
Rumah sakit..
"Maafkan Al Dad, Al sudah durhaka tidak menuruti keinginan Dady dan Momy. Al anak yang tidak tahu diri, Dady melakukan semua ini pasti karena ingin membuat Al bahagia." ucap Alden dengan nada tulus.
"Kenapa Tuhan tidak membiarkan aku mati saja tadi.." ucap Ronald.
"Jangan berkata seperti itu, aku sangat peduli padamu Dad, aku akan membahagiakan mu dan juga Momy."
"Aku kan menikahi Anzela, sesuai permintaan mu." lanjut Alden kembali.
Felix dan Toni yang sedang berada di ruangan seketika terkejut mendengar ucapan dari Alden.
"Apa maksudmu Al?." tanya Sarah sambil mengernyitkan dahinya.
"Aku tidak main main dengan ucapanku, aku akan menikahi Anzela." jelasnya.
Mereka semua terdiam membisu.
Alden kemudian menggenggam tangan Ronald yang masih lemah.
"Dad, maafkan aku. Aku anak yang tidak berbakti dan belum bisa membahagiakan mu, kau memberiku segalanya, tapi aku belum bisa memberikan apa yang kau inginkan dari ku. Aku akan menikahi Anzela sesuai keinginan mu..." ucap Alden dengan tulus.
Ronal hanya menatap Alden tanpa menyahut nya.
"Apa kau serius dengan ucapanmu?." tanya Ronald dengan suara lemah.
"Aku serius..aku akan belajar menerima Anzela di hidupku, aku akan berusaha untuk mencintai nya."
Mendengar ucapan dari Alden, Ronald seketika membalas genggaman tangan Alden.
"Dad yakin, kau pasti bisa menerima Anzela di hidupmu..."
"Iyaa Dad.. sekarang lebih baik Dady istirahat, jangan dulu memikirkan sesuatu yang tidak terlalu penting."
"Terima kasih, kau adalah anak yang berbakti." ucap Ronald.
*****
"Apa kau serius dengan ucapanmu itu Al." ucap Sarah ketika dirinya baru saja sampai di mansion pribadi bersama Alden.
"Aku serius mom.." ucap Alden kemudian ia mendudukkan dirinya di sofa yang berada di tengah ruangan.
"Momy tidak percaya..."
"Kenapa tidak percaya? apa aku terlihat berbohong?."
"Mulutmu mengatakan iya, tapi matamu dan hatimu mengatakan tidak. Momy bisa melihat itu pada dirimu Al."
Alden terdiam beberapa detik.
"Euum... tidak, aku memang serius akan menikahi Anzela."
"Al..jangan berbohong!, Momy tahu kau tidak ingin menikah dengan Anzela. Kenapa kau memaksakan dirimu untuk menikahinya.."
"Aku ingin membuat Dady bahagia, aku tidak ingin kehilangan Dady.."
"Tapi Momy menginginkan mu bahagia Al."
"Al akan bahagia..suatu saat Al pasti akan bahagia. Momy jangan khawatir..." ucap Alden sambil menggenggam tangan Sarah.
Sarah hanya menetes kan air matanya kemudian ia memeluk Alden.
"Maafkan Momy tidak bisa berbuat apa apa padamu..."
"Tidak mom, Al bisa menjalani nya." sahut Alden sambil membalas pelukan dari ibunya.
*****
Keesokan harinya...
"Jadi kapan kalian berdua akan menentukan tanggal pernikahan nya?." tanya Fahri
"Kalau saya terserah Milea saja om, karena keinginan nya pasti yang terbaik." sahut Brian dengan senyuman sambil menatap Milleana yang sedang duduk di sebelah Rossa dan Yasmin.
Milleana pun membalas senyuman nya.
"Brian ingin kamu yang menentukan tanggal nya sayang.." ucap Yasmin sambil mengusap lembut rambut Milleana.
"Kalau Milea, terserah ayah saja."
"Loh, ko terserah ayah? yang nikah kan kamu." ucap Fahri.
"Haha.. kenapa jadi saling melempar begini, bagaimana jika 2 minggu lagi?." ucap Kamil.
"Apa itu tidak terlalu cepat om?." tanya Milleana.
"Ohh terlalu cepat kah?."
"Tidak pah, Brian setuju, acara pernikahan nya di mulai 2 minggu lagi." ucap Brian.
Mereka pun terdiam beberapa detik.
"Bagaimana?, om dan tanteu tidak keberatan kan jika Brian dan Milea menikah 2 minggu lagi?."
"Tentu saja tidak nak, tanteu setuju setuju saja." ucap Rossa
"Benar, lebih cepat lebih baik bukan?." ucap Fahri.
"Benar, berarti kita sudah fix pernikahan Brian dan Milea akan berlangsung 2 minggu lagi." ucap Kamil.
"Jadi, kamu harus mencari gaun pengantin dari sekarang sayang, tanteu punya kenalan teman tanteu pemilik boutique Starla, dan tanteu akan memilih gaun yang paling bagus dan mewah untukmu nanti." ucap Yasmin dengan nada senang.
"Ya sudah kalau begitu kita makan dulu, para maid sudah menyiapkan makanan nya." ucap Rossa
"Ohh apakah kita kesini hanya merepotkan saja, padahal tidak perlu sampai menyiapkan makanan segala. Kita tidak ingin merepotkan." ucap Yasmin
"Tidak apa apa, sebagai tanda suguhan untuk tamu istimewa. Tapi maaf kami hanya bisa memberikan ini saja." ucap Rossa.
"Jangan berkata seperti itu, kami yang harusnya berterima kasih telah di suguhi."
"Ya sudah mari kita ke ruang makan."
*****
Alden sedang memandang kota A di malam hari yang begitu indah, sayup sayup angin terasa dingin menyentuh kulit putihnya, namun ia tetap tegak berdiri di balkon apartemen nya.
Alden sedang memikirkan keputusan yang ia ambil untuk menikahi Anzela. Apakah ini jalan yang benar untukku? Apakah takdirku ini memang harus menikahi wanita seperti dirinya?.
FLASHBACK*
Saat Alden berada di hotel Lotus karena ada pertemuan dengan Mr Hassan pemilik hotel tersebut. Saat Alden dan Mr Hassan sedang berjalan melewati koridor hotel, ia melihat Anzela bersama seorang pria berwajah bule, Anzela sedang keadaan mabuk berat di tuntun oleh pria itu menuju kamar 207.
"Ohh baby... come on hurry up I can't take it anymore." ucap Anzela dengan berjalan sempoyongan.
"Be patient dear, we will do this long night." ucap pria bule itu sambil menahan pinggang Anzela dan mengaping jalannya.
Alden pun melihat itu merasa jijik di tambah mencium bau alkohol saat mereka berdua melewat.
"Maafkan atas ke tidak nyamanan anda melihat tamu hotel saya Presdir." ucap Mr Hassan.
"Tidak apa apa, ini bukan salahmu Mr."
"Semoga anda tidak bosan mengunjungi hotel Lotus ini."
"Tentu saja hotel ini sangat mewah, mana mungkin aku bosan mengunjungi nya." sahut Alden.
"Terima kasih atas pujian nya Presdir."
"Kalau begitu saya pamit pulang Mr, semoga kita bisa bertemu kembali di lain hari."
"Tentu saja Presdir, senang bisa bertemu denganmu."
Mereka pun berjabat tangan.
@Di parkiran Hotel Lotus...
"Hei sedang apa kau." tanya Alden saat melihat Toni sedang mengadahkan wajahnya.
"Ada sebuah tontonan gratis, lihatlah di balkon itu." ucap Toni dengan wajah masih mengadah.
Alden melihat Anzela sedang bercumbu dengan pria itu di luar balkon nya dengan pakaian nya yang sedikit lagi terlepas semua.
"Astaga!." ucap Alden sedikit terkejut.
"Seru kan?,"
'Bukankah itu putri tuan Cullen yang tadi melewat, kenapa dia seperti itu. Bagaimana jika ada yang memposting ke sosmed keadaan mereka berdua di hotel saat ini, benar benar gila.'
gumam Alden dalam hati.
"Ayolah kita pergi, kau sungguh tidak punya kerjaan menonton hal menjijikkan seperti itu." pekik Alden
"Apa? menjijikkan nya dari mana?, aku ini laki laki normal lihatlah junior ku berdiri sejak tadi." ucap Toni sambil menunjuk tangan nya ke daerah intim.
"Dasar bodoh!. Tahu rasa sudah mengeras begitu."
"Tapi kenapa tuan muda tidak bereaksi apa apa? apa kau bukan pria normal?."
"Kau berkata sekali lagi aku tendang junior mu!." pekik Alden
"Ishh jangan lah tuan muda nanti bagaimana jika aku tidak bisa berkembang biak dengan istriku nanti?."
"Itu urusanmu!. cepat kita pulang!. atau kau akanku tinggalkan di sini agar matamu kenyang menonton hal menjijikkan itu.!."
"Ya sudah kita pulang sekarang, lagian tontonan gratisnya udah masuk ke dalem tuh."
ucap Toni sambil melihat di atas balkon sudah tidak ada kedua insan yang sedang bercumbu lagi.
Saat Alden ingin membukakan pintu mobilnya, tiba tiba di tahan sama Toni.
"Ehh tunggu tuan muda!."
"Apa lagi?!."
"Apa tuan tidak keberatan jika tuan muda yang membawa mobil dulu. Karena junior ku masih belum tidur juga, aku tidak nyaman jika menyetirnya hehe." ucap Toni
"Dasar Babon!. aku cut gaji mu!." kemudian Alden pun masuk ke mobil di bagian kemudi.
"Yahh jangan di cut lah tuan muda, kan hanya malam ini saja."
"Cepat masuk!. atau kau akan ku tinggalkan disini!."
Toni pun segera berlari kecil untuk masuk ke mobil nya.
Dan mereka pun pergi meninggalkan hotel Lotus.
Bersambung.....
Salam hangat dari Author🤗🤗
Semoga karyaku bisa menghibur..🤗