham dia mengambil cangkir berisi air putih di atas meja.
"ini..."
Celine tidak berbohong saat dia bilang haus, wanita itu menghabiskan air dalam cangkir dalam sekali teguk.
"apa kau baik-baik saja?" tanya Jeff setelah Celine menghabiskan minumnya
Celine mengangguk...
"perut ku masih terasa sakit"ucapnya
"maafkan aku...." Celine menatap Jeff yang menampilkan wajah Sendu nya.
puk... puk...
dia tau jika Jeffry merasa sedih, dan juga merasa bersalah, Celine menepuk kasur di sebelah nya.
tidak banyak bicara, pria itu menuruti kemauan istrinya itu.
sreek...
"ada apa?" tanyanya setelah menuruti kemauan Celine.
grep...
Celine menggenggam tangan Jeffry
"ini bukan kesalahan mu, atau kesalahan siapapun" menatap wajah tampan suaminya.
Jeff membalas genggaman itu, ia membawa genggaman mereka untuk dia kecup.
cup..
"maaf, tidak bisa menjaga bayi kita" ucapnya tulus, Celine merasa bersalah pada Jeffry. pria itu sangat menginginkan seorang pewaris, tapi dia menggagalkan semuanya.
sreet...
grep...
"semua akan baik-baik saja, saat kau selalu bersama ku" Jeffry menenggelamkan wajahnya di bahu sang istri.
"tapi, kau Sangat menantikan bayi itu"
"kita bisa mendapatkan nya kembali, tapi aku tidak bisa mendapatkan mu kembali jika kau pergi dari sisiku"
.
.
.
.
.
William baru saja membereskan perlengkapan kesehatan nya, dia baru saja memeriksa keadaan Celine.
tidak ada kondisi serius, Celine baik-baik saja sekarang, hanya saja William harus mengawasi wanita itu selam seminggu kedepannya.
"racun di tubuh mu belum sepenuhnya hilang, karena itu aku harus terus mengawasi mu"
Celine mengangguk
"terimakasih, William"
"hm.."
brak!
"Nona!"
Celine terkejut, Meera datang dengan tiba-tiba dan membuka pintu kamar dengan keras.
"Meera?, ada apa?" tanya Celine pada pelayan pribadinya.
Meera mendekati Celine, wanita pelayan itu bersimpuh di kaki Celine yang menggelantung di pinggiran kasur.
"m-meera?, jangan seperti ini" Celine merasa tidak enak, bagaimana tidak? Meera datang dengan wajah penuh Air mata, dan bersimpuh di lantai seperti ini.
Celine tidak bisa menunduk, untuk membantu Meera, karena kondisi nya saat ini.
dia menatap William yang berada di sana
"kalian bicara saja, aku akan keluar" tutup pria itu, dan benar saja William benar-benar keluar dari sana.
Celine menatap tidak percaya, Kakak iparnya itu.
kemudian kembali mengalihkan perhatian nya pada Meera.
"Meera"panggil Celine, membuat wanita itu menatap nya.
sejenak Celine terkejut dengan lengan penuh luka milik Meera, saat wanita itu mengusap air matanya lengan panjang bajunya tersingkap, memperlihatkan luka nya yang mulai mengering.
"apa yang terjadi dengan lengan mu?" tanya Celine penuh tanya.
Meera menutup lengannya
"aku, baik-baik saja Nona"
Celine belum puas
"cerita kan semuanya!"