
Celine menatap putri kecilnya, setelah beberapa hari berada di ruang NiCU, karena bayinya lahir lebih awal dari waktunya, Dokter harus terus mengawasi bayi nya, sekarang dia bisa memeluk erat tubuh putri kecilnya.
betapa mungil bayinya ini, lihatlah karena terlalu mencintai Jeffry, wajah bayinya sama sekali tidak mirip dengannya, hanya mata yang menyerupai dirinya.
Celine mengusap pipi mulus sang bayi
"kau kecil sekali, apa ayah mu bisa menerima dirimu?....hm?"
klek!
Lila masuk kedalam ruang rawat Celine gadis periang itu juga membawa berbagai macam buah di tangan nya.
"wah! coba liat keponakan ini?, bukannya menyambut ku, dia malah asik tertidur lelap" Lila berkata seolah-olah dia sedang marah, jarinya menusuk lembut pipi bayi Celine.
"kau disini?, bagaimana dengan toko?" tanya Celine, dia merasa sangat berhutang Budi pada keluarga Lila, setelah membantu nya bersalin, Lila dan keluarganya juga menjaga nya setia hari.
"kenapa kau khawatir?, lebih baik kau pikirkan nama bayi cantik ini, cup...cup"
bayi di gendongan Celine merasa terusik karena gangguan dari Lila.
"benar juga, aku belum memikirkan namanya" Celine tersenyum menatap bayinya.
Lila menatap Celine dan bayinya bergantian..."jika di liat lebih teliti, bayi ini tidak mirip degan mu" Lila menunjuk Celine.
kemudian pandangan nya beralih kepada keponakan nya.
"jika tidak mirip dengan mu, pasti dia mirip ayahnya, lihatlah setampan apa suami mu itu?, sehingga kau bisa melahirkan bayi secantik ini" benar dia selalu takjub ketika melihat bayi milik Celine, selama ini Celine tidak pernah memberitahukan keberadaan suaminya sendiri.
dan Lila juga tidak ingin bertanya lebih jauh, tapi yang pasti suami Celine adalah orang yang jahat, bagaimana bisa seorang suami membiarkan sang istri berkeliaran tengah malam dengan kondisi hamil?.
Celine terlihat bingung ketika Lila menatap nya tanpa berkedip.
"berhenti berpikiran yang aneh, sekarang aku tau siapa nama bayi ku" ucapnya. membuat Lila tersadar dari lamunannya.
"siapa....?" tanyanya tidak sabar
Celine tersenyum senang, mengecup dahi bayinya, kemudian berucap "Lilyana Kate"
"Lily...?" Lila bergumam "tapi kenapa?" tanyanya heran.
"entahlah aku mendapat nama ini, saat melihat mu" Celine tersenyum
"Lily berarti kemurnian, aku memberikan nama ini, ketika aku mengingat kebaikan dirimu dan keluarga mu, yang dengan tulus membantu ku" lanjutnya lagi
Lila merasa tersentuh, ternyata pertolongan nya pada Celine sangat lah berarti untuk sahabat nya itu.
Lila mengusap Air matanya yang tiba-tiba saja mengalir, "kau berlebihan, kenapa berkata seolah-olah kami menyerahkan hidup kami hanya untuk membantu mu!" Lila menahan tangisnya
Celine tertawa melihat sahabatnya yang marah tapi sambil menangis.
"sudahlah..." Celine menenangkan Lila
dengan tiba-tiba saja, Lila menatap Celine dalam.
"Lilyana Kate?.... Kate? apa itu marga suami mu?" tanya Lila penasaran
Celine mendengus dia kira ada apa, ternyata masalah marga,
"iya....apa ada masalah?" tanyanya Heran
Lila berfikir sejenak
"marga itu terdengar asing dan tidak asing, di telinga ku" jawabannya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"entahlah.."gumam Celine, di tidak bisa mengatakan apapun mengenai Jeffry, sepertinya keluarga Kate memang memiliki pengaruh besar di dunia manusia.
.
.
.
.
setelah peperangan berakhir seluruh wilayah klan utama menjadi milik Jeffry Kate, begitu pun dengan rakyat dan penduduk di sekitar nya.
"sebaiknya kita tidak perlu menghancurkan istana, kita akan memperluas wilayah dari kerajaan utama sampai Mansion, sekarang tidak perlu sihir pelindung lagi, untuk menjadi pembatas" ucap Jeffry panjang lebar, saat ini dia dan William berada di wilayah perbatasan, mereka berdua memutuskan untuk mencabut sihir pelindung nya sendiri.
William mengangguk
"akhirnya, para penduduk kita, bisa melewati perbatasan tanpa harus meregang nyawa"
"hm... bagaimana dengan Rey?" tanyanya
"dia baik-baik saja, hanya butuh istirahat"
syukurlah semuanya baik-baik saja, sekarang dia hanya perlu memperbaiki kondisi kerajaan utama, dan juga kondisi rakyat yang terkena imbas akibat perang.
"sepertinya akan perlu waktu lebih panjang, untuk menjemput istri dan putri ku" gumam Jeffry, menatap kebawah sana dari atas tebing, dia bisa melihat beberapa warga sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Jeffry tidak bisa membawa Celine ke wilayah kota, karena kondisi yang tidak memungkinkan, sekarang istrinya akan bebas melakukan apapun tanpa harus merasa takut lagi.
"Celine.... tunggu aku"gumam Jeffry berharap, Celine mendengar nya di sana.
di dunia yang berbeda-beda tiba-tiba saja Celine merasa dadanya menghangat.
"tentu..." ucapnya tanpa sadar, Celine juga mengangguk dengan senyum lebar di bibirnya.
"kau mengatakan sesuatu?" Lim yang bertugas menjaga Celine, mendengar wanita itu bersuara.
Celine menggeleng
"baiklah"ucap Lim paham, mungkin dia salah dengar.
'ada apa dengan ku?' Celine memegang dadanya, kemudian tersenyum tanpa sadar.