Entered The Wrong Room

Entered The Wrong Room
Bab 38 Di Rumah sakit



...ENTERED THE WRONG ROOM...


...♥♥♥♥♥...


HAPPY READING CEKIDOT!!!🤗


.


.


.


...****************...


Pagi itu Mileana dan Brian sudah siap siap untuk pergi ke rumah sakit.


"Kak, nanti Fely nyusul ya ke rumah sakit. Soalnya tugas kuliah Feli belum selesai."


ucap Felicya yang baru saja datang menghampiri Mileana dan Brian.


Saat Brian mengetahui kecelakaan itu, Brian langsung memarahi Felicya. Ya, walaupun Brian sangat kesal dan marah tapi dia tidak sampai memberitahukan masalah itu pada orang tuanya.


"Baiklah, kakak tunggu ya." sahut Brian.


Brian dan Mileana pun mencari keberadaan Yasmin, untuk berpamitan.


"Mih, aku sama Mileana mau keluar dulu ya ada urusan." ucap Brian pada Yasmin.


"Baiklah hati hati di jalan ya nak,."


"Iyaa mih... kita jalan dulu ya." ucap Mileana sambil mencium tangan Yasmin.


"Iyaa sayang.." sahut Yasmin mengusap bahu Mileana.


Brian dan Mileana pun pergi menuju rumah sakit dengan mobil sport nya tanpa adanya supir.


.


.


...****************...


Perusahaan Starlight Company.


Alden dan Efron sedang bercengkrama di sofa yang ada di dalam ruangan CEO.


"Aku akan percayakan perusahaan ini padamu." ucap Alden menatap Efron.


"Maksudnya kak?." tanya Efron belum paham.


"Kau urus perusahaan ini di sini, kelola dengan baik dan benar, aku akan mengurus cabang perusahaan di negara X." ucap Alden.


"Benarkah?."


"Aku sudah survey beberapa tahun ke belakang untuk membuka cabang di negara X, dan sepertinya ide ku sangat genius, perusahaan disana merintis sedikit demi sedikit, dan aku akan membuat perusahaan disana semakin maju."


"Jadi, apakah kau akan tinggal disana juga?."


"Ya, mungkin aku akan menjadi warga negara disana, jika aku betah disana."


"Lalu apakah dady dan momy tau soal ini kak?" tanya Efron


"Dady dan momy sudah mengetahuinya sejak bulan lalu, dan mereka menyetujuinya."


"Aku hanya mendukung keputusanmu saja, aku juga disini pasti memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini." ucap Efron.


"Aku tidak akan pergi ke negara X sebelum kau punya sekretaris dan asisten pribadi."


"Ohh untuk itu biar aku saja yang memikirkan nya kak, kau juga pasti tau kalau aku sulit dekat dengan orang baru."


"Buang sifat mu yang jelek itu, apa perlu Felix jadi sekretarismu biar aku mencari sekretaris yang baru."


"Tidak usah kak, lagi pula susah mencari sekretaris seperti Felix yang sangat cekatan, apalagi dia sudah sangat dekat denganmu. Aku akan mencarinya sendiri, terima kasih kak."


"Aku akan suruh Gio untuk mencarikan sekretaris handal untukmu, karena minggu depan aku harus berangkat ke negara X."


"Baiklah kak, apa kau akan membawa Anzela ke negara itu?." tanya Efron


"Mau bagaimana lagi, dia pasti aku bawa kesana ,meskipun sebenarnya aku tidak ingin dia mengikutiku."


"Baiklah kak." sahut Efron mengangguk.


.


.


...****************...


Mileana dan Brian baru saja menginjakan kedua kaki nya di rumah sakit.


Kini sepasang suami istri itu sedang berjalan melewati koridor rumah sakit untuk menuju ke ruangan tempat Valdo berada.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di ruangan Anggrek, Mileana melihat sosok perempuan yang sedang duduk di kursi ruang tunggu sambil menundukan kepalanya.


"Itu ibunya anak itu sayang." ucap Mileana pada Brian.


Brian pun melihat ke arah wanita itu yang masih menundukan kepalanya. Lalu Brian menganggukan kepalanya.


"Ayo.." Mileana menarik tangan Brian untuk menghampiri Meisya disana.


Brian pun hanya pasrah mengikuti kemauan Mielana saja.


Namun tiba tiba saja suara ponsel Brian berbunyi.


"Tunggu sayang, aku angkat telepon dari David dulu ya, kamu duluan saja nanti aku nyusul setelah selesai telepon."


ucap Brian mengehentikan langkahnya sambil memegang ponsel di tangan kiri nya.


"Okay, aku tunggu disana ya sayang." jawab Mileana.


"Iyaa sayang.." sahut Brian tersenyum.


Brian pun pergi beberapa jarak untuk mengangkat telepon yang masuk.


"Hallo Mey.." ucap Mileana menghampiri Meisya.


Meisya reflek mengangkat wajahnya, mencari sumber bersuara lembut itu.


"Hai, kau sejak kapan datang?." tanya Meisya.


"Aku baru saja sampai."


"Oh ya?, kemana adikmu yang yang cerewet itu, dia ga ikut kesini?." tanya Meisya.


"Oh haha, dia sedang mengerjakan tugas kampus nya."


"Ohh begitu, baguslah dia tidak ikut aku pusing mendengar celoteh nya haha."


"Haha maafkan adikku.."


"Aku hanya bercanda saja kenapa kau serius sekali haha."


Mileana dan Meisya pun tertawa ringan.


"Kau datang sendiri kesini?." tanya Meisya.


"Tidak, aku datang bersama suamiku."


"Oh ya, dimana suami mu?." tanya Meisya sambil mencari sosok pria di sekitar nya.


"Dia sedang nelepon, aku ingin berbicara padamu."


"Suamiku akan mendonorkan darahnya untuk putramu, apakah kau tidak keberatan untuk itu?."


"Puji syukur, aku sangat bahagia mendengarnya, masih ada orang baik yang ingin menolong putraku."


"Alhamdulillah kalau begitu aku senang mendengarnya, dan rencana nya suamiku datang kesini untuk mentransfusi darahnya dengan hari ini juga." Jelas Mileana.


Meisya pun terdiam beberapa detik.


"Aku sangat berterima kasih kepadamu, dan kepada suamimu telah membantu putraku." ucap Meisya sambil memegang tangan Mileana.


"Jangan begitu, lagipula ini salahku juga. Dan aku berhak untuk bertanggung jawab."


"Aku sangat terharu, dan aku bahagia bisa mengenalmu."


Meisya kemudian memeluk Mileana.


"Iyaa sama sama.." Mileana mengusap punggung Meisya.


"Sayang.." suara bariton itu memanggil Mileana.


"Oh iya sayang sini.." Mileana melepaskan pelukan Meisya.


Brian pun menghampiri Mileana.


Namun disitu Meisya masih sibuk mengusap air matanya dengan jari jarinya .


"Mey, kenalin ini suamiku."


"Ah iya,.."


Meisya pun mengangkat wajahnya lalu berdiri berniat untuk memberikan salam pada laki laki yang di sebut suami Mileana itu.


"Hallo tuan, saya Mey..."


Meisya tidak melanjutkan ucapan nya lagi.


Dia langsung berubah ekspresi menjadi datar sekaligus terkaget melihat apa yang ada di hadapan nya.


Begitu juga Brian, dia sangat panik melihat Meisya berada di depan nya dan di dekat istrinya.


"Kamu?!." ucap Meisya penuh dengan tekanan.


Mileana yang melihat itu sangat kebingungan.


"Kamu kenal dengan suamiku?." tanya Mileana.


Meisya memalingkan wajahnya lalu menatap tajam ke arah Mileana.


Mileana melihat Meisya begitu sangat aneh, dan ini bukan lah Meisya yang Mileana kenal kemarin. Meisya yang kemarin tatapan nya redup kini berubah menjadi tatapan tajam setajam silet.


"Jadi ini suami kamu?." ucap Meisya dengan nada di tekan.


"Iya, kenapa memangnya?." tanya Mileana masih bingung.


Namun Meisya menunjukan wajah marah sekaligus sedih.


"Kamu kenapa Mey?.' tanya Mileana, tapi Meisya tidak menjawab nya.


"Brian, apa kamu kenal dengan Meisya?." tanya Mileana.


Brian pun terdiam beberapa detik mencoba ingin tersadar dari mimpi buruk ini.


"Tidak, aku tidak mengenalinya." jawab Brian dengan datar.


"Bohong!!!." Pekik Meisya.


Mileana dan Brian pun terkaget mendengar suara Meisya.


"Dia pembohong!!." pekik Meisya dengan air mata yang kini telah menetes di pelupuk matanya.


"A-apa maksudmu Mey, suamiku pembohong?." tanya Mileana dengan wajah penuh dengan tanda tanya.


Meisya menatap tajam ke arah Brian yang masih terdiam mematung di situ.


"Kita pergi saja dari sini." ucap Brian sambil menarik lengan Mileana.


"Ada apa Brian, kenapa kamu malah ajak aku pergi dari sini? kamu kenal sama Meisya?."


ucap Mileana dengan wajah sedikit kesal kepada Brian.


"Aku tidak kenal." singkatnya datar.


Meisya terus saja mengeluarkan air matanya dengan tatapan masih terkunci menatap Brian.


"Aku sangat membencimu!!." pekik Meisya sambil menunjuk Brian dengan jari telunjuknya.


Mileana masih tidak mengerti apa maksudnya dengan semua ini.


"Ayo sayang kita pulang saja dari sini." ajak Brian.


"Tapi kenapa kita harus pergi?, bukan kah kamu mau mentransfusi darah untuk anak itu?."


"Kita pergi dari sini sekarang." ucap Brian dengan suara sedikit di tegaskan.


Mileana menatap Brian.


"Dia adalah laki laki penjahat!, dia adalah laki laki yang tidak punya hati!, dia tidak perduli kepada anaknya sendiri!. Aku sangat membencinya!!!." pekik Meisya menjadi jadi.


Wajah Brian berubah menjadi pucat setelah mendengar perkataan Meisya di depan istrinya.


"Apa?." tanya Mileana mengerutkan keningnya.


"Dia stress sayang kita pergi saja dari sini, ayo."


Brian mengenggam tangan Mileana untuk pergi.


"Aku tidak stress sama sekali!,." Ucap Meisya.


Brian menatap Meisya dengan wajah panik dan pucat.


"Kenapa? kau takut Brian?, kau takut aku mengatakan semuanya pada istrimu? hahaha.."


Meisya tertawa bercampur air mata.


"Kau kenal dengan suamiku?." tanya Mileana


"Tentu saja aku kenal, bahkan sangat mengenalinya.." sahut Meisya.


Brian hanya terdiam melihat tingkah Meisya di depan istrinya.


Brian mencoba membuang kepanikan wajahnya agar wajahnya terlihat kalem.


"Jangan bertele tele, aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu Mey." ucap Mileana


"Brian, apakah kau masih tidak akan jujur kepada istri tercintamu ini?." tanya Meisya dengan wajah licik.


Namun Brian terdiam dengan gaya cool nya.


'Apa maksud si Meisya ini, apa dia benar benar akan membongkar rahasiaku dengan nya, apa sekarang rahasiaku akan terbongkar, oh my god aku belum sanggup dengan semuanya.'


Gerutu Brian dalam hatinya.



Bersambung...


Hapoy readongg😘😘