
...ENTERED THE WRONG ROOM...
.
.
.
Happy Reading... βΆοΈβΈ
...****************...
PLAK!!
Mileana melayangkan tamparan tepat di pipi Alden dengan segala emosi yang memuncak.
"Meskipun ini adalah benihmu, tapi kau tidak berhak memintaku untuk mengugurkan kandunganku ini! Aku tidak meminta pertanggung jawaban darimu!." pekik Mileana dengan mata menatap tajam Alden.
Alden mengusap ujung bibirnya yang kini mulai memanas akibat tamparan dari Mileana.
"Walaupun kau tidak meminta pertanggung jawaban dariku, tapi aku berhak mengugurkan kandunganmu itu karena itu benihku!. Aku tidak ingin benihku terlahir tanpa seorang ayah!." ucap Alden.
"Sampai kapan pun aku tidak akan mengugurkan kandunganku!, aku bisa mengurus anakku sendiri dan aku tidak akan mengenali dia siapa ayahnya!." tegas Mileana.
"Aku tidak ingin anakku nanti tidak merasakan kekayaan ku ini. Benihku bukan sembarang benih biasa, dia masih ada turunan darah biru dariku." ucap Alden dengan arogan.
"Tidak!, aku tidak akan mengugurkan kandunganku, aku akan merawatnya!," pekik Mileana menggelengkan kepalanya kini cairan bening dari pelupuk matanya menetes.
"Sebentar lagi kau akan melakuakan aborsi, bersiaplah." ucap Alden sambil menatap arloji mewah di tangan kirinya.
"Tidak!, aku tidak ingin di aborsi!, kalian tidak berhak seperti ini!."
Mileana beranjak dari duduknya untuk pergi dari ruangan privat itu.
Namun Alden segera mencegahnya.
"Tunggu!." ucap Alden dengan suara tegas.
Namun Mileana terus berlari menuju pintu keluar dengan wajah yang penuh dengan kepanikan.
Karena lumayan cukup jauh untuk menuju ke pintu keluar dari ruangan privat
Saat Mileana berlari di tengah jalan ia terpeleset karena memakai sepatu hak yang licin hingga dirinya terjatuh ke lantai.
"Aaakh..."
Brukk!!
Mileana terjatuh dengan sangat keras.
Alden dan Toni seketika membulatkan matanya.
"Nona.." pekik Toni terkaget
"Aaaghh.. Perutku sakit." rintih Mileana sambil memegangi perutnya.
Cairan darah kini mengalir menelusuri betis yang mulus nya itu.
"B-bayiku.. Darah?.." Mileana syok saat melihat darah kini keluar menelusuri betis nya, ia kemudian langsung tidak sadarkan diri.
Alden langsung berlari menghampiri Mileana yang kini tergeletak tak sadarkan diri dengan wajah yang panik.
Alden langsung membopong Mileana keluar.
"Kita pergi kerumah sakit." pekik Alden.
Para ajudan Alden langsung mengikuti perintah.
.
.
...****************...
π’π’π’
"Aduh kemana sih Alden sudah pukul 18.00 belum saja datang." ucap Anzela dengan wajah kesal.
"Felix kau telepon Alden dimana sekarang." tanya Anzela setelah keluar dari ruangan Alden.
"Sepertinya tuan sedang sibuk, dia tidak mengangkat telepon dariku dan membalas pesanku sejak tadi." jawab Felix sambil bekerja membereskan dokumen dengan tersusun.
"Apa kau sudah telepon Toni?." tanya Anzela melipatkan tangan nya.
"Ck!, kenapa bukan kau saja yang telepon Toni, aku sedang bekerja." sahut Felix kesal.
"Tapi kau tau kan, Alden dan Toni itu selalu membiarkan aku jika aku menelpon atau memberikan pesan."
"Lebih baik kau pulang saja lah nona,." ucap Felix dengan datar.
"What?, kau mengusirku Felix? Kurang ajar!." pekik Anzela.
"Aku tidak mengusir, dari pada kau menunggu presdir disini tanpa kepastian takutnya jenuh kan." ujar Felix sambil menata dokumen dokumen.
"Huftt!, aku akan menunggunya disini sampe Alden datang!." ucap Anzela kembali masuk ke ruangan Alden.
Brak! (suara pintu tertutup)
"Terserahlah bodo amat hih." ketus Felix memutarkan matanya.
.
.
...****************...
Rumah sakit Elit π₯π₯π₯
Alden menatap layar USG dan melihat janin yang masih kecil seukuran buah stowberi.
Ada debaran hati dan jiwa setelah Alden menatap layar USG itu dengan penuh arti.
Hatinya begitu sangat senang dan tenang ketika melihat janjin yang masih kecil itu.
Alden tersenyum haru, ternyata calon anaknya sekuat itu.
Alden menatap Mileana yang masih belum sadar kan diri.
'Apakah ini jawaban dari Tuhan, bahwa aku tidak boleh membunuh bayi yang tidak berdosa ini apalagi ini adalah darah dagingku sendiri, mengapa aku tega bahwa aku akan melenyapkan nya.' batin Alden dalam hatinya.
"Anakku..." gumam Alden dengan menahan air matanya, kemudian tersenyum.
Toni tersenyum menatap layar USG setelah ia mengetahui yang sebenarnya dari Alden.
"Tuan, apa yang anda lakukan setelah ini?." tanya Toni.
"Aku tidak akan mengugurkan bayi itu, bagaimanapun dia anakku, darah dagingku. Dia sangat kuat Toni.." gumam Alden masih menatap layar USG
"Benar, anak itu sangatlah hebat." ucap Toni tersenyum.
.
.
...****************...
π₯π₯π₯
Beberapa jam kemudian...
Alden masih stand by menunggu Mileana tersadar di sofa yang berada di ruangan.
"Permisi tuan, Felix memberiku pesan bahwa nona Anzela sedang berada di kantormu sejak pukul 5 sore." ucap Toni.
"Biarkan saja, untuk apa dia datang kantorku." ucap Alden dengan nada malas.
"Saya tidak tau tuan." sahut Toni.
Alden menyimpan foto USG yang dokter print tadi ke dalam dompetnya.
"Tuan sekarang sudah pukul 7 malam, apa kau tidak beristirahat apalagi keberangkatan ke negara X pukul 03.15 malam." ucap Toni.
"Aku ingin berbicara penting padanya malam ini." ucap Alden menatap Mileana yang belum tersadar.
"Baiklah, aku akan menemanimu disini." ucap Toni.
...****************...
π’π’π’
"Nona apa anda masih ingin diam di sini?." tanya Felix setelah baru selesai mengerjakan proposal.
"Sudah pukul 8 malam tapi Alden tidak datang ke kantor, sebenarnya dia kemana Felix?." pekik Anzela dengan kesal setelah melihat jam tangan nya.
"Saya tidak tau nona, presdir mengatakan bahwa dia ada urusan di luar, itu saja." jawab Felix.
Anzela menghela nafasnya dengan kesal.
"Kira kira jam berapa Alden sampai ke kantor?." tanya Anzela.
"Saya tidak tau karena saya bukan peramal." singkat Felix dengan nada jutek.
"Ishh!.." kesal Anzela kemudian kembali masuk ke ruangan Alden
Brak!. (suara pintu tertutup)
Felix pun memutar matanya ke arah lain.
.
.
...****************...
π₯π₯π₯
1 jam kemudian Mileana sudah tersadar dari pingsan nya.
Ia baru saja menyelesaikan makan malam nya. Ia juga sangat senang bahwa calon bayinya selamat dan tidak ada keparahan lainnya.
Kini Mileana sedang berada di ruangan bersama Alden dan Toni.
"Aku ingin berbicara sesuatu padamu." ucap Alden pada Mileana.
"Katakan saja." jutek Mileana.
"Maafkan aku telah berniat akan menggugurkan kandungan mu, aku berpikir anak itu tidak berdosa, apalagi Tuhan memberikan keajaiban untuk anak itu masih hidup padahal kau sudah pendarahan." ucap Alden.
Mileana masih terdiam membisu.
"Aku akan bertanggung jawab, atas semua perbuatanku padamu. Aku juga akan tanggung jawab dengan biaya anak itu, aku tidak akan lari."
"Tenang saja, aku akan merawatnya dengan baik." sahut Mileana.
"Menikahlah denganku." ucap Alden dengan nada wajah serius.
Mileana langsung menoleh ke arah Alden dengan wajah tak percaya.
Bersambung...