
...ENTERED THE WRONG ROOM...
.
.
.
...****************...
๐น๐น๐น
Mileana berjalan dengan langkah menggontai menelurusi trotoar jalanan di sebuah kota dengan segara pikiran yang berkecamuk di kepalanya.
Ia masih saja tidak percaya atas kematian ibunya yang sangat cepat.
Ia sudah tidak punya siapa siapa lagi disini, hanya bayi yang ia kandung sekarang yang Mileana punya.
Saat melewati sebuah jalanan Mileana menyebrang tanpa melirik lirik ke arah sekitarnya.
Tiiiiiiiiiittttttttttt!!!!
Suara kelakson mobil itu menyadarkan Mileana dari lamunan nya.
Ia sudah pasrah untuk mengakhiri hidupnya.
Mileana menutup matanya.
Mobil mewah itu menabrak sedikit bagian lutut Mileana sehingga Mileana terjatuh ke aspal.
"Ahhkk." rintihnya.
"Astaga!," pekik Efron membulatkan matanya saat ia menabrak seorang wanita.
Efron langsung keluar dari mobilnya menghampiri wanita yang ia tabrak.
"Maaf nona... Apa anda baik baik saja?." tanya Efron sembari berjongkok melihat keadaan nya.
Mileana pun melirik ke arah sumber suara bariton itu.
Mereka saling menatap kuat.
"Tidak apa apa." ucapnya membuyarkan tatapan nya, sembari mencoba bangkit.
"Tapi lutut anda berdarah, apa perlu kita pergi ke rumah sakit?." tanya Efron.
"Ini hanya luka kecil, nanti juga sembuh sendiri." sahutnya.
Efron pun kembali menatap Mileana beberapa detik.
"Baiklah mari saya bantu nona." ucap Efron membantu Mileana bangun dari jatuhnya.
"Terima kasih." sahut Mileana.
"Di mobilku ada P3k, izinkan aku untuk membersihkan lukamu." ucap Efron dengan wajah yang tulus.
Mileana pun menganggukan kepalanya.
Efron pun mengambil kotak P3k di dalam mobilnya.
"Bagaimana kalau anda duduk di kursi taman yang ada disitu?." tanya Efron sembari menunjukan kursi taman yang hanya beberapa jarak di dekatnya.
"Baiklah.." sahut Mileana.
Efron pun membantu Mileana untuk berjalan.
"Aku bisa sendiri kok."
"Baiklah.." ucap Efron tersenyum.
Mileana pun akhirnya terduduk di kursi taman itu.
Kemudian Efron membukakan sebuah kotak P3K.
"Maaf nona, izinkan saya untuk mengobati lukamu."
Mileana pun menganggukan kepalanya.
Efron berjongkok di depan Mileana dengan telaten mengobati luka lutut Mileana sembari meniup niupnya.
"Kakinya begitu sangat mulus, sayang sekali jika ada lecet sedikit di kakinya." ketus Efron dalam hatinya.
"Sudah selesai.." ucap Efron sambil membereskan alat P3K nya.
"Terima kasih banyak." sahut Mileana tersenyum.
"Sama sama." sahut Efron tersenyum menatap Mileana.
"Oh iya nona mau kemana?."
"Saya ingin ke apartemen housky." sahutnya
"Bolehkah saya mengantarkanmu?." tanya Efron menawarkan.
"Tidak perlu aku bisa memesan taksi."
"Sebagai gantinya aku telah melecetkan kakimu, aku akan mengantarkanmu, please."
"Tidak, aku takut merepotkanmu." sahut Mileana.
"Aku tidak kerepotan, lagi pula aku menawarkanmu."
Mileana pun terdiam menatap Efron.
Walaupun mata Mileana sembab dan sayu, tetapi pancaran bola matanya mampu mendebarkan jiwa.
"Baiklah.." sahut Mileana menundukan wajahnya.
Efron pun tersenyum.
Mileana dan Efron pun berjalan menuju mobil.
"Silahkan nona.." Efron membukakan pintu mobil untuk Mileana.
"Terima kasih." Mileana pun masuk ke dalam mobil.
Efron pun kembali menutup pintu mobilnya.
"Cantik sekali..." gumam Efron dalam hatinya sambil tersenyum.
Kemudian tak lama ia pun masuk ke dalam mobilnya.
...****************...
Sesampai di Apartemen Housky.
"Terima kasih sudah mengantarkanku." ucap Mileana dengan senyuman.
"Sama sama nona, emm... Maafkan aku sudah membuatmu terluka."
"Tidak masalah juga bagiku."
"Oh ya apa kamu tinggal di apartemen ini?" tanya Efron sembari melihat gedung apartemen.
"Emm.. i-iyaa." sahut Mileana berbohong.
"Baiklah.." sahut nya.
"Kalau begitu, aku pulang." pamit Mileana.
"Tunggu."
Mileana pun membalikan badan nya.
"Iya?."
"Namaku Efron." ucap nya sembari mengulurkan tangan nya.
Mileana pun ragu ragu menerima tangan itu.
"Apa dia tidak mengenaliku?, padahal orang orang kan selalu mengenaliku." batin Mileana.
"Leana." ucapnya sambil menerima tangan Efron.
"Leana?, nama yang indah seindah orangnya." ucap Efron memuji.
"Terima kasih banyak."
Mileana pun pergi menuju apartemen Merry.
Mileana ingin segera berkeluh kesah kepada Merry sahabatnya tentang apa yang menimpa dirinya sekarang.
.
.
...****************...
Apartemen housky.
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya nyonya Rossa.." ucap Merry sambil menenangkan Mileana yang tengah menangis.
"Hiks...hidupku hancur sekarang!, aku sudah tidak berguna untuk hidup juga Merry.."
"Jangan berkata seperti itu Miss, kau harus kuat dan tabah menjalani semua ini."
"Aku ingin mati rasanya! Aku sudah tidak punya siapa siapa!, semua yang aku sayang meninggalkanku."
"Jangah berkata seperti itu Miss, kau masih punya aku dan calon bayimu."
"Hiks...ini semua gara gara bayi ini! gara gara bayi ini aku hancur, semua meninggalkan ku!!." Mileana histeris memukul perutnya.
"Miss hentikan jangan seperti ini, kau bisa membunuh calon bayimu." Merry mencoba menenangkan Mileana yang terus memukul bagian perutnya.
"Biarkan saja bayi ini mati!, bayi ini musibah bagiku! Aku benci dengan semua ini!!.hiks.."
"Istigfar Miss, anak itu tidak punya salah, dia juga korban kau harus iklas menerima semua ini.." Merry kini memeluk Mileana.
"Aku tidak tau harus berbuat apa Merry hiks..."
"Kau harus menemui ayah dari anak yang kau kandung Miss, itu salah satu tujuan hidupmu." ucap Merry mengeluarkan air matanya.
"Tidak aku tidak bisa.."
"Aku akan membantumu Miss, kau harus menemui laki laki itu, dia harus tanggung jawab atas perbuatan nya."
Mileana pun menangis tersedu sedu.
"Kau harus kuat Miss kau perempuan hebat.."
Bersambung....
๐น๐น๐น๐น