Harem: The Vampires World

Harem: The Vampires World
Last fight



William berusaha semaksimal mungkin menyumbang kan kekuatan nya untuk menyembuhkan Jeffry, telapak tangan nya bahkan sudah hampir putus karena terbelah lebar, untuk mengeluarkan darahnya. tapi tetap saja itu tidak ada gunanya jika Jeffry tidak bisa mencerna darah miliknya.


"Jeff sadarlah!" William panik sekali, di sana, dia bisa melihat ayah kandung mereka menyiksa Rey dengan sangat keji.


William tidak bisa menahan air matanya yang mengalir begitu saja, jika dia tidak bisa menyelamatkan salah satu dari kedua adiknya, apa gunanya dia sebagai seorang kakak?.


"j-jeff, kumohon......hiks!, bangun lah setidaknya untuk.......hiks....... saudara mu"lirihnya, hampir saja William menyerah jika saja Jeffry tidak membuka matanya.


"Jeff!, syukurlah!"


"ngh....a-aku ha-haus...." Jeffry bergumam tidak jelas.


William mendudukkan Jeffry kemudian mengarahkan Jeffry untuk menggigit lehernya.


Jeffry menatap William


"k-kumohon, setidaknya aku berguna, walaupun tidak seberapa" sendunya, hanya gigitan saja tidak akan membuat nya mati.


"t-tapi--


"TIDAK ADA WAKTU LAGI!!, LAKUKAN JEFF!" William berteriak marah, jika terus mengulur waktu, Reynold akan habis di tangan ayah mereka.


crashh


"egkh..." desis nya


Jeffry menghisap darah kakak nya sebanyak mungkin, tubuhnya Pulih sedikit demi sedikit.


melepaskan Gigitannya, Jeffry menatap William bersalah, lihat lah keadaan kakak tertuanya yang terlihat pucat.


"jangan melihat ku seperti itu, kau harus mengakhiri semua ini Jeff" ucapnya bijak.


.


.


Rey memegangi perutnya yang menjadi objek tendangan ayahnya, seluruh tubuhnya terasa akan lepas jika ayahnya tidak berhenti menendang nya.


"sangat menyebalkan, hanya membunuh pria lemah seperti mu saja, Joan tidak bisa, CK...CK.." Raja Carsis meremehkan Rey.


sring!


mengeluarkan pedang dari pinggang nya, kemudian menodongkan senjata nya pada Rey yang terlihat lemah.


"kau hanya membuang waktu saja" ucapnya sambil mengacungkan pedang nya, Rey tidak bisa berbuat apapun lagi tubuhnya tidak bisa melawan, sepertinya organ dalamnya bergeser dari tempatnya, akibat tendangan ayahnya.


Raja Carsis mengangkat pedang nya, mengarahkannya ke arah Rey yang sudah pasrah.


"hyaat!"


Reynold menutup rapat-rapat kedua matanya.


Trang!


bunyi aduan pedang yang sangat keras membuat Rey kembali membuka matanya.


"Jeff?" Rey merasa bahagia, usahanya mengulur waktu ternyata tidak sia-sia.


"sialan kau Jeffry!" teriak Carsis murka kenapa sulit sekali untuk menghabisi nyawa salah satu dari mereka?.


"kak, bawa Rey pergi dari sini" ucapnya


William mengangguk kemudian membopong tubuh Rey untuk pergi menjauh dari sana.


Jeffry menyerang ayahnya menggunakan Mana nya, kali ini dia tidak ingin membuang tenaganya dengan menggunakan pedang.


cahaya hitam berbentuk lingkaran muncul saat Jeffry menggerakkan tangan nya, posisi tubuhnya bersiap sayap lebar nya mengepak kebelakang, sedangkan kedua tangan nya masing-masing memegang bola sihir berwarna hitam.


begitupula dengan Raja Carsis sihir berwarna merahnya membesar melebihi tubuhnya sendiri.


para prajurit yang masih berada di sana bergegas meninggalkan arena pertarungan, hanya sebagian yang memilih menetap di sana.


dalam hitungan detik awan yang berwarna putih pun perlahan berubah menjadi hitam seperti akan terjadi badai.


"kau akan mati di tangan ku Jeff!"


Jeffry menyeringai


"kita lihat saja, siapa yang akan mati di sini"


mereka mulai saling menyerang, dentuman besar dan angin kencang muncul karena kekuatan keduanya.


petir dan kilat saling menyambar, begitupun dengan Jeffry dan ayahnya.


kali ini Jeffry lah yang memimpin, kekuatan Jeffry kembali seperti semula seolah terlahir kembali, sedangkan tenaga dari Carsis melemah karena terlalu banyak menggunakan sihir.


tring!


masih mencoba bertahan dengan pedangnya, Raja Carsis mulai kewalahan menghadapi Serangan-serangan dari Jeffry yang beruntun, belum lagi duri beracun milik Jeffry menancap di tubuhnya.


"akh!"


Carsis tau jika Jeffry mengincar kakinya, tapi dia tidak siap menghindari nya, dan akibatnya kaki nya terasa kebas terkena racun.


sring!


Jeffry mengeluarkan pedangnya yang di selimuti oleh cahaya gelap.


kemudian mengayunkan nya ke arah sayap milik Carsis.


jleb!


"argggh!" sayap kiri nya terpotong


"ini untuk putra pertama ku"


krek....


"ARGH!..... hentikan!"


"dan itu untuk putra kedua ku!"


Jeffry terlihat puas, bagi para vampir sayap mereka adalah simbol dari kekuasaan mereka, bagaimana rasanya jika tidak memiliki sayap, Jeffry memberikan itu untuk ayahnya.


"kenapa!...argh...bukan aku yang membunuh anak mu!, hiks, kenapa kau melampiaskan semua ini pada....ku...?.....aku adalah ayahmu Jeff!"


Jeffry tertawa hambar, ternyata memang benar jika seseorang akan menjemput ajalnya, mereka baru akan menyesal.


Duk!


Jeffry bersimpuh berhadapan dengan ayahnya.


pria itu tersenyum lembut, untuk pertama kalinya sejak dia dewasa dia bisa berhadapan dengan ayahnya, tanpa merasa tertekan.


"ayah, kau tau?, kami tidak pernah membenci mu, walaupun kau bersikap kejam dengan mengasingkan kami, kami masih memiliki hati untuk menganggap mu adalah ayah kami, semua kejahatan mu, terlupakan karena kebaikan mu saat kami kecil dulu, kami sangat berterima kasih" Jeffry menangis dihadapan ayahnya.


begitupula dengan Carsis, betapa berdosa nya dia, melupakan putra-putra nya hanya karena perbedaan diantara mereka.


"hiks.... maafkan aku" Carsis menangis tersedu-sedu, semua orang memandang nya dengan pandangan berbeda-beda, William dan Rey pun tidak menampilkan ekspresi apapun, tapi mereka tau ayah mereka menyesali perbuatannya.


greep!


Jeffry memeluk ayahnya erat, begitu juga dengan Rey dan William yang ikut memeluk ayah mereka yang menangis hebat.


jleb!


"a-akh!"


belati perak tertancap tepat di jantung sang ayah.


William dan Rey terkejut, mereka melepaskan pelukannya, melihat Jeffry yang masih bertahan di pelukan sang ayah.


"maafkan aku......ayah" lirih Jeffry, wajah penuh dengan darah milik ayahnya, bercampur dengan air mata yang bercucuran deras.


sreet!


"ukh!" Jeffry mencabut belati perak miliknya dari tubuh ayahnya.


"t-tidak apa, m-maaf kan, a-ayah"


bruk!


begitulah akhir hidup dari Raja Carsis yang tewas di tangan putranya sendiri.


William, Rey dan Jeffry menatap mayat ayah mereka dengan Sendu, kemudian ketiga saudara itu membungkuk memberikan penghormatan terakhir untuk sang ayah.


"kau berhasil" William merangkul pundak Jeffry, dia tau perasaan adik bungsunya itu, diantara mereka semua yang paling banyak, menghabiskan waktu bersama sang ayah, adalah Jeffry.


"semua akan baik-baik saja"