
Hai Readers... semoga kalian sehat selalu ya, maaf jika author suka telat up nya, atau bikin kalian menunggu episode berikutnya lama banget ya, author sibuk banget akhir akhir ini karena author juga seorang pejuang rupiah guys😂, tapi author bakalan usahain buat menghibur para readers untuk melanjutkan cerita nya. Semoga aja para readers bisa memaklumi author ya, jangan bosen sama ceritanya. Semoga cerita novel ini bisa menghibur kegabutan kalian ya guys🤗 tapi author minta dukungan nya dari kalian biar author makin semangat nih ngelanjutin ceritanya🥰. Thanks ya buat para readers yang selalu setia menunggu cerita karyaku, semoga cerita nya tidak mengecewakan kalian🥰🥰
...****************...
MILEANA STEPHANIE
Alden yang kini sedang meeting bersama
colega dan para staf nya, sudah beberapa kali para staf bergantian untuk presentasi, tapi Alden tidak fokus mendengarkan atau lebih tepatnya kurang menanggapi presentasi tersebut. Karena dalam pikirannya saat ini adalah memikirkan kejadian semalam dan juga memikirkan wanita itu.
'Bagaimana keadaan wanita itu sekarang, kenapa aku terus saja memikirkan wanita itu, pasti dia sedang bersama suaminya.. Andai dia belum menikah, aku pasti akan tanggung jawab atas perbuatanku."
ucap Alden dalam hatinya.
"Tuan.." bisik Felix di sampingnya.
Namun Alden masih fokus melamun dan tidak menyaut.
"Tuan.." ucap Felix sambil menyentuh bagian lutut Alden.
Alden pun tersadar dari lamunan nya.
"Kenapa Lix?." ucap Alden
"Kau yang kenapa, apa ada yang bisa ku bantu?." bisik Felix
"Tidak." sahut Alden singkat, kemudian matanya langsung melihat ke arah depan yang sedang presentasi.
Felix yang melihat Alden merasa sangat aneh, karena belum pernah Alden tidak fokus atau melamun saat meeting.
...****************...
Brian membawakan semangkuk bubur untuk istri tercintanya.
"Sayang, makan dulu ya. Aku sengaja membuatkan bubur untukmu." ucap Brian kemudian duduk di tepi ranjang.
"Kita pulang ya.." ucap Mileana lemas.
"Kenapa?, kau tidak menikmati honey moon kita?." ucap Brian
"Bukan begitu..."
"Kenapa ingin pulang?, aku sengaja tidak menerima kerja sama dari Mr Alfres Robinson, kemarin, demi liburan berdua bersamamu." ucap Brian.
"Kau tidak mengerti, lihat keadaanku sekarang." ucap Mileana
"Aku mengerti dan aku tahu kau sedang tidak baik baik saja, tapi disini aku merawat kesembuhan mu agar honey moon kita berjalan sesuai ekspektasi kita."
"Maaf aku mengecewakanmu, aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu.." ucap Mileana dengan wajah murung.
"Tidak sayang, kau adalah istri dan perempuan terhebat di dunia ini, dan aku selalu mencintaimu." ucap Brian sambil mengusap pipi mulus Mileana.
"Aku juga sangat mencintamu Brian.." sahut Mileana.
Mata mereka pun saling bertemu, beberapa detik mereka saling memandang menatap kekaguman masing masing.
Cup!.
Brian menempelkan bibirnya di bibir ranum itu. Brian terus saja menciumi bibir mungil itu seakan bibir Mileana menjadi candu baginya. Mileana pun membalas ciuman yang di berikan Brian.
Perlahan tangan Brian mulai nakal, membuka baju kancing yang di pakai Mileana, dan Brian pun menciumi leher putih Mileana, yang menjadi suasana semakin panas.
"B-brian.." ucap Mileana sambil menghentikan aktivitas nya.
"Aku ingin sekarang sayang.." bisik Brian sambil menempelkan bibir di telinga Mileana untuk meminta lebih.
"T-tapi..." Mileana gemetaran.
"Aku akan pelan pelan sayang, janji..." bisik Brian menjilati telinga Mileana.
"Ahhh..." desah Mileana.
Brian perlahan membuka baju Mileana.
"Stop Brian!." pekik Mileana.
Brian pun menghentikan aktivitas nya.
"Kenapa?." tanya Brian.
Mileana pun langsung pergi berlari ke toilet.
Brak!
Brian pun hanya terdiam melihat Mileana yang lari masuk ke dalam toilet.
...****************...
Mileana terus saja bolak balik di dalam toilet. Ia pun mentap dirinya di depan cermin, dengan tangan dan kaki yang gemetar.
'Apa yang harus aku lakukan ya Allah, aku belum siap melakukan nya, ampuni aku, aku berdosa telah menolak melayani suamiku sendiri. Tapi aku benar benar belum siap ya Allah..'
batin Mileana sambil mengeluarkan air matanya.
10 menit Mileana berada di dalam toilet, setelah hati nya sudah merasa sedikit tenang Mileana pun keluar dari toilet.
Klekk..
Mileana mencari sosok Brian di kamar itu dan juga di area balkon, namun Mileana tidak menemukan Brian.
"Pergi kemana Brian, tumben dia tidak izin padaku.. dia pasti kecewa. Hahh!! aku harus bagaimanaa!..." ucap Mileana dengan nada kesal.
Mileana pun pergi untuk mengecek ponsel nya, tapi apa yang di harapkan Mileana tidak ada, Brian tidak menghubunginya atau memberikan pesan kepadanya.
...****************...
Siang pun berganti malam..
Alden yang berada di apartemen kamar nya, sedang mencari sosial media atas nama Milleana Stephanie. Namun di berbagai media sosial nama Milleana Stephanie sudah tidak ada. Brian memang sudah menutup akun Mileana semenjak mereka baru saja menikah, karena Brian tidak ingin Mileana di kenal lebih di dunia maya maupun dunia nyata, maka dari itu Brian memberhentikan Mileana untuk menjadi model atau membuat iklan di tv lagi.
Tok tok tok!.
Klekk..
seseorang langsung saja membuka kamar Alden.
Alden langsung tersentak menutup laptop itu dengan cepat karena tidak ingin seseorang mengetahuinya bahwa dia sedang mencari sosmed Mileana Stephanie.
"Permisi tuan muda, saya mendapatkan informasi penting." ucap Felix.
"Bisa kah kau tidak sembarangan masuk ke dalam kamarku!." kesal Alden.
"Tapi aku sudah mengetuk pintu kan?."
"Tapi aku belum mengizinkanmu untuk masuk ke kamarku!, tapi kau langsung saja masuk!" pekik Alden.
"Euumm...
Tapi aku mendengar suara ucapan "masuk" di dalam kamar ini tadi, makanya aku langsung masuk saja." ucap Felix sedikit berpikir, karena memang jelas jelas dia berbohong.
"Mata kau masuk!. bagaimana jika aku sedang berganti baju, mengganggu saja. Kau benar benar tidak tahu sopan santun." kesal Alden
"Maafkan saya tuan muda, saya mengakui salah." ucap Felix sedikit malas membungkukan badan nya sedikit.
"Informasi apa yang kau dapatkan?." tanya Alden.
"Hoaamm.... kenapa tiba tiba aku ngantuk sekali. Sepertinya besok saja aku infokan, selamat malam dan selamat beristirahat tuan." ucap Jonathan
Brakk!
Felix keluar dari kamar Alden.
"FELIIIIXXXXX!!!!!!!..." Teriak Alden kesal.
...****************...
"Hahahah.." Felix tertawa sepanjang jalannya.
"Kesambet apa kau, malem malem begini ketawa ketiwi ga jelas." ucap Toni yang sedang bermain game di ruang tv.
"Sebenarnya sih gue tuh ke kamar Alden mau ngasih informasi penting. Ehh dia malah maki maki gue katanya ganggu lah main nerobos masuk, biasanya juga dia kagak marah tuh kalo gue langsung masuk." jelas Felix
"Hahaha, mungkin mood nya aja lagi ga bagus jadi gitu maki maki ga jelas kaya emak emak." sahut Alden.
"Terus dia bilang dengan wajah polos, informasi apa yang kau dapat. Ogah bener gue ngasih tau, dia udah maki maki gue. Gue balik lagi aja deh." ucap Felix
"Bener bener biadab lu!."
Drrtttt..drtttttdrrrrrrtt..
Ponsel Toni berbunyi adanya telpon masuk.
"Ck males bener gue dari siang di telpon sama si mpok lampir." ucap Toni masih fokus bermain game di layar tv nya.
"Lahh sama gue dia di blokir, ternyata sekarang ke lu nelpon nya hahaha." ledek Felix.
"Gue blokir juga lah biar ga nelponin terus." ucap Toni.
"Sini ponsel nya, biar gue angkat."
Toni pun memberikan ponselnya.
Klik.
"Halo nona."
"Toni, kenapa telponku tidak pernah kau jawab ha? awas aja ya setelah kau pulang aku akan memberikan pelajaran untukmu dan juga untuk Felix."
"Maaf nona kami baru saja beres dari kantor, dan ini saya Felix Jonathan, karena Toni sudah tidur. Dan saya juga akan tidur." ucap Felix
"Kau pikir aku menelpon Toni untuk menanyakan Toni?, aku tidak peduli!. Aku ingin menanyakan kabar Alden dia tidak pernah menghubungiku selama berada di Bali!."
"Tuan Alden sudah tidur juga nona, tuan juga sangat sibuk disini makanya tidak sempat mengabari."
"Tunggu, kenapa kau memblokir nomor ku Fel?."
"Eumm, itu... saya ganti nomor nona ,bukan di blokir hehe." ucap Felix sedikit terbata bata.
"Kau pikir aku bodoh?, lihat aja jika kalian berdua pulang, aku akan memberikan balasan untuk kalian!."
"Kami akan melihatnya nona, maaf saya harus beristirahat selamat malam."
"Tungg..."
Tut tut tut!
Jonathan mematikan telponnya.
"Ribet ya." ucap Toni
"Banget!." sahut Felix kemudian pergi meninggalkan Toni.
"Ton, mau ikut ga?." teriak Felix di atas anak tangga
"Kemana?." tanya Toni
"Berak!." ucap Felix kembali melanjutkan jalannya
"Pala kau ikut!." teriak Toni.
.
.
.
***Bersambung...
Jangan lupa like komen dan vote ya para readersku🥰***