
Malam masih panjang saat Celine berkeliaran di malam tersebut, Untung saja Celine melihat tanda di pohon besar tadi, sekarang dia yakin jika ia berada di tempat yang tepat, masalah nya sekarang dia harus mencari tempat tinggal baru.
kedua kakinya terasa kebas karena terlalu banyak berjalan, di tambah lagi Celine sedang hamil muda sekarang.
Celine merintih memegangi perutnya yang terasa keram.
"ssh, bertahan lah sayang, ibu akan menjagamu"ucapnya
wilayah perbatasan memang tidak banyak penduduk yang tinggal di sana, entah kenapa ayahnya memilih tempat terpencil seperti ini sebagai tempat tinggal.
kurang lebih setengah jam Celine berjalan keluar dari sana, kakinya berjalan melewati jalan raya yang sepi dan gelap, entah atau karena terbiasa Celine tidak merasa takut sama sekali pada kegelapan yang menyelimuti seluruh bumi sekarang.
senyum merekah Celine tercipta ketika matanya melihat jalan besar di depan sana.
"akhirnya"
Celine berlari kecil menuju jalan tersebut beberapa kendaraan roda empat melewati jalan yang lenggang, entah jam berapa sekarang yang pasti jalan terlihat sepi karena sudah malam.
beberapa toko kelontong 24 jam masih buka, supermarket di sekitarnya juga masih beroperasi dengan baik.
sungguh Celine merindukan saat-saat seperti ini, sudah 3 tahun lebih Celine berada di dunia vampir, dia begitu merindukan kota tempat kelahiran nya sekarang.
senyum nya menyurut seketika, dia tidak tau apa yang harus di lakukan sekarang dia tidak punya tempat tinggal maupun uang, apa yang harus dia lakukan sekarang, perut nya merasa lapar matanya juga terasa berat.
wanita hamil itu berjongkok di depan sebuah toko, kakinya pegal sekali.
"l-lapar..."
puk....
"Nona?"
Celine menoleh saat seseorang menepuk pundak nya.
"Lila!" serunya bersemangat
"Celine?"
kedua gadis itu berpelukan dengan sangat erat, apalagi Celine sudah lama tidak bertemu dengan teman nya ini.
"bagaimana kabarmu?" tanya Lila dengan bahagia
"aku baik-baik saja"balas Celine
mereka berdua pindah ke salah satu tempat duduk di dekat sana.
Celine sedikit heran, kenapa gadis di depannya ini tidak melupakan dirinya? bukankah Joan menghapus keberadaan seluruh keluarga nya dari semua orang.
"Lila, kau- tidak melupakan ku?" tanya Celine sedikit ragu.
Lila mengerutkan alisnya heran, apa-apaan sahabat nya ini?
plak!
"aduh" Celine mengelus lembut kepalanya yang baru saja di pukul oleh Lila.
"kita hanya tidak bertemu selama beberapa Minggu!, bagaimana bisa aku melupakan mu!" ucapnya dengan wajah yang penuh dengan emosi, apa gadis di hadapannya ini mengira dia sudah pikun?
Celine tersentak
Lila mengangguk
"tapi anehnya aku tidak ingat dari mana kau berasal, bahkan aku tidak ingat rumah mu" Lila berbicara dengan nada seolah-olah dia sedang berfikir.
Celine tidak menjawab, ternyata perkataan William tentang perbedaan waktu antara Dunia manusia dan vampir benarlah ada, tapi yang pasti Tuhan mengirimkan Lila padanya, untuk menolong dia.
"Lila!"
"hm"
"bolehkah kau membantuku?"
Lila menatap tajam Celine
plak!
pukulannya
"kenapa bertanya lagi? tentu saja aku akan membantu mu!"
Celine tersenyum senang, dia kembali memeluk erat tubuh sang sahabat dengan erat, mengucapkan terimakasih sebanyak mungkin untuk Lila.
.
.
.
.
.
sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di dunia yang berbeda, Jeffry terlihat sangat murka, beberapa pelayan dan prajurit di Mansion tidak ada yang berani bergerak dari tempat mereka berdiri.
bahkan Rey dan William tidak bisa berbuat apapun, kedua kakak beradik itu sibuk membereskan darah yang berceceran di pakaian mereka.
Yap! Jeffry dengan bringas nya menebas kepala seluruh penjaga yang menjaga sekitar Mansion, termasuk wilayah perbatasan.
"Nic! cari Celine sekarang!" titah William
"tidak perlu!" potong Jeffry "bersiap lah untuk berperang sesungguhnya!" lanjutnya lagi, aura gelap dari tubuh Jeffry sangat mendominasi.
"tapi Jeff!"
"LAKUKAN!!"
semua penjaga bersiap, Nic dan Rey mengumpulkan seluruh pasukan milik mereka dan juga dari makhluk lainnya.
"ini tidak benar jeff, belum tentu mereka yang menculik Celine!" William masih tidak mau kalah, dia tidak ingin menghancurkan jiwa Jeffry hanya karena seorang gadis biasa.
Jeffry menatap tajam wajah William, bola matanya berubah seketika, saat William berusaha menghentikan nya.
"ya atau tidak!, aku pasti akan menghancurkan istana utama!"
tap!
Jeffry menghilang dari hadapan William dengan kilat.